PEMBERITAHUAN :

Kepada anda yang menulis comment di Posting "Jl.Depati Amir", kami tidak bertanggung jawab atas konsekuensi hukum yang anda tulis. Karena isi komentar di luar tanggung jawab Admin dan penulis. Blog ini sedianya diperuntukkan sebagai rasa cinta kami kepada kota Belinyu, dan kami persembahkan kepada siapa saja yang pernah tinggal di Belinyu dan kepada pengunjung yang ingin tahu tentang sejarah Kota Belinyu.

Terimakasih

Team Admin

PASAR BELINYU-2: ( Si Okeboy)

Sebetulnya masih banyak hal-hal yang menjadikan kenangan tentang Pasar Belinyu ini, ada penjual aek legen, ada penjual pisang, ada warung makan padang yang mewarnai pasar Belinyu. Semuanya tinggal menjadi kenangan bagi generasi tua dan menjadi cerita bagi generasi muda.

Untuk warga Belinyu dengan kondisi unik, seperti Wak Dedek yang senantiasa beredar di pasar. Ada "Oke Boy" yang dengan setia menarik gerobak (semacam "rigsaw" kalau di Cina). Tentang Okeboy ini, beliau termasuk pekerja yang ulet, di usianya hingga tua (mungkin sekitar 70 tahun), masih menarik gerobak, membawa karung atau barang-barang toko. Baik dari gudang maupun dari oto Gobu, yang baru datang dari Pangkal Pinang. Kemandirian, keuletan selama puluhan tahun yang perlu ditiru generasi sekarang, tanpa membebani orang lain, dia menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri, betul-betul seorang wirausaha anti neolib dan penganut paham "ekonomi kerakyatan" sejati.

Okeboy ini sangat fanatik dengan sepakbola, walau jarang hadir menonton bola (mungkin karena kesibukan panggilan tugas) dia tetap memantau skor pertandingan Bola di Belinyu. Kesebelasan pavoritnya adalah kesebelasan "Mantung", yang memang merupakan kesebelasan yang handal. Jangan coba-coba mengatakan "Mantung kalah..! kepada dia, sebab semua sumpah serapah akan keluar dari mulutnya. Tapi bila kita bilang "Mantung menang..!" dengan gembira dia jawab "oke boy..!" inilah yang membuat dia di panggil si Okeboy. Kalau saat itu dia sudah tahu liga-liga dunia, mungkin dia akan lebih fanatik ke MU atau Inter Milan.

Profil Okeboy ini adalah, laki-laki tua, hidung mancung, bermata sipit, beberapa giginya sudah tidak ada. Panas atau hujan senantiasa bertelanjang dada menarik Gerobak Kayu. Tali gantungan anyaman rotan melingkar dari pegangan sebuah gerobak, yang sama renta dengan dirinya. Baju kaos cap "swan" lebih banyak disampir di bahu ketimbang dipakai. Sesekali baju kaos kumal itu dikipas-kipaskan ke badannya yang selalu basah oleh keringat. Celana pendeknya cuma kain drill biru dijahit sederhana, sering melorot walaupun diikat dengan tali rafia. Bermandikan peluh, dengan terengah-engah mengantar semua barang titipan orang. Pokoknya lebih ulet dari kurir iklan DHL.

Selesai mengantar barang tidak pernah memasang tarif, seiklasnya saja diberikan orang. Tidak pernah barang kliennya hilang dalam perjalanan, semua berazaskan kepercayaan dan kejujuran. Ruarrr...biasa kamu Okeboy. Di rumah makan manapun dia mau makan dan minum orang tidak pernah marah dan tidak banyak menuntut bayaran. Karena pedagang pasar tahu bahwa Mr. Okeboy tidak pernah menyusahkan para pedagang, rasa kasihan bercampur simpati selalu didapat, dan menjadi mata uang di pelosok pasar. Jangan-jangan merk "Rotiboy yang biasa di Bandara, ter-inspirasi dari si Okeboy ini..ha..ha.. (it's a joke!-red)

Pribadi-pribadi seperti Okeboy ini cukup banyak di Belinyu. Mereka inilah merupakan mata rantai penggerak ekonomi di Belinyu. Walaupun peranannya sepele, namun dia telah memanjangkan proses "multiplayer effect" perekonomian di Belinyu, sebagai mata rantai distribusi barang. Serta mensukseskan tatanan ekonomi dan sosial warga Belinyu secara makro.

Mungkin kita bisa ber-hipotesa, bahwa kondisi Belinyu yang aman, damai dan tentram penuh kekeluargaan seperti dulu, bukan lah suatu hal yang dicipta, tetapi karena memang dulu, banyak warganya sadar dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, walau dengan frame sosial yang tradisional. Sejarah membuktikan, bahwa di Belinyu dulu jarang sekali Polisi disibuk kan dengan pasal-pasal KUHP seperti, pencurian, perampokan, penipuan. Paling urusan judi ringan 'kolok-kolok" kalau lebaran.

Kalau para pemimpin, politisi, terutama yang di-Senayan, mau menjadi pribadi yang dicintai rakyatnya, bekerja dengan iklas, tidak materialistis, ulet, mungkin bisa belajar dari semangat orang-orang seperti Okeboy, Wak Honda, Yuk Yani, Aji penjual Jongkong, Penjual Sayur, dan banyak lagi warga Belinyu lainnya yang bekerja dengan iklas selama bertahun-tahun, tanpa mengiklan kan janji-janji kosong. Tidak usah jauh-jauh mengadakan studi banding ke luar negeri, dengan menggunakan uang rakyat, yang ujung-ujungnya juga diagendakan acara belanja dan hura-hura.

Namun kita juga tidak dapat menjamin apakah Okeboy akan tetap seperti Okeboy, apabila ada kesempatan dan peluang. Namun besar kemungkinan pribadi Okeboy tidak berubah, karena memang nafsu tuntutan hidupnya memang selalu redup oleh atmosfir kehidupan Kota Belinyu yang tidak banyak tuntutan materialistis.



PASAR IKAN BELINYU :

Inilah bekas pasar Belinyu yang pertama. Entah sejak kapan didirikan yang jelas puluhan tahun lalu disini pernah berdiri pasar tradisional becek, yang jelas sekitar tahun 75an setelah mengalami kebakaran, pasar tersebut dipindahkan 1000m ke arah Aek Cepedak.
Disini dulu pasarnya berbentuk lost-lost terbuka dengan meja-meja beton, yang kotor kecoklatan untuk berjualan ikan di sebelah kanan. Lost bagian tengah untuk sayur, sedang di bagian kiri adalah lost menjual 9 bahan pokok, termasuk belacan asem garem.
Untuk lost tertutup terbuat dari papan. (jaman dulu belum ada Rollingdoor,) jadi pintunya berupa kepingan papan yang disusun vertikal. Selalu ada angka disetiap papan, mencegah salah susun, yang apabila salah urutan susunannya akan menyebabkan macet.

Sebagaimana pasar yang lain, kegiatan ekonomi penunjang pasar "supporting are", seperti penjual buah-buahan (buah lokal, tidak ada buah apel, anggur import) terdapat juga disamping. Ada tukang cukur, Hoklo Sepeda (Toko Sepeda) ada di depan pasar. Disampingnya ada toko sepatu. Diantaranya ada penjual Mie. Ada toko "Lie Kon Nen", yang cukup lengkap barangnya, juga ada toko "Jong Muk", sedikit ke sana ada Toko "Anen", ada juga Warung Kopi Akiong (yang sampai sekarang masih ada). Demikianlah warga Belinyu menyebut toko-toko itu, saking akrab dan lamanya berinteraksi antara pedagang dan pembeli sesama warga Belinyu.

Relawan penjaga pasar Belinyu adalah seorang yang dipanggil "Derasak"., konon, katanya berasal dari Kampung Kacung , Bangka Tengah. Senantiasa pakai celana pendek dekil, baju yang kotor, kadang telanjang dada, rambut uban gondrong acak-acakan, kumis putih yang panjang, pandangannyanya nanar dengan mata selalu merah akibat mabuk. Derasak si "Drunken Master" ini sebatang kara, tidak punyak sanak kadang, profesi awalnya adalah "tukang panjat kelapa", tinggal di salah satu pojokan pasar. Dari para penjual Derasak mendapatkan uang tip, untuk kehidupannya. Karena tinggal di pasar. otomatis urusan perut bukan problem. bagi dia. Setiap sore dengan tekun dia menyapu semua areal pasar dengan sapu lidi. Setelah bersih dan menjelang malam, dia melaksanakan hobbynya berupa : "minum arak" hingga teler. Siang biasa masih tidur menikmati mabuk arak nya. Sore bangun kembali, membersihkan pasar dan kembali teler. Demikian irama hidupnya selama puluhan tahun.

Walau ilmu kesehatan mengatakan alkohol tidak baik untuk kesehatan, yang mengherankan si Derasak ini usianya cukup panjang. Ketika meninggal sekitar tahun 75 an, mungkin usianya juga diperkirakan sudah manula. sekali , yang jelas ketika kita sudah dewasa melihat Derasak ini, sama seperti dulu waktu kita kecil melihatnya, seakan-akan tidak berbeda dalam kurun puluhan tahun. Saking melegendanya Derasak ini di Belinyu, bila ada orang yang rambutnya acak-acakan, atau pakai baju awut-awutan, orang Belinyu mengatakan "seperti Derasak". Namun bagaimanapun, Derasak ini telah berjasa kepada Warga Belinyu dengan profesi sebagai pembersih pasar selama puluhan tahun, tanpa mengharapkan diangkat jadi Pegawai Negeri.

Saat ini, bekas lokasi pasar pertama di Belinyu telah menjadi pusat pertokoaan dan terminal. Terminal ini memang sudah di sini sejak jaman dulu. Sejak mulai ada oplet ke mantung, yang menggunakan tenda terpal, dengan duduk saling berhadapan hingga jaman model mobil angkot sekarang ini.



Dibelakang Tugu pertigaan jalan ini, dulunya terdapat Pasar Belinyu yang ke-2 setelah pasar Derasak terbakar. Lokasi pasar ini mulanya cukup representatif, karena banyak ruko-ruko tembok di sekitarnya. Ruko ini di bangun setelah ruko kayu di Belinyu terbakar tahun 1978, yang melalap habis pertokoan pasar, mulai dari Simpang Aek Cepedak" sampai depan pasar. Ludes habis.

Tahun 2005, pasar ini sudah terasa sempit, dan dipindahkan ke daerah "Aek TTB" dekat Perumnas, oleh seorang investor, hingga keberadaannya sampai saat ini. Bekas pasar lama ini telah dirobohkan, dibuat jalan masuk ke arah Aek TTB membelah bukit kecil di belakang pasar. Jaraknya kurang lebih 800m. Cukup representatif namun lumayan jauh, bagi warga Belinyu kebanyakan yang ke pasar menempuh jalan kaki. Tugu ini berada di pertigaan jalan baru menuju Pasar baru.


Pertokoan yang dilihat dari pertigaan atau Simpang Aek Cepedak ke arah pasar. Di kiri adalah Jl.Aek Cepedak, Kanan Jl. Sumur Laut dan belakang adalah dari arah terminal. Di pertigaan ini terdapat Bengkel sepeda, toko kelontong, dan penjual Baju di seberang. Di perempatan (ke arah Aek Cepedak) ini kalau pagi ada penjual "Holopan" terang bulan yang enak.
Warga Kampung jawa, Aek Kacip, melewati Jl. Aek Cepedak kalau ke Pasar. Didekat sini juga menjadi pos bagi warga Aek Kacip, Aek Cepedak, Aek Asem untuk bersama-sama pulang dari pasar. Juga menjadi tempat mangkal warga Pesaren, bubus yang akan pulang. Sebuah oto tambang warna Hijau ke Pesaren atau Bubus biasa parkir di Aek Cepedak ini.



Jalan dari sampaing pasar lama menuju Pasar Ikan yang baru saat ini, dulu daerah ini merupakan bukit kecil, kebun karet. Tower berada pas di seberang Pasar ikan yang baru.



Pasar ikan Belinyu, saat ini. Dibangun atas upaya seorang investor warga Belinyu, yang perduli dengan Pembangunan di Belinyu. Prosesnya BOT, atau tukar guling (overslaag), kami kurang jelas. Yang pasti Pasar ini lebih baik dan lebih luas dari Pasar yang lama.



Kesibukan di Pasar Ikan yang Baru, yang berlokasi di Depan Air TTB, Jl. Perumnas ke arah Jl.Pekuburan. Lahan parkir yang di dominasi oleh Sepeda Motor. Sepeda atau "kereto angin" sudah sangat jarang kelihatan di pasar ini.


Lost pasar ikan, yang dimana-mana selalu kotor dan bau amis. Seorang penjual daging ayam potong sempat terekam kamera. Dulu sekitar 70an di pasar Belinyu, ayam biasa dijual berupa ayam kampung hidup. Itupun agak susah di dapat kecuali lebaran atau Hari Raya. Ayam Broiler, belum ada pada saat itu. Sekarang daging ayam potong sudah banyak dijual di pasar, apalagi harganya kadang lebih murah dari harga ikan yang didatangkan dari Laut Sungailiat. Laut Belinyu...? Semua habis oleh kapal keruk dan TI apung.......


Jembatan ini yang disebut Aek TTB. Berada pas di depan pasar ikan Belinyu sekarang. Jalan ini menuju arah ke Pekuburan, sedang di belakang adalah Perumnas Lapangan Bola. Samping kanan Pasar.