PASAR IKAN BELINYU :

Inilah bekas pasar Belinyu yang pertama. Entah sejak kapan didirikan yang jelas puluhan tahun lalu disini pernah berdiri pasar tradisional becek, yang jelas sekitar tahun 75an setelah mengalami kebakaran, pasar tersebut dipindahkan 1000m ke arah Aek Cepedak.
Disini dulu pasarnya berbentuk lost-lost terbuka dengan meja-meja beton, yang kotor kecoklatan untuk berjualan ikan di sebelah kanan. Lost bagian tengah untuk sayur, sedang di bagian kiri adalah lost menjual 9 bahan pokok, termasuk belacan asem garem.
Untuk lost tertutup terbuat dari papan. (jaman dulu belum ada Rollingdoor,) jadi pintunya berupa kepingan papan yang disusun vertikal. Selalu ada angka disetiap papan, mencegah salah susun, yang apabila salah urutan susunannya akan menyebabkan macet.

Sebagaimana pasar yang lain, kegiatan ekonomi penunjang pasar "supporting are", seperti penjual buah-buahan (buah lokal, tidak ada buah apel, anggur import) terdapat juga disamping. Ada tukang cukur, Hoklo Sepeda (Toko Sepeda) ada di depan pasar. Disampingnya ada toko sepatu. Diantaranya ada penjual Mie. Ada toko "Lie Kon Nen", yang cukup lengkap barangnya, juga ada toko "Jong Muk", sedikit ke sana ada Toko "Anen", ada juga Warung Kopi Akiong (yang sampai sekarang masih ada). Demikianlah warga Belinyu menyebut toko-toko itu, saking akrab dan lamanya berinteraksi antara pedagang dan pembeli sesama warga Belinyu.

Relawan penjaga pasar Belinyu adalah seorang yang dipanggil "Derasak"., konon, katanya berasal dari Kampung Kacung , Bangka Tengah. Senantiasa pakai celana pendek dekil, baju yang kotor, kadang telanjang dada, rambut uban gondrong acak-acakan, kumis putih yang panjang, pandangannyanya nanar dengan mata selalu merah akibat mabuk. Derasak si "Drunken Master" ini sebatang kara, tidak punyak sanak kadang, profesi awalnya adalah "tukang panjat kelapa", tinggal di salah satu pojokan pasar. Dari para penjual Derasak mendapatkan uang tip, untuk kehidupannya. Karena tinggal di pasar. otomatis urusan perut bukan problem. bagi dia. Setiap sore dengan tekun dia menyapu semua areal pasar dengan sapu lidi. Setelah bersih dan menjelang malam, dia melaksanakan hobbynya berupa : "minum arak" hingga teler. Siang biasa masih tidur menikmati mabuk arak nya. Sore bangun kembali, membersihkan pasar dan kembali teler. Demikian irama hidupnya selama puluhan tahun.

Walau ilmu kesehatan mengatakan alkohol tidak baik untuk kesehatan, yang mengherankan si Derasak ini usianya cukup panjang. Ketika meninggal sekitar tahun 75 an, mungkin usianya juga diperkirakan sudah manula. sekali , yang jelas ketika kita sudah dewasa melihat Derasak ini, sama seperti dulu waktu kita kecil melihatnya, seakan-akan tidak berbeda dalam kurun puluhan tahun. Saking melegendanya Derasak ini di Belinyu, bila ada orang yang rambutnya acak-acakan, atau pakai baju awut-awutan, orang Belinyu mengatakan "seperti Derasak". Namun bagaimanapun, Derasak ini telah berjasa kepada Warga Belinyu dengan profesi sebagai pembersih pasar selama puluhan tahun, tanpa mengharapkan diangkat jadi Pegawai Negeri.

Saat ini, bekas lokasi pasar pertama di Belinyu telah menjadi pusat pertokoaan dan terminal. Terminal ini memang sudah di sini sejak jaman dulu. Sejak mulai ada oplet ke mantung, yang menggunakan tenda terpal, dengan duduk saling berhadapan hingga jaman model mobil angkot sekarang ini.



Dibelakang Tugu pertigaan jalan ini, dulunya terdapat Pasar Belinyu yang ke-2 setelah pasar Derasak terbakar. Lokasi pasar ini mulanya cukup representatif, karena banyak ruko-ruko tembok di sekitarnya. Ruko ini di bangun setelah ruko kayu di Belinyu terbakar tahun 1978, yang melalap habis pertokoan pasar, mulai dari Simpang Aek Cepedak" sampai depan pasar. Ludes habis.

Tahun 2005, pasar ini sudah terasa sempit, dan dipindahkan ke daerah "Aek TTB" dekat Perumnas, oleh seorang investor, hingga keberadaannya sampai saat ini. Bekas pasar lama ini telah dirobohkan, dibuat jalan masuk ke arah Aek TTB membelah bukit kecil di belakang pasar. Jaraknya kurang lebih 800m. Cukup representatif namun lumayan jauh, bagi warga Belinyu kebanyakan yang ke pasar menempuh jalan kaki. Tugu ini berada di pertigaan jalan baru menuju Pasar baru.


Pertokoan yang dilihat dari pertigaan atau Simpang Aek Cepedak ke arah pasar. Di kiri adalah Jl.Aek Cepedak, Kanan Jl. Sumur Laut dan belakang adalah dari arah terminal. Di pertigaan ini terdapat Bengkel sepeda, toko kelontong, dan penjual Baju di seberang. Di perempatan (ke arah Aek Cepedak) ini kalau pagi ada penjual "Holopan" terang bulan yang enak.
Warga Kampung jawa, Aek Kacip, melewati Jl. Aek Cepedak kalau ke Pasar. Didekat sini juga menjadi pos bagi warga Aek Kacip, Aek Cepedak, Aek Asem untuk bersama-sama pulang dari pasar. Juga menjadi tempat mangkal warga Pesaren, bubus yang akan pulang. Sebuah oto tambang warna Hijau ke Pesaren atau Bubus biasa parkir di Aek Cepedak ini.



Jalan dari sampaing pasar lama menuju Pasar Ikan yang baru saat ini, dulu daerah ini merupakan bukit kecil, kebun karet. Tower berada pas di seberang Pasar ikan yang baru.



Pasar ikan Belinyu, saat ini. Dibangun atas upaya seorang investor warga Belinyu, yang perduli dengan Pembangunan di Belinyu. Prosesnya BOT, atau tukar guling (overslaag), kami kurang jelas. Yang pasti Pasar ini lebih baik dan lebih luas dari Pasar yang lama.



Kesibukan di Pasar Ikan yang Baru, yang berlokasi di Depan Air TTB, Jl. Perumnas ke arah Jl.Pekuburan. Lahan parkir yang di dominasi oleh Sepeda Motor. Sepeda atau "kereto angin" sudah sangat jarang kelihatan di pasar ini.


Lost pasar ikan, yang dimana-mana selalu kotor dan bau amis. Seorang penjual daging ayam potong sempat terekam kamera. Dulu sekitar 70an di pasar Belinyu, ayam biasa dijual berupa ayam kampung hidup. Itupun agak susah di dapat kecuali lebaran atau Hari Raya. Ayam Broiler, belum ada pada saat itu. Sekarang daging ayam potong sudah banyak dijual di pasar, apalagi harganya kadang lebih murah dari harga ikan yang didatangkan dari Laut Sungailiat. Laut Belinyu...? Semua habis oleh kapal keruk dan TI apung.......


Jembatan ini yang disebut Aek TTB. Berada pas di depan pasar ikan Belinyu sekarang. Jalan ini menuju arah ke Pekuburan, sedang di belakang adalah Perumnas Lapangan Bola. Samping kanan Pasar.


Kampung Wasre :

Wasre, berasal dari bahasa Belanda “wasrijn” yaitu: was=cuci, rijn=masak. Jadi “wasrijn” artinya “mencuci/memasak”. Lidah Belanda mengucapnya “wasrei(j)”, wong Belinyu menyebutnya “wasre”.

Di Wasre inilah tempat mencuci dan menggoreng pasir timah dari seluruh Parit/TK di Wilasi Belinyu, Timah yang sudah dilimbang di “sakan/sakew”, dimasukkan ke dalam drum besi, lantas dibawa ke wasre pakai truck Chevrolet biru dengan pengawalan PKPT (Satpamnya TTB) sambil menenteng senapan LE, mirip senapan koboi mengawal kereta kuda membawa emas di film-film western.

Tiba di wasre, dilakukan pencatatan dan penyerahan “surat muat timah”. Drum timah diturunkan mobil derek (mobil pancing) beroda tiga dengan kemudi di roda belakang. Mobil pancing ini merk “Eister”, berwarna kuning ini biasa juga disebut “wong Belinyu” mobil “Eister”. Dalam tugasnya Eister ini dibantu juga sebuah Forklift yang disebut mobil garpu.

Dengan mengait kabel baja “slink” pada kuping, drum ditimbang dan dibawa ke bak-bak besar untuk dicuci dengan cara disemprot air bertekanan tinggi yang berasal dari Kolong Wasre. Setelah itu pasir timah dicuci menggunakan “zeef” (ayak/saringan), yang disebut orang Belinyu sebagai “jek”. Proses pengayakan ini juga menggunakan batu kerikil hitam yang disebut “batu jek”. Sangat bagus untuk umpan betet. Air limbah bekas mencuci dibuang ke belakang Wasre, ke “Kambang Kimpuk” terus melintas Jl.Balar, samping Gereja Ayam, hingga ke Jeramba Busen sana.

Pasir timah yang sudah bersih kemudian dimasak, atau lebih tepatnya digoreng. Kemudian dimasukkan ke dalam “Kampil Timah”, dijahit, dan dikirimkan ke Peltim, untuk dilebur menjadi Balok Timah.

Adapun Kampil Timah berupa karung kecil dengan tulisan “Bangka Tin”, terbuat dari terpal putih yang sangat kuat mutunya. Sering juga digunakan untuk kampil tempat parang ke kebun. Kadang juga digunakan untuk tas anak sekolah, setelah di buat rumbai-rumbai pada tepinya. Bahkan ada yang menggunakannya sebagai bahan “sepan panjang” alias celana panjang.

Saat ini bangunan Wasre sudah hilang tak berbekas, sepotong besipun tiada sisa. Sedangkan Komplek Wasre tetap menyisakan beberapa rumah yang masih asli. Sebagian juga sudah di “dum” kepada karyawan dan difermak menjadi rumah gaya masa kini.

Jalan menuju Wasre adalah lewat Bukit Ketok, namun bisa juga dari jalan bawah, lewat Kambang Kimpuk atau kebun Tuk Yasin yang tembus ke rumah Ce Juki dan Jalan Balar. Ada juga jalan tikus yang tembus ke Rumah Sakit TTB. Dari ke tiga akses inilah karyawan Wasre menempuh tempat Kerja, dengan 3 “aplus” (shift Kerja) . Kepala Wasre sendiri, tinggal di atas Bukit Wasre dekat Kamar Mati.

Berhubung komplek wasre ini cuma kira-kira 10 unit rumah, dan yang tingal di situ cukup lama, maka tidak banyak warga yang pernah tinggal disini. Ditambah tempatnya yang tersembunyi, wasre akan “sepi suik” di malam hari, yang tersisa cuma suara pianggung di hutan Tuk Yasin, dan kodok di sawah Tuk Agus di sisi yang lain. Inilah sekelumit tentang Kampung Wasre yang ada di kota Belinyu.


________


Senapan jenis LE adalah senjata organik PKPT alias Satpam Timah, yang dibawa petantang-petenteng mengawal biji Timah dari Parit/TK ke Wasre. Senapan ini memakai magazin 5 peluru. Setiap kali hendak menembak, gerendel kokang di bagian atas harus ditarik lebih dulu. Foto ini dijepret di Museum Kapasus-Cijantung.


Jalan menurun Bukit Wasre dari persimpangan Kamar Mati (Kamar Mayat Rumah Sakit TTB), menuju langsung ke Wasre sebagai tempat Pencucian biji Timah. Bangunan Wasre yang berada di sini dulu, sudah lenyap sama sekali, sepotong besi pun tak disisakan para pengumpul besi tua.



Inilah kondisi Kolong Wasre sekarang. Dulu kolong ini berbentuk danau, dari sini sumber air untuk mencuci pasir timah. Airnya bersih dari Pasir Mera/ Gunung Pelawan. Banyak ikan gabus, tanah-tanah dan ikan sepat. Mennurut cerita bahkan dulu ada buayanya. Sekarang kolong wasre sudah hilang seiring dengan zaman. Tidak cukup buat alam untuk menunjukkan existensinya bagi generasi sekarang. Akibat ulah manusia sendiri.



Dari Bukit Wasre belok kanan terdapat 4 rumah dinas, kearah kelekak Tuk Yasin



Rumah tua, tempat penulis dilahirkan th.66 dan dibesarkan hingga thh.71. Seluruh lingkungan Wasre adalah bagian dari kenangan. Rumah ini terletak paling ujung, dekat kelekak Tuk Yasin, menghadap ke bawah.



Sebagian Rumah Dinas di Wasre telah dibeli karyawan Timah. Rumah pemilikan pribadi tersebut sudah direnovasi, menjadi rumah model masa kini, dengan ukuran kapling yang cukup luas.


Rumah tua yang membelakangi kolong Wasre ini, dulu terdapat Lapangan Bulu Tangkis di samping, juga dua pohon Nangka Bubur besar.



Kalau kita belok kanan turun dari Bukit Wasre kita akan tiba di sini. Kearah bawah terdapat lembah dan dulu ada sawah dengan tanaman padi. Dari dulu aspal di sini mengelupas seperti itu.



Rumah ini bersebelahan dengan Kantor Wasre . Dulu terdapat Pohon Mangga besar. Rumah ini cukup lama didiami keluarga Oom De Lima.


Sebuah rumah di Komplek Wasre.



Rumah yang berada di ujung Wasre arah ke Sawah Wak Agus, menghadap rumah Bik Yang, sayang pohon kedondong dan jambu bol disamping sudah tidak ada lagi. Inilah generik rumah dinas TTB di Wasre, yang sudah berusia sekitar 70 tahun lebih.



Bik Yang dan Oom Bang Cit, adalah satu-satunya pasangan tertua yang masih setia tinggal di Wasre. Penulis sempat mengunjungi beliau tahun.2008 kemarin. Hampir seluruh masyarakat Wasre, pasti mengenal beliau dengan akrab. Di rumah atau dipekarangannya anak-anak Wasre sering bermain, memanjat jambu air, rambutan atau salak. Kita doakan semoga beliau berdua senantiasa diberikan kesehatan.

Jl. Depati Amir :

Lokasi: Dari depan Rumah Sakit TTB, sampai Simpang Tiga Tangsi.


Nama jalan ini diambil dari nama seorang Patih, bergelar Depati, dari Kesultanan Palembang.

Kawasan ini merupakan kawasan yang paling elit ldi komplek TTB di Kota Belinyu sejak dulu, termasuk juga Jl.Curam, Jl. Balar, disebut warga Tionghoa “Holland Kai” (Kampung Belanda), warga Belinyu lain menyebut warga yang tinggal di sini “wong pucuk” (orang atas). Berpredikat “pucuk’ juga, karena memang secara geografis dari bawah, harus menempu bukit Kantor pos.


Perumahan di sini, dulunya dihuni sekelas Kawilasi, dan para Kepala Biro serta pejabat-pejabat TTB. Namun sekarang sudah tidak berlaku lagi, karena strata organisasi TTB, sudah tidak seperti dulu. Jalannya paling lebar, paling mulus dan tidak pernah berlobang.

Jaman jaya-jayanya PT.Timah, th.70-an, perumahan disini terawat rapi, dengan ukuran lebar kapling 50 m dan panjang ke belakang 100 m, kawasan ini kelihatan seperti “hasienda”. Apalagi kalau malam hari, dominasi cat warna putih dengan bilah-bilah lampu TL neon yang terang benderang, pantaslah kawasan ini menjadi yang paling elit di Belinyu. Namun sekarang, rumah-rumah tersebut kelihatan kusam, tak terurus, yang mencerminkan kondisi Bellinyu saat ini.


Jl. Depati Amir di lihat dari depan Rumah Sakit. Perumahan disini sudah kehilangan roh sebagai Komplek Perumahan, yang tinggal cuma sisa-sisa rumah tua.


Rumah ini pas di "segok" (sudut) depanh ruma sakit. Beberapakali didiami pejabat dengan jabatan Kepala Biro Permesinan. Yang agak lama menempati rumah ini, Bpk. Philips E Kapoh, Bpk. Siahaan.


Warga Belinyu menyebut gedung ini dengan nama "Up-Grading" (Peningkatan), karena sejak jaman Belanda, memang di sini dulu tempat pelatihan serta peningkatan kemampuan bagi Karyawan Timah, yang dipromosikan kenaikan pangkat. Selain sebagai tempat menambah pemahaman tentang tugas pekerjaan.

Masa perang Dunia, Gedung ini menjadi markas Belanda, selain Gedung Pesanggrahan. Jaman kedudukan Jepang, dijadikan markas tentara Jepang. Setelah itu giliran Indonesia, menggunakan Gedung ini sebagai markas "Sukwan" (Suka Relawan), yaitu Pasukan Cadangan yang terdiri dari Karyawan TTB yang dipersenjatakan dan dilatih ilmu militer di pantai Sampur Pangkalpinang. Kegiatan ini dalam rangka Konfrontasi dengan Malaysia. Saat itu Bung Karno menyerukan "Ganyang Malaysia", sehingga setiap karyawan Timah dikenakan Wajib Militer. Di pintu masuk Up-Grading ini terdapat pos jaga (orang Belinyu menyebutnya Rumah Monyet), dengan seorang "sukwan" berpakaian tentara berjaga-jaga di dalam rumah monyet itu.

Era tahun 70-an gedung bagian belakang tetap digunakan untuk pelatihan. Dibagian depan digunakan Taman Kanak-Kanak (TK.Panti Rini) sekelas TK.A, sebelum masuk ke TK.B di SD.St.Agnes. Penyelenggaranya adalah TTB. Gurunya cuma dua saja, Ibu Umi dan ibu Ratna. Cukup lengkap mainan dan peraga di dalam kelas. Di halaman terdapat dua ayunan dengan tali berupa rantai besi yang digantung pada pipa besi bekas dari tambang timah. Ayunan ini selalu di gembok, karena takut digunakan anak-anak yang bukan siswa TK. Panti Rini. Bisa sih mau menggunakan namun harus minta izin dibukakan oleh "Wak" penjaganya. Di halaman TK ini, yang bersebelahan dengan rumah Menteri Suroto, terdapat pohon "seri" dan sebatang pohon pepaya di sebelah rumah Dokter.

Tahun 75-an sebelum Mesjid Al-Inayah dibangun, di sinilah tempat Karyawan TTB jaman Kawilasi Pak Harsono, melakukan shalat Taraweh, di ruangan tengah. Cukup banyak nostalgia gedung ini.



Dokter yang bertugas di RS.Timah Belinyu selalu tinggal di rumah dinas ini. Seingat kita dr. Amiruddin, dr.Zul, dr.Aswin, dr.Muchtar, terakhir dr.Andi, pernah tinggal di sini. Dokter Rumah sakit, atasan langsungnya adalah Kepala Dinas Kesehatan di Pangkalpinang, namun koordinasi di bawah Kawilasi. Dulu halaman depannya cukup asri, teduh dilindungi pohon flamboyan, serta nanasan yang daunnya keras dengan ujung berduri. Pagar besi di depan, ditumbuhi perdu beluntas yang selalu dipangkas serta terawat rapi. Beberapa pohon kamboja dan halaman rumput hijau. Batu-batu kerikil juga dihampar di sekeliling. Di belakang banyak pohon kelapa yang masih ada hingga kini, serta satu dua pohon mangga, dekat lapangan bulu tangkis.


Rumah di atas, posisi tusuk sate dengan Jl.Curam, adalah Rumah Dinas untuk Jabatan Kasatsi (Kepala Satuan Produksi), kalau tidak salah rumah ini untuk Jabatan Kasatsi Utara. Pernah ditempati Pak.Tobing, Pak.Mustafa, Pak Hebat, dan seterusnya.
Di depan dekat pintu masuk dulu terdapat pohon jambu air yang cukup tua. Buahnya manisss ...dan celing, walaupun pohonnya banyak "kerengge". Pohon ubi karet di sepanjang tembok. Sedang di sebelah kanan terdapat pohon palem pakis yang besar. Ada juga sumur tua di depan.


Dibelakang banyak pohon kelapa, ada taman rumput dan "green" untuk Pak Tobing latihan "putting". Dapurnya dan teras belakang cukup tinggi, sehingga perlu melewati beberapa undak tangga.



Foto ini adalah bekas Rumah Dinas untuk Pejabat Apoteker Rumah Sakit, sedang di latar belakang (yang ada pohon kelapa), adalah Rumah Kepala Biro Explorasi dan Pemetaan. Di depannya terdapat pohon belimbing wuluh yang masem dan pohon kelapa. Disamping, dekat sumur tua, bebrapa pohon "katu" (cangkok manis" dan sebatang pohon turi serta pohon pepaya.


Ini Rumah Dinas Kasatsi Selatan. Rumah ini lama ditempati Bpk. Panjaitan, selanjutnya ditempati Bpk.Soeratmo. Dulu ada bunga Bougenvile dan beberapa tanaman Anggrek Macan.
Di seberang depan rumah ini terdapat Jalan yang tembus ke Gudang Beras., disamping lembah rumpun bambu Rumah ini bersebelahan dengan lorong yang tembus ke Kampung Jawa. Didepan adalah Mess Timah.II dan disamping kanan adalah Mess Timah-I, sebelum Pasanggrahan.


Bangunan ini dulunya adalah Mess Timah-I. terletak di samping Pasanggrahan. Dulu disamping kiri, dekat teras, ada 3 pohon Pinus (Pohon Ru, karena kalau ada angin kencang berbunyi: ruuuu.....).


Warga Belinyu mana yang tidak ingat dengan Pasanggrahan, terletak di tengah pertigaan Jl. Depati Amir di depan Krida. Dulu temboknya tidak dipagar besi, tetapi berupa tembok rendah dengan permukaan berbatu hitam halus. Di sinilah tempat duduk-duduk anak-anak Belinyu, di bawah Lampu Kuning di pertigaan. Walau yang duduk-duduk di sini kebanyakan dari Kampung Jawa, namun banyak juga warga lainnya yang sekedar duduk santai atau, menunggu teman sehabis nonton "pelem pre" untuk pulang ke bukit Ketok atau Saber.


Pasanggrahan atau Pesanggrahan, berasal dari kata "persinggah graha" yang artinya rumah singgah, berhenti sesaat atau istirahat. Pasanggrahan milik PT.Timah di Belinyu ini sejak jaman Belanda, memang untuk persinggahan atau penginapan bagi karyawan TTB yang di detasering, atau mengikuti kursus, atau tugas di Wilasi belinyu. Biasanya akan penuh sesak kalau ada pemindahan Kapal Keruk ke Belinyu. Bisa juga untuk penginapan sementara bagi karyawan yang dimutasi. Untuk yang pejabat di Mess Timah-II atau Mess Timah-II.

Pada jaman Kemerdekaan th.45-an, Gedung ini sempat dijadikan markas TKR Belinyu, sebelum mennyerbu ke Petaling, rembukan di sini dulu. Sebagai markas TKR, penjagaan dilakukan di pintu masuk, berdirilah pemuda Belinyu dengan tegap sambil membawa senjata, yaitu....bambu runcing, atau tombak besi.


Ini adalah Rumah Dinas Kawilasi Belinyu. Kawilasi adalah "Kepala Wilayah Produksi". Orang Timah nomor.1 di Belinyu. Rumah ini pas terletak di depan Lapangan Tennis. Awalnya bangunan di sini adalah Bangunan yang mirip di depan rumah Dokter, yaitu sebagai Mess untuk pelatihan karyawan. Tahun 60-an di roboh, dijadikan rumah Kawilasi. Rumah ini cukup besar dan halaman luas. Ada dua tower antena Yagi 3 elemen, serta pengarah komunikasi radio di sampingnya. dilengkapi lapangan bulu tangkis segala. Dulu rumah inilah yang paling besar, dan paling megah di Belinyu. Namun ....sekaranggg....hiks...hiks...kemegahan kota Belinyu tinggal kenangan dan cerita saja untuk generasi sekarang. Jl Depati Amir yang dulunya mulus, megah dan terang benderang, sekarang menjadi gelap gulita, kumuh tanpa menyisakan sedikitpun kemegahan.



JALAN MELATI :

JALAN MELATI :

Lokasi: Dari Simpang Toko Anam/Toko Apung sampai ke Simpang Ajat


Sejak dari dulu Jalan melati adalah kawasan pecinan alias tempat mukim warga Tionghoa dan terdapat Tao Pek Kong. Jalan melati ini dulu melintangi jalan trem. Belakangan di sisi jalan trem didirikan gedung SMP Negeri, dan dibangun Lapangan Stadion (lebih tepatnya lapangan bola kelas kampung) bersamaan dengan dibangunnya Mesjid Al-Inayah, tahun 70an.

Di lapangan Stadion ini pula, tahun 70-an pernah kedatangan rombongan ‘Oriental Sirkus” atas kerjasama dengan TTB pada. Cukup heboh juga tentunya pada saat itu, pertama kali bagi warga Belinyu kedatangan Gajah, Singa dan Macan Loreng. Beberapa Minggu seluruh warga Belinyu berbondong-bondong melihat pertunjukan sirkus itu. Apalagi atraksi manusia bergelantungan dan meniti kawat baja. Itulah satu kali seumur hidup rombongan sirkus datang ke Belinyu.


Jalan Melati ini, dulunya biasa disebut “Hoi Nam Kai”, atau “Kampung Hoinam”, karena banyak bermukim warga Tionghoa yang berasal dari Hoinam, Tiongkok. Hoi Nam ini bukan berada di daratan Cina, namun berada di Propinsi Hainan yang ada P.Hainan (selatan Cina Daratan). Namun sejauh yang kita tahu imigran yang didatangkan Belanda ke tanah Melayu, biasanya dari Daratan Cina pesisir, seperti Hakka, Kowlon, Kanton, Swatow. Mungkin karena mereka ini bukan dari Cina daratan, maka mereka mengumpul sendiri di Jalan Melati ini, sehingga pada saat itu disebut “Hoi nam Kai”. Saat ini, mungkin generasi muda tidak banyak yang tahu tentang nama ini, yang terkenal ya Jl.Melati atau juga kadang dipelesetkan menjadi “Kaimui”.



Trade mark Jl. Melati, adalah di simpang empat Toko Ajiu. Ke kiri Pahlawan-12, terus Jl.Trem, ke kanan Jl.Melati yang ke SMP Negeri.




Tao Pek Kong di Jl.Melati, depan Toko Ajiu yang legendaris. Dulu disampingnya ada toko kelontong, tutup sekitar th.70-an



Nama jalan menggunakan bunga, memang sangat tidak umum di Belinyu. Namun kita tahu memang banyak rumah-rumah di Jl.Melati yang menanam bunga di pekarangannya, namun kebanyakan mawar, bukan melati. Lagi-lagi aneh ya.


Masyarakat di Jl.Melati ini, bermata pencarian terutama berdagang, secara turun temurun. Yang namanya Toko Anam, Toko Apung, Toko Ajiu, semua melegenda di Jl.Melati. Juga sebagian membuat kempelang, atau jualan keliling. Mereka sangat setia dan tekun sekali dengan profesi masing-masing, inilah salah satu budaya orang Belinyu, yang patut dipertahankan, yaitu tekun dan tabah.


Salah satu sentra lain lokasi Jl.Melati. Sebelah kanan, yang ada motor parkir adalah Toko Apung berhadapan dengan Toko Anam (th.30. Toko Anam ini adalah sebuah Hotel). Toko yang sudah dijalankan tiga generasi.hingga kini . Dulunya Pak Apung ini selain membuka toko, juga sebagai Tukang Gunting. Konsumen kedua toko ini dari sekitar hingga Kmp.tengah, Sungai Ketok, Kmp.Gudang.Walaupun berhadapan, kedua toko ini tetap bersaing secara sehat dan tidak saling menjatuhkan, contoh hidup yang pantas ditiru. Rezeki memang misteri di tangan Tuhan.



Satu lagi yang menjadi nostalgia di Jl.Melati ini, yaitu banyak terdapat anjing peliharaan. Jadi kalau malam naik sepeda, apalagi di malam hari, lampu jalan banyak yang mati, siap-siaplah untuk angkat kaki kalau tidak mau digigit Scoobydoo. Minimal dikejar dan digonggong sekelompok anjing pun sudah membuat kita panik. Apalagi dulu perkerasan aspalnya tidak semulus sekarang, Cuma berupa batu kacang yang dilaburi aspal, itu pun sudah terlepas di sana sini.


Th.30 an di Jl.Melati ini terdapat beberapa hotel besar, salah satu lokasinya yang sekarang di tempati Toko Anam. Satu lagi bernama Hotel “Tungtek”, (th.80an dirobohkan), yang berada pas di tanjakan dekat Jembatan. Pokoknya pada saat itu, sebagai kota Keresidenan (semacam Kabupaten), Belinyu tentu banyak dikunjungi pendatang dengan berbagai kepentingan. Sehingga banyak terdapat beberapa Hotel besar. Selain itu, di Belinyu masih banyak terdapat “Parit”, (Tambang Timah). Pekerjaan di Parit ini semuanya serba manual, jadi banyak sekali tenaga kerja-nya, terutama pekerja-pekerja Kontrak dari Cina sejak abad 18an. Dan Kota Belinyu merupakan kota transit mereka dari parit-parit yang ada di Utara seperti Bubus, Pesaren, Simpang Tigo, dan lain-lain. Kondisi inilahyang membuat Kota Belinyu dulunya ramai, dan salah satu kawasan itu di Jl.Melati ini.



Bangunan tinggi (warna Cream) di sebelah kiri, yang berlokasi di tanjakan, Jl. Melati dulunya bekas Hotel Tungtek, di depannya terdapat sebuah lapangan Basket, milik "Klub Bola Basket Bayangan"(th.70an). Jalan Melati khususnya bagian atas, dulu cukup ramai, terdapat beberapa hotel, karena merupakan bagian dari "Simpang Limo" yaitu kawasan bisnis Depan Bioskop Belia dan sekitarnya.



Kini Jl. Melati sudah beraspal mulus, tidak banyak Anjing lagi, rumah-rumah Kayu kuno, berarsitektur Cina sudah banyak yang dirobohkan, berganti rumah modern. Bahkan Kelenteng di dekat Toko Ajiu-pun sudah kelihatan lebih keren. Sebagian warga Jl.Melati ini banyak yang merantau, pada saat Kongian dan Cengbeng, mulai terlihat ramai kembali, setengat satu dua minggu, untuk selanjutnya sepi kembali, seperti sepinya setiap sudut Kota Belinyu di jaman otonomi daerah ini.