SUNGAI KELADI:

Sungai Keladi adalah penamaan kampung yang terkenal di tanah Melayu. Hampir semua daerah di Malaysia (Johor, Kelantan, Selangor) mempunyai daerah yang bernama "Sungai Keladi".

Di Belinyu, tepatnya sepotong jalan dari Jagal ke Kmp.Gudang, dinamakan Kampung Sungai Keladi. Dinamakan demikian karena dulunya di sisi kanan yang merupakan rawa pasang surut S.Pasir dipenuhi hutan nipah, sedang rawa di sebelah kiri nya sampai ke S.Ketok, merupakan rawa yang banyak ditumbuhi pohon keladi. Bermacam-macam keladi (caladium-latin) yang ada di situ, baik keladi gatal yang besar2 (sente) maupun keladi kecil yang biasa dibikin lempah keladi. Dan disitu ada sebuah anak Sungai Pasir yang disebut "Sungai Keladi".

Sungai kecil ini melintasi jalan kampung, yang merupakan saluran drainasi dari kampung Sungai Ketok. Dulu Sungai Keladi ini masih dipengaruhi oleh pasang naik dan pasang surut air S.Pasir. Bahkan dulu bisa digunakan untuk pangkalan kolek (perahu sampan) nelayan sekitar situ, termasuk nelayan dari Sungai Ketok. Saat ini Sungai Keladi yangdimaksud, sudah mengecil, seukuran got. Tidak lagi terdapat pohon-pohon keladi, yang menampung kristal-kristal embun pagi, yang ada adalah sampah...sampah...sampah dimana-mana.

Jalan Kampung Sungai Keladi saat ini, sudah mulluss...lus lus..lussss!. Dilihat dari Jagal


Inilah tengah-tengah Jalan S.Keladi menuju Kampung Gudang.

Rumah-rumah mewah gambar di atas, dulunya adalah hutan nipah seperti ini


Jenis keladi (caladium) ini, jaman dahulu banyak sekali tumbuh di sekitar Kampung Sungai Keladi ini.


Sebagai daerah rawa-rawa, air sumur di kampung ini terasa payau dan butek, karena pengaruh bicak


Dulu perahu nelayan (kolek) dapat merapat sampai ke pinggir jalan kalau air sedang "labur" (pasang naik)

Kondisi Sungai Keladi saat ini, lebih mirip sepeti got. Sedimentasi yang tinggi serta penuh sampah, airnya berwarna hitam pekat dan bau busuk. Pasti nyamuk akan mendirikan kerajaannya di sini..

Saat ini sungai telah berfungsi menjadi saluran pembuang (drainase) rumah tangga. Cuma sedikit aneh melihat saluran yang cukup lebar, namun gorong-gorong jembatan mengecil (bottle neck).



.



KAMPUNG JAGAL :

Mungkin generasi sekarang tidak tahu bahwa di Kota Belinyu ini dulu terdapat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang di sebut "Jagal". Lokasinya ada di sudut antara Kmp.S.Ketok dan Kmp.S.Keladi. Jagal menjadi tidak terkenal, karena dulu lokasi ini memang tidak ada rumah orang. Jagal cuma merupakan pangkalan perahu dan tempat menuju ke sungai bagi nelayan warga S.Ketok. Kadang juga daerah ini diidentifikasi sebagai Kampung.S,Keladi.

Kampung Jagal saat ini, bukan lagi rabeng, tapi sudah menjadi perkampungan. Di tiang listrik yang ujung belok kanan, disitulah yang dulu disebut "Jagal", karena di situ dulunya, terdapat tempat pemotongan (penjagalan hewan) di Kota Belinyu, kemudian menjadi pangkalan perahu nelayan Sungai Ketok, dan sekarang sudah menjadi pemukiman warga.


Kota Belinyu dulu ber-status Keresidenan (semacam Kabupaten), jadi kalau sekarang Belinyu cuma menjadi Kecamatan, adalah suatu kemunduran yang luar biasa. Pada jaman dulu banyak sekali fasilitas infra struktur di Keresidenan Belinyu yang sangat berarti. Ada Pembangkit Listrik PLTU Mantung yang pada waktu itu, terbesar di Asia Tenggara, Pelabuhan Tanjung Gudang, Pelabuhan Eport/Import Berok (kmp.Gudang). Dan salah satu lagi adalah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di dekat S.Keladi.

RPH ini bagi warga Belinyu dulu disebut "Jagal" alias tempat Penjagalan (pemotongan Sapi). Dulu, ternak potong sapi, kerbau yang masuk ke Belinyu, didatangkan dari Jawa, Sulawesi, dan NTB, menggunakan kapal layar (phinisi), berlabuh di yang ada di bagian belakang RPH jagal ini.

Entah karena alasan dekat pelabuhan atau alasan limbah potong hewan, maka di sini dibangun Rumah Pemotongan Hewan, yang akhirnya disebut "Kampung Jagal". Dari RPH inilah daging sapi, kerbau, dan kambing untuk kebutuhan warga Keresidenan Belinyu, (terutama warga Belanda) didistribusikan ke pasar, setelah melalui pengawasan kesehatan, maupun aturan kehewanan yang telah ditentukan oleh dinas yang berwenang. Tentunya skala kesibukan di Jagal ini akan semakin ramai apabila memasuki Lebaran, atau Tahun Baru.

Namun RPH, kini cuma menjadi cerita saja, jangankan hendak melihat bekas bangunan "Jagal", untuk melihat sungai sekitar situ yang pernah dilalui perahu Phinisi atau sampan hingga ke Sungai Ketok saja, sudah tidak berbekas. Hutan nipah, rabeng (lumpur kawasan pasang surut), lokak (cekukan tanah) tempat udang dan "remangok" (kepiting bakau), sudah berubah menjadi pemukiman masyarakat.

RPH jagal ini masa jayanya kira-kira sampai tahun 50, tahun 80 an, masih tersisa puing-puing tembok RPH, namun saat ini sudah lenyap tak berbekas dan berganti menjadi kawasan pemukiman warga. Telah berdiri rumah-rumah beton bergaya spanyol, Kalau dulu warga S.Ketok mau ke Jagal, khawatir dengan banyak "ages", saat ini "ages"nya sudah hilang, takut kepada warga yang semakin banyak tinggal di kawasan ini.

Sapi-sapi Bali yang didatangkan dari Sumbawa/NTB, dari Madura dan dari Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan daging warga Belinyu

Pemotongan daging di RPH

Di tumpukan kayu inilah dulu hingga th 80-an masih tersisa sisa-sisa tembok RPH di Belinyu, sehingga daerah ini disebut "Jagal", Tanah kuning yang ada dulunya berupa sungai akses nelayan ke pangkalan perahu. Disini dulu banyak terdapat pohon-pohon kelapa, pohon api-api, pohon duri tanduk (untuk mengejar layang-layang) dan sedikit hutan bakau serta pohon nyere


Di latar belakang adalah "rabeng", rawa-rawa pasang surut yang masih tersisa, mungkin tidak lama lagi di situ akan ditimbun juga dan akan menjadi lahan pemukiman.
Kawasan asli daerah Jagal dulunya seperti ini, dipengaruhi pasang surut, bahkan banyak pohon kelapa. Kubangan-kubangan kecil (lokak) biasa terdapat udang-udang kecil. Gundukan-gundukan tanah itu tempat Kepiting Taik (kepiting kecil yg tidak bisa di makan), Kepiting Batu (Remangok) membuat lubang. Kalau air laut pasang naik tinggi (aek labur), banyak anak-anak yang mandi di sungai.

Ini adalah udang sungai, dulu banyak terdapat di "lokak-lokak" di sekitar jagal ini

Sungai in dulu besar, berada di "Jagal" bisa dilayari perahu phinisi, atau perahu hingga ke Jeramba Busen

Di masa pembangunan sekarang ini, jangankan tersedia RPH, untuk membeli daging sapi saja, kadang masyarakat Belinyu harus ke Sungailiat atau Pangkalpinang. Inilah jaman yang dinamakan Pembangunan Propinsi Bangka-Belitung khususnya Kabupaten Bangka. Kota-kota lain tambah maju dalam hal fasilitas umum dan infrastruktur, kota Belinyu tambah mundur.

Entah siapa yang menjadikan kota Belinyu malah mundur seperti sekarang, jangan kita saling menyalahkan dan mencari kambing hitam, namun siapapun dia yang merasa telah memberi andil menjadikan Belinyu menjadi tertinggal seperti sekarang ini, hendaklah mencari dinding tembok, dan "mengentuk-ngentuk kepalanya ke tembok" agar lebih bisa berpikir menggunakan nurani dari pada otak yang bebal. Hhikkks.....hiksss....!



.