Mungkin demikian juga dengan Kampung Tengah Belinyu, karena pendatang di sini banyak yang datang dari tanah Melayu, jadi budaya Melayu juga berlaku. Ada Mesjid Besar di kampung ini, ya..sudah namakan saja "Kampung Tengah", walaupun secara geografis tidak berada di tengah-tengah Kota Belinyu.
Ikon yang menonjol di Kampung Tengah ini adalah Mesjid Jami. Mesjid ini merupakan tempat berkumpul komunitas para ulama, dan menjadi barometer Islam di kota Belinyu. Tidak heran kalau para ulama besar dari Sapat (Indragiri), Banjarmasin, Palembang banyak tinggal di sekitar Kampung Tengah. Ulama di kota Belinyu, yang biasanya mengajarkan agama di sebut “Mu’alim”.
Para Mualim, yang tinggal di sekitar kampung Tengah ini, mempunyai kedudukan sosial yang tinggi di mata masyarakat, hal ini disebabkan oleh kelebihan pengetahuan dibidang Agama Islam baik secara syariat, maupun muamallah, serta kemampuan Ekonomi yang lebih, karena para mualim ini juga biasanya merangkap sebagai saudagar. Makanya di Kampung ini banyak terdapat rumah-rumah kuto (rumah besar). Sayangnya sebagian rumah-rumah kayu tua itu mulai hilang tergusur rumah modern dan terlindas oleh rumah burung walet.
Bangunan di kiri kanan bukan rumah bertingkat, namun itu adalah rumah walet, yang banyak dibangun di Kota Belinyu. Jendela yang ada cuma artifisial untuk menipu lawan, seakan-akan rumah tinggal bertingkat, bukannya bangunan tembok masif. Penulis pernah membaca bahwa rumah walet ini menjadi salah satu mata rantai penyebaran penyakit demam berdarah dan malaria, karena di dalam rumah walet biasanya disiapkan genangan air, sebagai tempat berkembang jentik nyamuk untuk pakan burung walet. Namun sekaligus tempat berkembangnya nyamuk malaria (Anoplheles) dan nyamuk demam berdarah (Aedes Aegypti). Kalau analisa ini benar, mungkin kita perlu mempertimbangkan antara kemajuan ekonomi dan kemunduran kesehatan masyarakat, mengingat nyamuk tidak bisa membedakan siapa yang paling pantas digigit. Bisa jadi pemilik waletnya malah tidak tinggal di Belinyu sehingga aman dari gigitan nyamuk yang dia biarkan berbiak.
Rumah burung walet di ujung jalan. View ini diambil dari depan Mesjid Jami'





Kelenteng Fuk Tet Che, yang terletak di jalan kelenteng Kampung Tengah, merupakan Kelenteng tua yang telah berusia lebih seratus tahun. Sebagai tempat beribadah warga Tionghoa di Belinyu. Ada 4 meja persembahan (altar) dalam kelenteng ini, masing-masing untuk Dewa Bong Kwet Chung Pak Kung, Dewa Kwan Ti/Guan Gong, Dewi Kwan Im dan Budha Maitreva. Suasana film-film kungfu sangat terasa di Kelenteng ini, ada lonceng, gong dan simbal, yang sering dibunyikan pada saat ada ritual. Bau hio yang dibakar, serta interior yang dinominasi warna emas dan merah, kadang membuat anak-anak tidak berani menoleh atau takut lewat di depan kelenteng ini, saking mistisnya. "Jangan dijingok, kagek ikak te-keno", begitu foklor yang ada di masa kanak-kanak.
Bagaimanapun, Kelenteng Fuk Tet Che ini merupakan asset elemen sejarah kota Belinyu, yang telah ada sebelum kita dilahirkan.