Jl.Suramenggala atau Jl.Curam, terbentang dari Jl.Depati Amir hingga Bengkel Listrik atau Gereja Ayam.
Nama Suramenggala, diambil dari nama salah seorang Demang dari Depati Amir. Ada 3 (tiga) Demang, yaitu: Demang Singajudha, Demang Batin Tikal dan Demang Suramenggala. Makanya jalan utama dinamakan Jl. Depati Amir (depan RS - lapangan tennis-tangsi) sedang cabang2 nya diambil dari nama para Demang-nya.
Jalan ini juga disebut Jl.Curam, walaupun sebetulnya tidak curam-curam amat konturnya, memang sedikit di ujung (dekat kebon Wak Man dulu) ada belokan, sempit yang curam. Tapi biarlah begitu, sampai saat ini tidak ada yang risau kalau jalan Suramenggala ini di sebut juga Jl. Curam.
Kalau dilihat arsitektur rumah, perumahan di sini, kelihatan sekali arsitektur tropis Belanda. Atapnya curam, tembok tebal, plafond tinggi, serta terdapat dua dapur. Tiap rumah mempunyai sumur dengan air yang sangat jernih. Keliling rumah dibangun pagar tembok. Penataan ruangan bergaya kolonialisme karena ada bagian untuk pembantu. Bangunan Rumah Utama diperuntukkan Tuan Rumah, dan ada ruangan untuk pembantu Belanda (jongos), di bagian belakang. Makanya dalam bahasa Cina Belinyu jalan ini disebut “holan kai” (kampung Belanda). Karena dulunya yang tinggal di sini adalah orang-orang Belanda yang bekerja di Timah Bangka. Diperkirakan perumahan disini dibangun sekitar th.1900-an. Perumahan di Jl.Curam ini, sebetulnya di peruntukkan bagi Kepala Urusan (Karus) atau yang eselonnya, namun banyak juga para Kepala Bagian ditempatkan di sini. Berhubung rumah ini sudah keluarmasuk didiami karyawan Timah, maka setiap rumah mempunyai kenangan tersendiri, untuk dikenang.
Pagar-pagar tinggal pilar batugunungnya saja. Pada pilar paling depan terdapat bekas lantai Pos Hansip, tempat anak-anak muda nongkrong sambil bermain gitar. Beberapa orang Hansip yang pernah bertugas meronda dan menjaga keamanan Jl.balar seperti Jumai, Dehan, Sulung, yang memukul bel setiap jam sekali, sangat akrab dengan anak-anak muda di Jl.Balar dan Jl. Curam.