KAMPUNG SINCHONG ; (revisi-1)

KAMPUNG SINCHONG/KARANG LINTANG :
Lokasi : Setelah Jembatan Bandung hingga ke Kmp.Gunung Muda

Karena kita membahas Jeramba Bandung, maka kita bernostalgia ke Kmp.Sinchong. Seperti yang di sampaikan di posting Jeramba Bandung bahwa jaman purba dulu (jaman akek antak) trase jalan itu dari Sinchong lurus ke Kuto Panji (Bong Kap) terus ke Pha Kak Liang, hingga ke belakang Kantor Camat, terus ke Panji, Jl.Gajahmada, dan sampai di depan Bioskop Belia. Itupun masih lurus lagi berdampingan dengan Jalan Trem hingga ke Bukit Jukung.

Karena pada saat itu ada sebuah jalan baru yang panjang dan lurus, maka kampung disitu disebut "Sin Chong" (dalam bahasa Cina Jie Kia/Kek "Sin=Baru" "Chong=Panjang", maksudnya "jalan baru yang panjang"). Jalan ini tentunya dibuat Belanda dalam rangka memudahkan Meneer-Meneernya melaksanakan explorasi dan expolitasi atau penambangan Timah di wilayah Belinyu serta menghubungkan dengan kota-kota lain.

Karena di situ adalah dataran rendah, rawa-rawa aliran sungai, yang biasanya banyak deposit mineral timah, maka dibuatlah tambang dengan nomenklatur "Tambang-25", yang dalam bahasa Cina disebut "Liongsip Eng Ho" (Lingsip eng=25, Ho=Tambang). Jadi jaman dulu Sinchong ini dikenal juga dengan nama 'Liongsip eng ho".

Untuk memenuhi sumber daya listrik, dialirkan daya transmisi 30 KVa dari PLTU Mantung. Pada saat itu PLTU Mantung almarhum, merupakan Pembangkit Listrik terbesar di Asia Tenggara, melayani sebagian besar Pulau Bangka. Sebelum daya listrik dari Mantung ini diturunkan 10 KVa untuk menggerakkan motor Pompa Tambang, dan 220 Volt untuk penerangan, maka harus melewati trafo stop-down yang ada di Stasiun. Maka TTB membangun Stasiun-4 yang ada di Sinchong. Dan Sinchong juga selain disebut "Liongsip Eng Ho" juga biasa disebut "Stasiun-4".

Entah bagaimana ceritanya, ataukah supaya lebih "keren", belakangan kamp.Sinchong ini dinamakan kampung 'Karang Lintang" yang (mungkin) berasal dari kata "kerang lintang" (lintang=bintang dlm bhs.Sansekerta) mungkin saja disekitar sungai tersebut banyak terdapat sejenis "kerang bintang". Dan biar sesuai dengan Pak Harto, di jaman orde lama yang senang menggunakan kata sansekerta, maka "kerang bintang" di-sansekerta-kan menjadi "karang lintang".

Ada lagi asal muasal lain yang agak masuk akal, "karang lintang" berarti "kampung yang melintang". (bhs Sunda; "karang=lahan/pekarangan), karena memang kampung Sinchong lama itu adalah jalan yang melintang di depan Stasiun-4 itu, bukan jalan yang sekarang.

Seorang pembaca Blog ini punya cerita yang lebih exotic lagi, bahwa ada cerita sebuah candi, yang terbuat dari bata, yang kadang muncul dan hanya kelihatan di saat hujan panas (gerimis). Artinya Sinchong semacam sentral atau batas area "ghaib" kota Belinyu , yang cuma bisa dipahami Ki Joko Bodho CS. Namun apapun legenda yang ada tetap kita hargai dan kumpulkan sebagai kekayaan budaya lisan Kota Belinyu.

Sebuah lagi hipotesa yang mengatakan disitu banyak terdapat binatang "bintang laut" yang kalau kering akan mengeras seperti karang, sehingga disebut "karang lintang". Cuma pertanyaannya karang dari mana? khan lautnya nun jauh disana. Tapi biarlah, yang penting kalau nulis alamat di KTP atau Kartu nama khan keren, Karang Lintang, mirip nama real estate.

Kampung Sinchong, ini mayoritas dihuni warga Belinyu dari etnis Thionghoa, lengkap dengan "Tao Pek Kong" dan tempat main "biang", karena memang ini bekas Parit-25. Dan di daerah Parit, biasanya ada Kepala Parit yang menjadi Jendral para kuli kontrak. Karena sudah bermukim di Sinchong, dan beranak-pinak. Maka setelah Parit-25 ditutup mereka enggan mengotong-gotong barang pindah, jadi banyak warga Tionghoa yang tetap bermukim di Sinchong.

Karena daerah disitu bekas tambang, tentu tanahnya tidak subur. Maka pertanian tidak maju, paling cuma bisa menanam pisang dan jeruk kunci di pekarangan. Makanya masyarakat Tionghoa disini banyak berdagang dan buka toko di pasar Belinyu. Kareana jadi pedagang, punya uang, maka anaknya tidak boleh jadi petani, atau kerja di toko, harus sekolah di Belinyu. Terserah mau naik sepeda, atau menumpang "oto sekolah" dari Tirus, Gunung Muda.

Warga Sincong termasuk concern di bidang pendidikan. Setelah SMA sekolah ke Jakarta. Walaupunh akhirnya berdagang juga di Jakarta sana. Namun banyak warga Sincong yang merantau. Kungkung, Apho-apho serta Taiji yang tidak suka suasana Jakarte, tetap tinggal di kampung halaman, duduk di depan rumah besar dengan halaman luas dan lampu yang terang benderang. Memakai Kaos Oblong putih Cap Lombok, berkipas duduk-duduk melihat Oto Gobu Belinyu-Sungailiat-Pangkalpinang. Kalau Oto Amin sudah lewat, berarti sudah jam 4 sore, sudah waktunya mandi, makan dan tidur. Itulah rutinitas, sambil menghitung hari, menunggu "Khongian' atau "Sembahyang Kubur", dimana anak-anak beserta menantu dan cucu dengan logat Jakarta akan pulang menjengguk orang tua di kampung halaman.