SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA DI BULAN RAMADHAN
SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH SWT
DAN KITA DIMASUKKAN DALAM GOLONGAN ORANG YANG BERIMAN
MATERI BLOG INI SEBAGIAN DIAMBIL DARI NASKAH UNTUK BUKU YANG AKAN DITERBITKAN. DIKUMPULKAN BERDASARKAN CERITA DARI MULUT KE MULUT. TEAM KAMI AKAN MENAMBAH POSTING, UNTUK MENELUSURI SEMUA SEJARAH NAMA KAMPUNG YANG ADA DI KOTA BELINYU. KOMENTAR YANG DIKIRIM PENGUNJUNG MELALUI CONTENT COMMENT, DILUAR TANGGUNG JAWAB KAMI. APABILA PENGUNJUNG MEMPUNYAI CERITA, LEGENDA TENTANG KOTA BELINYU, FOTO JADUL, KIRANYA DAPAT DIKIRIM KE REDAKSI ____guraping@yahoo.com____
NOSTALGIA PUASA DI BELINYU
Kalau ingat Bulan Puasa di Belinyu akan membawa sejuta kenangan. Bulan puasa merupakan hari-hari istimewa, lain dari hari biasa, terutama ritme kehidupan dan apalagi kalau bukan masalah kuliner.
Tidak seperti sekarang, di Belinyu, jaman dulu tidak terlalu banyak tersedia bahan makanan istimewa. Untuk berbuka puasa, di pasar cuma tersedia, dawet, beluluk (kolang-kaling) dan cincau hitam, serta bahan-bahan kolak. Itu saja variasi bahan untuk berbuka pembuka puasa.
Untuk sembako, korma dan sirop (limus) sebagian masyarakatnya bekerja di PT. Timah (TTB), mendapat jatah dari perusahaan yang dibagikan menjelang lebaran. Kormanya, korma kiloan, dengan mutu yang cukup baik. Sirop mendapat jatah beberapa botol, yang biasa juga dibagikan ke saudara-saudara (kemanak) yang tidak bekerja di TTB. Juga ada gula, minyak, kacang hijau. Karyawan juga mendapat uang THR (duit ari ayo)
Pagi hari, ibu-ibu sudah belanja ke pasar, selain membeli ikan, sayur mayur, juga membeli bahan minuman seperti “cincau hitam”, “beluluk” atau “dawet”. Kadang juga belanja ini dilakukan sore hari setelah pulang bekerja jam 2 siang, sekalian untuk persiapan lauk makan sahur. Ikan dibungkus “daun simpur” diikat “tali purun”. Sayur cukup diikat begitu saja. Saat itu belum ada tali plastik atau “tas kresek”, jadi harus membawa “sankek rotan” (keranjang rotan).
Jam 6 sore, suling bengkel berbunyi tanda berbuka puasa. Sesudah berbuka dengan “es limus” minum cincau hitam yang di potong halus campur air gula, biasa juga menyantap kue-kue khas Belinyu seperti roti beras, roti ambon, ketan sambel yang dijual dengan cara dijunjung pakai “penampi” (nyiru). Lebih istimewa kalau makan kelesan (empek-empek) atau cacak ikan, dengan saos cuka biasa atau cuko “tauco”.
Kalau tidak ada ikan (musim bulan terang) atau dana tipis? Cukup membuat “kiping gandum” (semacam lempengan gandum, yang digoreng). Atau “jemput-jemput pisang”, ataupun “begodo bawang” (gandum dan bawang merah yang digoreng dan dicocol dengan cuka kelesan).
Setelah berbuka puasa, dilanjutkan shalat Magrib, yang kekenyangan Magribnya ..lewat!. Habis shalat magrib, baru menyantap makanan berat, atau nasi. Lauknya? Macam-macam tergantung situasi dan kondisi. Bisa rajung (kepiting) atau sotong (cumi), “ikan panggang” (ikan bakar) pakai cecel (sambal cocolan) rajangan nanas, atau binjai atau bacang, tergantung musimnya. Bisa juga sambal tomat atau kecap dicampur rajangan cabe, dan perasan jeruk kunci. Kadang juga Ikan dimasak “mangut”, atau “lempah kuning”, “lempah nanas”, “tumis asem”. Kadang juga ada masakan olahan seperti “sate godok”, “begodo udang serum” atau “ikan bilis goreng tepung”.
Jangan lupa sayur, ada bermacam-macam sayur. Ada “lempah darat” timun, kacang panjang , sawi yang dimasak dengan air “belacan” (terasi), Lombok dan garam, yang disebut bumbu tigo (tiga). Bisa juga “keladi” yang dilempah darat, yang disebut lempah keladi. Namun tidak semua jenis keladi yang bisa di jadikan sayur, karena ada keladi yang gatal. Kalau nangka muda, kacang panjang daun belinjo bisa dimasak sayur gemuk atau “lempah nangko” (nangka masak santan).
Yang doyan lalapan, cukup ambil di sekitar pekarangan, di kebun atau minta tetangga, daun ubi, daun pepaya, jantung pisang, nangka muda rebus. Sambalnya, bisa “sambal belacan”, “rusip” atau “caluk”. Mau yang lebih exotic, bisa pakai sambel “pekasem” (fermentasi teritip). Jangan lupa semua pakai perasan jeruk kunci yang kecutnya… ruarrr biasa.
Habis makan kembali menyantap es limus, yang es nya di beli di pabrik Es Bongkisui (dekat bioskop Belia), maklum lah pada saat itu kulkas belum banyak, dan tidak semua orang mampu membelinya. Satu balok ukuran 10x20 dan panjang 50 cm, cukup tukar uang 50 rupiah. Mau ngirit, bisa membeli ½ seharga 25 rupiah. Sebelum berangkat membeli sampaikan dulu tetangga kiri kanan barangkali ada yang nitip untuk dibelikan (biasanya pasti ada yang nitip). Ini perlu, karena suatu saat mungkin kita yang nitip.
Jangan berharap es balok itu dibuat dari air masak. Dari air mentah yang dimasukkan ke kotak kaleng, yang kemudian direndam dalam air es campur garam. Walau es balok ini berbahan air mentah, pembeli tidak protes, yang penting es batu. Penjualpun tidak menutupi-nutupi, dan tidak bermaksud membohongi konsumen, silahkan masuk kedalam lihat. Kalau mau boleh beli kalau tidak juga tidak apa-apa, karena es ini juga bisa dijual kepada tukang ikan untuk mengawetkan ikan dari Pesaren atau Bubus.
Awas jangan membeli es batu terlalu sore, karena bisa kehabisan. Kalau ada es batu tersebut akan diikat dengan tali “purun”, minta dobel, karena bisa longgar atau putus kalau digantung di stang sepeda (motor belum banyak, dan belum ada beli cara kredit). Sampai di rumah es batu di “gepuk” (dipukul) di masukkan sirop, diminum satu keluarga.
Selanjutnya shalat Taraweh. Boleh pilih, mau yang 8 rakaat atau 21 rakaat, semuanya boleh, walau masing-masing faham merasa benar sendiri. Sebelum Teraweh ada shalat Isya. Habis itu ada sedikit ceramah, yang isinya itu-itu saja, yaitu puasa itu sebagai solidaritas sosial, merasakan laparnya orang miskin. Konsep ceramah diambil dari buku-buku ceramah terbitan Yudistira atau Tiga Serangkai Solo.
Awal puasa Mesjid penuh sesak, pertengahan puasa semakin maju, maksudnya shaf semakin maju, alias makmumnya berkurang. Yang muda mulai menghilang tinggal para “balita” alias bapak-bapak lima puluh tahunan. Mendekati akhir puasa jemaah sedikit bertambah, tetapi tidak sebanyak di awal ramadhan.
Tanggal 17 Ramadhan, Nuzulull Qur’an ada sedikit kegiatan di mesjid-mesjid besar seperti Mesjid kampung tengah atau Al-Inayah, mesjid TTB. Tgl. 21 Ramadhan disebut malam “likur-likur” diambil dari bahasa Jawa “selikur” yang artinya 21.
Anak-anak mulai membuat “tenglong” (lampu di bungkus kertas minyak), atau kaleng susu yang dipasang lilin, dan dipasangi kayu sebagai pegangan seperti senter. Bisa juga membuat obor minyak tanah dari bambu. Pada saat itu minyak tanah tidak sulit dibeli di toko Ajiu, Toko Anam, atau Toko Apung. Untuk bukit ketok, di Toko Akap.
Meriam bambu, atau pipa besi sesekali terdengar, mainan ini disebut “dum-dum”. Pecahan karbit, dicampur air, dimasukkan ke pipa besi seukuran tiang listrik, panjang 1 m. Setelah ditutup kaleng disulut api, meledak mengeluarkan suara yang cukup menggelegar, yang kaget akan misu-misu “celako lah budak nih. Muat wong tekejut bai ikak nih”. Karbit minta di bengkel TTB atau bengkel Alip.
Habis teraweh, masih lapar? Bisa mencari pantiau, lakso, mie kocok, atau model (semacam empek2 berkuah) di sekitar Kampung Tengah atau Sungai Ketok. Habis itu selesai semua, tidak ada acara lain, mall tidak ada, televisi belum banyak, lampu sudah mulai redup. Jam Sembilan sudah banyak yang tidur, malem “sepi suik”. Belinyu-pun lelap.
Pukul 3 dini hari ibu-ibu sudah bangun memanaskan makanan untuk makan saur. Jam setengah empat makan sahur. Shalat Subuh, bagi yang shalat. Bila hari Minggu, habis Subuh, jalan pagi, sebagian naik sepeda. Anehnya semua jalan ke arah Panji, bahkan sampai ke Batu Tunu. Para remaja, dengan riang gembira jalan santai karena bisa sambil “ngepek” (mencari pacar). Yang istimewa, masyarakat non muslimpun ikut jalan. Selesai itu matahari sudah diufuk fajar, matahari mulai mengintip, masing-masing pulang untuk melanjutkan tidur.
Itulah nostalgia bulan puasa di Belinyu, tidak semua kita pernah melakukan nostalgia ini, tetapi kondisi dan sedikit kegiatan tersebut mungkin pernah kita lakukan atau kita saksikan kalau kita memang pernah tinggal di Belinyu. Selamat menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih.
(Artikel ini pernah ditulis di web: belinyu.net)
Segala lauk pauk rasa Belinyu ada di sini. Yang beli tenang yang jual senang (foto dicopy dari belinyu.net)
Ikan kembung goreng, ayam masak kecap, ikan panggang bumbu, sotong goreng (foto dicopy dari belinyu.net)
Koran "Suara Karya" yang sampai saat ini masih terbit, dalam format lain. Koran ini dulu dapat dari TTBTerkait posting Pasar Belinyu, kita bernostalgia dengan alat pembungkus di pasar. Seingat penulis, “tas keresek” (kantong plastik) sebagai pembungkus, mulai ada di Belinyu sekitar paruh 80an. Sebelum itu kemasan pembungkus menggunakan kertas koran bekas atau dedaunan.
Adalah Daun Simpur yang biasa digunakan sebagai “cilok” untuk membungkus barang-barang basah di pasar, seperti ikan, sayur dan lain-lain. Cara menggunakan daun ini adalah dengan membuatnya seperti kerucut. Kalau perlu cilok lebih besar, ditambah 2-3 daun sehingga menjadi kerucut ukuran jumbo, untuk membungkus ikan kepetek atau ikan ciu, untuk dibawa pulang dengan “sangkek rotan” (keranjang segiempat dari anyaman rotan).
Tanaman Simpur (sumpun), yang daunnya cukup lebar digunakan untuk membungkus. Perdu ini banyak tumbuh di Pulau Bangka, khususnya di Belinyu. Tidak ada manfaat ekonomi lain dari tanaman ini selain diambil daunnya
Pengikat cilok Daun Simpur ini adalah “Tali Purun”, (tali plastik jaman itu belum banyak), yaitu tali yang terbuat dari tanaman Purun, yang berbentuk batangan berongga sebesar sedotan plastik. Tumbuh di rawa atau tepian kolong. Setelah dicabut, tanaman yang panjangnya kira-kira 1,5 meter ini dipukul-pukul (digepuk) sampai pecah-pecah dan lentur, kemudian dilipat dua dan diikat juga menggunakan tali purun. Ikatan Tali Purun ini digantung di meja pasar, dekat kotak uang, agar mudah ditarik satu tangan sementara tangan yang lain memegang bungkusan Daun Simpur.
Inilah tumbuhan Purun, sejenis rerumputan yang tumbuh di rawa-rawa atau kolong tua. Batangnya digunakan untuk tali pengikat. Bisa juga diannyam menjadi tikar atau tas. Banyak juga terdapat di Kalimantan. (foto ini di upload dari "endro-endro.blogspot.com")
Ikan besar yang tidak bisa lagi dibungkus, seperti tongkol, atau tenggiri, cukup diikat ekornya dengan tali purun untuk “di-cangking” pulang dengan “kereto angin” (sepeda) Dijamin tidak akan putus. Begitulah, pada jaman dulu, pedagang pasar Belinyu membungkus dan mengikat jualannya.
Ditoko-toko juga kadang Daun Simpur digunakan untuk
pembungkus asem, belacan dan kawan-kawannya. Selain itu juga, dipakai untuk cilok jualan buah kemunting, keranji, biasa juga dibuat “pincuk” untuk pembungkus tape ubi. Kalau digunakan untuk pincuk, tulang daun harus dibuang dulu, agar lembaran daun menjadi lentur, sebagai pembungkus tape ubi. Ujun
gnya disematkan biting dari lidi kelapa. Dan Tape Ubi bisa mulai dijual keliling kampung, dengan “penampi” dijunjung di kepala. Tapeeee…Ubiiiiiii.!...Tapee…Ubiiiiiiiii
Tape ubi dibungkus daun simpur (foto Christinetanod.multiply.com)
Menurut yang punya foto, bungkusan daun simpur ini adalah tahu yang dijual. (chritinetanod.multiply.com)
Hingga tahun-tahun 80an, bahkan nasi bungkus dari Pesanggrahan TTB, masih menggunakan Daun Simpur diikat Tali Purun. Nasi yang dibungkus daun simpur terasa lebih harum, ketimbang dibungkus kertas atau kotak karton seperti Nasi Padang. Apalagi dimakan pada saat lapar kerja lembur karyawan TTB.
Pendek kata, jaman itu Daun Simpur merajalela di kota Belinyu. Setiap pagi daun simpur ini dipasok dari Kusam, Gunung Muda, Thaikongpoi, parit-parit. Memang jaman itu, banyak orang yang berprofesi khusus mencari Daun Simpur, sebagai kemasan yang ramah lingkungan ini.
Pohon Simpur bisa juga menjadi pohon peneduh, karena daun-nya lebar dan rapat serta tidak mudah lepas. Pohon Simpur dalam foto ini bibitnya dibawa dari Belinyu dan ditanam di Cisarua Puncak, oleh pemilik Villa yang kebetulan wong Belinyu. Cukup subur juga tumbuhnya. Buah Nanas yang melekat di pohon cuma pajangan. Menurut yang punya, foto ini adalah waktu acara kumpul-kumpul "Blijong Club" di Puncak Bulan Juni 09 kemarin (Foto di copy dari FB. Ibu Elizabeth Wan Lie, dan telah seizin beliau, Sin mung ya Bu!)
Tanaman Simpur, banyak tumbuh liar di lelap (rawa-rawa) atau bekas tambang-tambang di Belinyu. Daunnya lebar mirip daun jati, yang tua agak getas seperti daun mangga. Dibawa ke pasar dalam bentuk gulungan. Satu gulungan berisi 10 lembar. Harganya pada saat itu 50 rupiah saja, kira-kira Rp.500 kurs uang sekarang. Tidak ada kebohongan dengan memasukkan daun yang jelek atau bolong-bolong ke dalam gulungan. Semua daun bagus dan mulus. Tiap tukang sayur atau penjual ikan sudah mempunyai langganan pemasok sendiri, dan sudah saling paham berapa gulung kebutuhan tiap penjual.
Sedang tanaman Purun sebagi tali pengikat, merupakan gulma di rawa-rawa, tepian kolong-kolong tua. Purun ini bisa juga dianyam menjadi tikar, atau “sangkek” (tas). Supaya awet dan lentur, Purun harus direndam dulu di kambang, kemudian dijemur sebelum dianyam. Dulu di Kolong Gunung Muda di ujung kmp.Sincong, di bawah “Len Listrik” banyak sekali terdapat tanaman Purun. Saat ini, walaupun kolong semakin banyak membuat bopeng wilayah Belinu karena TI, Namun tanaman Purun kian langka. Karena Purun baru tumbuh setelah kolong berusia puluhan tahun.
Generasi sekarang sudah jarang melihat Daun Simpur sebagai pembungkus. Buah kemunting sudah tidak dijual lagi. Tape Ubi tidak menggunakan Daun Simpur lagi. Semua sudah menggunakan “tas kresek” hitam, yang dibuat dari sampah plastik daur ulang plastik bekas. Sampah yang kian banyak menyumbat “bandar-bandar” (selokan) di Belinyu, didominasi “tas kresek” ini. Perlu kita tahu, bahwa sampah Tas Kresek ini, baru terdaur ulang oleh tanah dalam jangka 60 tahun. Kini jaman semakin maju, dunia semakin praktis, namun budaya hidup manusia semakin tidak ramah terhadap alam. Sebuah kantong plastik yang kita buang di kota Belinyu, 60 tahun lagi baru hilang. Lamo..yo!