KERETO SURUNG (Revisi-2)

Mary F.Somers Heidhues dalam Bukunya “Timah Bangka dan Lada Mentok” mengutip Van Den Bogaart mengatakan bahwa, orang Tionghoa mengangkut batang-batang timah dengan gerobak tangan dari kayu. Dan menghindari lokasi-lokasi terpencil dimana timah mungkin harus dipikul dalam jarak yang sangat jauh.

Pada Th.1830, Boggart menggambarkan alat transportasi tangan ini dalam sebuah buku hal.42, Bogaart menulis: “Gerobak Tionghoa digunakan secara luas di Bangka dan satu model gerobak ini ada di Museum Jakarta sebagai contoh dari Budaya orang Bangka asli”

Cf Helbig (1940), hal 190, yang mencatat gerobak di seluruh Bangka dan Belitung, yang tidak dijumpai di wilayah Indonesia lainnya. Dalam kunjungannya ke Hindia pada tahun 1896, Raja Chulalongkorn dari Siam, mampir ke Mentok dan mencatat dalam catatan hariannya, tentang gerobak sebagai alat transportasi barang. Kesawattana (1987) hal. 18-19 (Dr.Cl.Salmonmemberi rujukan ini). Belanda dengan bergairah menyebut kendaraan ini “piepkar”, yang tidak pernah diminyaki dan mengingatkan orang Eropa tentang cicitan suara babi. Gerobak tangan Tionghoa berbeda dengan gerobak Barat karena beratnya ditopang roda, bukan di lengan orang yang mendorong.

Jadi kereto surung ini memang kendaraan orang Tionghoa di Bangka jaman dulu, yang awalnya merupakan alat bantu angkut secara luas, ketika melakukan penambangan timah. Dalam perkembangannya alat angkut ini menjadi serbaguna, baik untuk pertambangan maupun kehidupan sehari-hari. Akhirnya digunakan secara umum oleh orang Bangka hingga ke kota Belinyu.

Tahun-tahun 70-an masih sering “kereto surung” masuk ke Belinyu. Biasanya penjual kayu api, atau arang membawa dagangannya ke pasar dari Kmp.Simpang Tigo, atau Kmp.Bubung Nem, yang berjarak belasan kilometer dari Belinyu. Memang dari sana sentra kayu api atau arang dibuat. Konsumen arang kayu ini terutama, pabrik kempelang, pandai besi, atau untuk buat kue di masa lebaran.

Tiba di Belinyu, tukang dorongnya sudah basah kuyup oleh keringat, saking beratnya mendorong kereto surung penuh muatan arang atau kayu pelawan. Selain didorong, kereto surung harus diangkat juga, karena roda cuma satu-satunya di depan. Untuk itu digunakan tali penggantung dikiri kanan pegangan, tali jalinan rotan ini digantungkan di bahu. Tali ini disebut “capan” (Dalam bahasa Cina: “ca”=kereta dan “pan”=tali), jadi “capan” itu artinya “tali kereta” untuk mengendalikan kereta, agar. Tidak “iger-iger”.

Pulang dari pasar Belinyu ke Simpang Tiga, muatan berganti menjadi beras atau belanjaan pasar, suara “kriat-kreot” yang ritmis sudah terdengar dari jauh. Maklumlah pelumas as roda cuma menggunakan pucuk pohon pakuk (pakis) yang ditumbuk halus. Belakangan pelumas yang digunakan adalah campuran sabun batangan merk B-29 yang dicampur minyak tanah. Walaupun padaa dasarnya kereto surung berbahan bakar nasi, maksudnya ditarik manusia yang makan nasi. Betul-betul kendaraan yang ramah lingkungan tapi menyiksa harkat manusia.

Tentang suara kereta surung krait-kriot kereta surung, ternyata memang suara itu dipelihara. Suara itu menandakan bahwa asroda dan “cupon” (kupingan) telah terpasang dengan sempurna. Bila suara itu tidak keluar berarti tidak silindris hubungan as tersebut. Kriat-kriot ini juga, sengaja dibiarkan, untuk menghindari binatang buas, seperti babi hutan yang sering main seruduk. Bila digunakan di hutan, atau di kebun, suara ini juga ikut mereduksi rasa takut.

Seorang “kreto surunger” yang terakhir di Belinyu, setahu penulis adalah Mang Ali Utol, demikian beliau biasa dipanggil. Th.70 an Mang Ali ini masih aktif menjalani trip “Simpang Tigo-Belinyu” PP, membawa berkarung-karung arang dari. Namun kriat-kriot roda kereto surungnya itu, kini sudah menjadi kenangn.

Saat ini sudah tidak ada lagi Kereto Surung di Belinyu, padahal jenis alat pengangkut ini merupakan ciri khas alat angkut di Pulau Bangka. Kereto surung ini sebenarnya, dapat dilihat melalui beberapa persfektif, yaitu sudut pandang budaya, sebagai alat angkut tradisional, dan sudut pandang ekonomi sebagai alat transformasi barang, yang sangat tertinggal.


Cara menggunakan kereto surung, mestinya ada tali anyaman rotan penggantung, yang disebut “capan” di kedua ujung pegangan. Kereto surung di atas adalah souvenir, kerajinan pewter timah ini cukup halus dibuat, sayang topi yang digunakan, bukanlah jenis topi yang umum di pulau Bangka. (Foto ini diambil dari FB, tentang Visit Bangka Belitung Archipelago 2010)


Souvenir pajangan "kereto surung" khas P.Bangka. Terbuat dari "pewter" bahan olahan Timah murni (97%), Tembaga (2%) dan Antinom (1%). Aslinya roda kereto surung berdiameter hampir 1 meter, terbuat dari kayu pohon nangka yang liat. Panjang dari ujung hingga ke pegangan kira-kira 2 meter. Inilah alat angkut tradisional di P.Bangka khususnya Belinyu. Diperkirakan kereta surung berasal dari Cina.




KAMPUNG SABER

KAMPUNG SABER

Jaman dulu, waktu belum banyak sepeda motor di Beliyu, Kmp.Saber, sudah termasuk daerah pedalaman. Orang hanya melewati Saber kalau mau ke Simpang Tigo, Bubus, Thai Kong Poi Penyusuk atau Pesaren. Jalannya tanah kuning. Becek bila hujan, berdebu jika panas. Sesekali dilewati oto DW yang memobilisasi alat-alat berat TTB ke Tambang-Tambang di Wilayah Utara. Kalau oto DW lewat, anak-anak kecil berhamburan keluar melihat oto monster tersebut lewat, sambil teriak “oto DW….oto DW..!!!”.

Begitulah anak-anak Belinyu dulu, ada pesawat terbang diteriaki “kapal terbang… minta duit…!”. Warisan dari jaman Jepang dulu yang sering menghamburkan selebaran kepada rakyat Belinyu, kalau ada pengumuman. Selebaran dikira lembaran duit.

Tahun-tahun 70-an masih sering “kereto surung” masuk ke Belinyu, pasti lewat Saber. Kendaraan lain yang sering lewat Saber adalah Motor Keng Ikan. Motor ini berupa Motor Honda (biasanya) yang dilengkapi Keranjang Rotan (Bah.Belinyu disebut “ Keng”). Setiap pagi “beduwes-duwes” motor ini dari Pesaren, Bubus membawa ikan. Pulang tengah hari bermuatan barang-barang toko. Jadi fungsi Motor Keng ini seperti jasa Expedisi pengangkutan Pesaren-Belinyu.

Jl.Kmp.Saber ini pararel dengan Jl.Kmp Sunda. Terletak mulai dari SD.Tigo hingga ke Simpang Pasir Mera sana. Kalau dulu masih terdapat banyak rumah berdinding papan, kini sudah banyak rumah tembok. Dan Kmp.Saberpun akhirnya sudah kelihatan modern. Dan Kayaknya sudah janggal kalau menyandang nama Kamp.Saber, cukup Saber saja.


Memasuki Kamp.Saber, dari perempatan antara Jl.Lurus, Kmp.Sunda. Saat ini sudah mulussss...lusss dulu berupa jalan tanah kuning.


Mesjid Kmp.Saber yang terletak di pertigaan masuk ke Kmp.Sunda bagian bawah.


Salah satu rumah modern yang ada di Kmp.Saber


Keng Ikan, yang dibonceng motor. Membawa ikan dari Pesaren, Bubus, beduwes-duwes setiap pagi melewati Kmp.Saber. Saat ini Keng lebih sering digunakan membawa jerigen solar untuk mensupply ke TI yang luas merambah Belinyu.


STASIUN-V KMP.SUNDA dan LISTRIK BELINYU

STASIUN-V Kmp.SUNDA dan LISTRIK BELINYU

Setelah berpuluh tahun PLTU Mantung sebagai pembangkit terbesar di Asia Tenggara (pada saat berdiri) menghasilkan listrik, maka pada tahun 80-an, tenaga pembangkit yang tadinya dari uap, dirubah menjadi PLTD yang mesin pembangkit nya adalah mesin Diesel. Inilah mulainya malapetaka listrik di Belinyu. Belakangan dengan naiknya harga bahan bakar minyak, dan kerusakan mesin akhirnya Pembangkit listrik kebanggaan Masyarakat Belinyu ini tinggal kenangan. Teronggok tinggal puing.

Saat ini ada dua sumber daya listrik yang menerangi Belinyu. Satu dari pembangkit Baturusa yang melayani sebagian besar listrik di P.Bangka. Pembangkit ini dihibah oleh PT.Timah. Yang kedua adalah pembangkit PLTD kecil yang ditempatkan di ex Stasiun-V, Kampung Sunda, dengan system swa kelola oleh Koperasi serba Usaha.

Jadilah listrik Koperasi ini merupakan listrik termahal di seluruh dunia. Bayangkan tarifnya Rp.200.000,- 900 wat, dengan waktu menyala dari jam.18.00 s/d jam 24.00, satu hari menyala dan satu hari mati. Betul-betul menyengsarakan dan menurunkan kualitas hidup warga Belinyu.

Gedung bekas Stasiun-V yang telah berubah fungsi menjadi rumah Genset untuk pengadaan sebagian listrik Belinyu. Disinilah rumah asal “byar” dan “pet” listrik Belinyu.




Sebagian instalasi transmisi listrik yang masih tersisa. Dulu daya listrik 30KVA dari PLTU Mantung di transfer melalui transformator (trafo) menjadi 10KVA, untuk melayani Tambang dan parit serta daya 220V untuk melayani rumah tangga masyarakat dan karyawan TTB.



Sementara Pemerintah Daerah masih “mempertimbangkan” untuk membangun Pembangkit Listrik, dilain pihak tower-tower transmisi sudah mulai habis “ditimbang” para pengumpul besi tua.