PASAR BELINYU-3 (DAUN SIMPUR/SUMPUN dan TALI PURUN) :

Terkait posting Pasar Belinyu, kita bernostalgia dengan alat pembungkus di pasar. Seingat penulis, “tas keresek” (kantong plastik) sebagai pembungkus, mulai ada di Belinyu sekitar paruh 80an. Sebelum itu kemasan pembungkus menggunakan kertas koran bekas atau dedaunan.


Adalah Daun Simpur yang biasa digunakan sebagai “cilok” untuk membungkus barang-barang basah di pasar, seperti ikan, sayur dan lain-lain. Cara menggunakan daun ini adalah dengan membuatnya seperti kerucut. Kalau perlu cilok lebih besar, ditambah 2-3 daun sehingga menjadi kerucut ukuran jumbo, untuk membungkus ikan kepetek atau ikan ciu, untuk dibawa pulang dengan “sangkek rotan” (keranjang segiempat dari anyaman rotan).


Tanaman Simpur (sumpun), yang daunnya cukup lebar digunakan untuk membungkus. Perdu ini banyak tumbuh di Pulau Bangka, khususnya di Belinyu. Tidak ada manfaat ekonomi lain dari tanaman ini selain diambil daunnya



Pengikat cilok Daun Simpur ini adalah “Tali Purun”, (tali plastik jaman itu belum banyak), yaitu tali yang terbuat dari tanaman Purun, yang berbentuk batangan berongga sebesar sedotan plastik. Tumbuh di rawa atau tepian kolong. Setelah dicabut, tanaman yang panjangnya kira-kira 1,5 meter ini dipukul-pukul (digepuk) sampai pecah-pecah dan lentur, kemudian dilipat dua dan diikat juga menggunakan tali purun. Ikatan Tali Purun ini digantung di meja pasar, dekat kotak uang, agar mudah ditarik satu tangan sementara tangan yang lain memegang bungkusan Daun Simpur.


Inilah tumbuhan Purun, sejenis rerumputan yang tumbuh di rawa-rawa atau kolong tua. Batangnya digunakan untuk tali pengikat. Bisa juga diannyam menjadi tikar atau tas. Banyak juga terdapat di Kalimantan. (foto ini di upload dari "endro-endro.blogspot.com")



Ikan besar yang tidak bisa lagi dibungkus, seperti tongkol, atau tenggiri, cukup diikat ekornya dengan tali purun untuk “di-cangking” pulang dengan “kereto angin” (sepeda) Dijamin tidak akan putus. Begitulah, pada jaman dulu, pedagang pasar Belinyu membungkus dan mengikat jualannya.

Ditoko-toko juga kadang Daun Simpur digunakan untuk

pembungkus asem, belacan dan kawan-kawannya. Selain itu juga, dipakai untuk cilok jualan buah kemunting, keranji, biasa juga dibuat “pincuk” untuk pembungkus tape ubi. Kalau digunakan untuk pincuk, tulang daun harus dibuang dulu, agar lembaran daun menjadi lentur, sebagai pembungkus tape ubi. Ujun

gnya disematkan biting dari lidi kelapa. Dan Tape Ubi bisa mulai dijual keliling kampung, dengan “penampi” dijunjung di kepala. Tapeeee…Ubiiiiiii.!...Tapee…Ubiiiiiiiii


Tape ubi dibungkus daun simpur (foto Christinetanod.multiply.com)



Menurut yang punya foto, bungkusan daun simpur ini adalah tahu yang dijual. (chritinetanod.multiply.com)



Hingga tahun-tahun 80an, bahkan nasi bungkus dari Pesanggrahan TTB, masih menggunakan Daun Simpur diikat Tali Purun. Nasi yang dibungkus daun simpur terasa lebih harum, ketimbang dibungkus kertas atau kotak karton seperti Nasi Padang. Apalagi dimakan pada saat lapar kerja lembur karyawan TTB.


Pendek kata, jaman itu Daun Simpur merajalela di kota Belinyu. Setiap pagi daun simpur ini dipasok dari Kusam, Gunung Muda, Thaikongpoi, parit-parit. Memang jaman itu, banyak orang yang berprofesi khusus mencari Daun Simpur, sebagai kemasan yang ramah lingkungan ini.



Pohon Simpur bisa juga menjadi pohon peneduh, karena daun-nya lebar dan rapat serta tidak mudah lepas. Pohon Simpur dalam foto ini bibitnya dibawa dari Belinyu dan ditanam di Cisarua Puncak, oleh pemilik Villa yang kebetulan wong Belinyu. Cukup subur juga tumbuhnya. Buah Nanas yang melekat di pohon cuma pajangan. Menurut yang punya, foto ini adalah waktu acara kumpul-kumpul "Blijong Club" di Puncak Bulan Juni 09 kemarin (Foto di copy dari FB. Ibu Elizabeth Wan Lie, dan telah seizin beliau, Sin mung ya Bu!)



Tanaman Simpur, banyak tumbuh liar di lelap (rawa-rawa) atau bekas tambang-tambang di Belinyu. Daunnya lebar mirip daun jati, yang tua agak getas seperti daun mangga. Dibawa ke pasar dalam bentuk gulungan. Satu gulungan berisi 10 lembar. Harganya pada saat itu 50 rupiah saja, kira-kira Rp.500 kurs uang sekarang. Tidak ada kebohongan dengan memasukkan daun yang jelek atau bolong-bolong ke dalam gulungan. Semua daun bagus dan mulus. Tiap tukang sayur atau penjual ikan sudah mempunyai langganan pemasok sendiri, dan sudah saling paham berapa gulung kebutuhan tiap penjual.


Sedang tanaman Purun sebagi tali pengikat, merupakan gulma di rawa-rawa, tepian kolong-kolong tua. Purun ini bisa juga dianyam menjadi tikar, atau “sangkek” (tas). Supaya awet dan lentur, Purun harus direndam dulu di kambang, kemudian dijemur sebelum dianyam. Dulu di Kolong Gunung Muda di ujung kmp.Sincong, di bawah “Len Listrik” banyak sekali terdapat tanaman Purun. Saat ini, walaupun kolong semakin banyak membuat bopeng wilayah Belinu karena TI, Namun tanaman Purun kian langka. Karena Purun baru tumbuh setelah kolong berusia puluhan tahun.


Generasi sekarang sudah jarang melihat Daun Simpur sebagai pembungkus. Buah kemunting sudah tidak dijual lagi. Tape Ubi tidak menggunakan Daun Simpur lagi. Semua sudah menggunakan “tas kresek” hitam, yang dibuat dari sampah plastik daur ulang plastik bekas. Sampah yang kian banyak menyumbat “bandar-bandar” (selokan) di Belinyu, didominasi “tas kresek” ini. Perlu kita tahu, bahwa sampah Tas Kresek ini, baru terdaur ulang oleh tanah dalam jangka 60 tahun. Kini jaman semakin maju, dunia semakin praktis, namun budaya hidup manusia semakin tidak ramah terhadap alam. Sebuah kantong plastik yang kita buang di kota Belinyu, 60 tahun lagi baru hilang. Lamo..yo!