SEJARAH MESJID AL-INAYAH-1

DINAMIKA SHALAT TARAWEH DI BELINYU

Setelah kejadian G30S PKI th 65, kegiatan masyarakat beribadah syariat meningkat. Selain kenaikan skala keimanan, juga untuk memberi identitas perlindungan diri, bahwa golongan beragama bukanlah golongan komunis.

Meningkatnya kuantitas dan plurarisme masyarakat beribadah dan penduduk kota Belinyu yang kian banyak. Ditambah lagi perkembangan karyawan PT.Timah kian meningkat, maka terasa rumah ibadah umat Islam di kota Belinyu terasa kurang pada saat itu, kecuali Mesjid Jami Kampung Tengah.

Pada saat itu mesjid-mesjid yang ada di Belinyu, adalah mesjid yang dibangun dari basis Islam dan otoritas pengelolaan yang tradisional. Umat tidak punya pilihan lain. Padahal khilafiah Islam memungkinkan keberagaman pemahaman. Shalat taraweh yang sejatinya boleh dilakukan 8 rakaat dan 3 witir (11 rakaat), adalah hal tabu pada saat itu, semua mesjid di Belinyu Taraweh dengan 18 rakaat dan 3 witir alias 21 rakaat.

Kenyataan ini membuat Bpk.Ir. Harsono, Kawilasi Belinyu pada saat itu, berniat mengadakan sebuah tempat ibadah untuk shalat Taraweh, yang di khususkan untuk memfasilitasi karyawan Timah yang mau shalat Taraweh 11 rakaat. Hal lain yang mendominasi adalah dengan berkumpulnya Karyawan Timah, dapat meningkatkan rasa persaudaraan antara atasan dan bawahan bagi para karyawan. Hal ini merupakan bagian dari elemen Manajemen Perusahaan yang harus dipelihara, dan menjadi tanggung jawab Bpk.Harsono sebagai orang nomor satu di Wilasi Belinyu.

Tahun 1969, Bpk.Harsono bersama jajarannya mulailah mengadakanlah taraweh 11 rakaat di Mess Timah II (samping rumah Kawilasi). Pelaksanaan tersebut terbilang sukses, jemaah penuh, bukan hanya para pejabat Timah, karyawan dan masyarakat biasa juga banyak yang shalat taraweh di situ. Dimana boleh…! Taraweh 11 rakaat, shalat di dekat atasan lagi.

Memang pada awal diadakan taraweh 11 rekaat itu sempat juga di “jebil” (dicemooh), karena pada saat itu shalat taraweh 11 rakaat belum umum di Belinyu. Pemahaman Islam yang didapat melalui pengalaman turun temurun adalah 21 rakaat. Apalagi taraweh tersebut bukan diadakan di sebuah mesjid. Namun jebilan ini tanpa dasarnya kalau pandangan dan pengalaman serta wawasan kita sudah menjelajahi kota-kota di luar Belinyu.

Kian hari jemaah semakin membludak, Mess Timah-II tidak tertampung. Belum genap satu bulan, shalat taraweh di pindahkan ke Gedung Up-Grading (TK.Pantirini) yang lebih luas di simpang Rumah Sakit. Sejak saat itu Karyawan Timah Wilasi Belinyu dan masyarakat sekitar, sudah mempunyai tempat untuk kegiatan dan silaturrahmi ibadah puasa. Kualitas pelaksanaan-pun ditingkatkan.

Selesai Taraweh, jemaah disediakan es-sirop, kopi atau burjo alias bubur kacang ijo. Untuk para Imam, disediakan amplop salam tempel sebagai ucapan terima kasih dari Panitia. Jemaah semakin banyak, melirik taraweh 11 rakaat, terutama yang muda-muda, karena masih sempat nonton film jam 9 malam di Bioskop Belia atau Bioskop Minlong atau Gelora. Tidak terlalu melelahkan juga untuk bekerja besok harinya.

Shalat Taraweh di Up-Grading ini sempat berlangsung hingga 3 tahun hingga dibangunnya Mesjid Al-Inayah. Inilah awal mula timbulnya pemikiran Bpk.Harsono untuk membangun sebuah mesjid yang kelak dinamai Mesjid Al-Inayah Belinyu di Jalan Sudirman. Sebagai mesjid terbesar di kota Belinyu.

Sampai 1430.H ini masih ada beberapa Mesjid tua yang tetap melaksanakan 21 rakaat dan ada beberapa Mesjid yang Teraweh 11 rakaat seperti Mesjid Al-Inayah. Umat Islam Belinyu silahkan memilih mau taraweh dimana. Dan hal ini memang semestinya tidak perlu kita persoalkan. Yang perlu dipersoalkan adalah yang tidak taraweh satu rakaatpun.

Walau begitu urusan agama adalah urusan manusia dengan Tuhannya. Tuhan tidak berbentuk, namun kita dibentuk untuk mengikuti ajaran agama yang kita yakini. Apa bentuk dan teknisnya biarlah itu menjadi urusan diri masing-masing. Perbedaan mahzab dan agama bukanlah menjadi alasan merubah pola hubungan warga Belinyu yang penuh kekeluargaan. Meski dijalani dengan rasa persaudaraan yang dingin di kota Belinyu sendiri, namun menjelma menjadi hubungan yang hangat kalau itu di luar Belinyu.

Tidak ada komentar: