MATERI BLOG INI SEBAGIAN DIAMBIL DARI NASKAH UNTUK BUKU YANG AKAN DITERBITKAN. DIKUMPULKAN BERDASARKAN CERITA DARI MULUT KE MULUT. TEAM KAMI AKAN MENAMBAH POSTING, UNTUK MENELUSURI SEMUA SEJARAH NAMA KAMPUNG YANG ADA DI KOTA BELINYU. KOMENTAR YANG DIKIRIM PENGUNJUNG MELALUI CONTENT COMMENT, DILUAR TANGGUNG JAWAB KAMI. APABILA PENGUNJUNG MEMPUNYAI CERITA, LEGENDA TENTANG KOTA BELINYU, FOTO JADUL, KIRANYA DAPAT DIKIRIM KE REDAKSI ____guraping@yahoo.com____
PEMBERITAHUAN:
BERITA PT.TIMAH :
BERITA KABUPATEN BANGKA:
Humas dan Protokol, 14-01-2009
Bupati Bangka H. Yusroni Yazid, SE menyambut positif wacana pembentukan Kabupaten Bangka Utara. Hal ini disampaikan Yusroni ketika memberikan materi Territorial Reform dan Dinamikanya untuk mendukung pembentukan Kabupaten Bangka Utara yang telah lama diidamkan masyarakat Belinyu dan Riau Silip di Gedung Krida Stania, Minggu (11/1). Hadir pada acara tersebut selain Bupati Bangka, antara lain Rektor UBB Dr. Bustami Rachman, Anggota DPR RI Babel Azhar Romli serta Kepala Biro Pemerintahan Babel Alamsyah Arsyad.
"Kita mendukung sekaligus mensupport pembentukan kabupaten pemekaran Bangka Utara ini namun kita harus melihat dari tinjauan banyak aspek," kata Yusroni.
Menurut Yusroni, secara umum konsepsi pemekaran sebuah kabupaten baru harus dilihat dari konteks tujuan dasarnya dan indikator kekayaan suatu daerah itu sendiri sehingga layak atau tidak untuk dimekarkan.
"Tujuan dari pemekaran daerah atau wilayah adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan meliputi peningkatan pelayanan masyarakat, percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi, percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah serta pengelolaan potensi daerah. Namun semua itu harus ditinjau dari beberapa aspek ekonomi. Kita sebagai Kabupaten Induk tetap mendukung semua itu," terang Yusroni.
Selain itu ungkap Yusroni ada 4 (empat) faktor pendorong tingginya semangat untuk melakukan pemekaran wilayah, yaitu pertama dalam rangka efektifitas / efensiensi (administrasi dispersion), mengingat wilayah yang begitu luas, penduduk yang menyebar dan ketertinggalan pembangunan. Kedua, kecenderungan untuk melakukan hegeminisasi daerah berdasarkan etnis, agama, dan lain-lain. Ketiga, adanya kemajemukan fiskal yang dijamin oleh Undang-Undang bagi daerah-daerah pemekaran seperti DAU, bagi hasil, SDA, PDA dan lain-lain. keempat, Bereaucratic and poltical rent seeking yaitu motif elite politik. Secara prinsipil atau dari segi yuridis, pembentukan daerah atau wilayah haruslah memenuhi tiga persyaratan, yaitu segi administrasi yang meliputi keputusan DPRD Kabupaten Induk, tentang persetujuan pembentukan calon Kabupaten. Keputusan DPRD provinsi, Gubernur tentang persetujuan pembentukan calon Kabupaten serta yang terakhir adanya rekomendasi menteri.
Selain itu syarat mutlak dalam pembentukan suatu wilayah pun mesti mengacu dari segi teknis dan fisik yang meliputi faktor kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan, keamanan, kemampuan keuangan, tingkat kesejahteraan masyarakat, dan tentang kendali penyelenggaraan pemerintah daerah. Kelayakan faktor-faktor tersebut harus berdasarkan dan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2007. Hal itu semua dimaksudkan agar daerah yang baru dibentuk dapat tumbuh berkembang dan mampu menyelenggarakan otonomi daerah dalam rangka meningkatkan pelayanan publik yang optimal guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan rakyat. Namun pembentukan daerah pemekaran tidak boleh mengakibatkan daerah induk menjadi tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. Daerah yang baru dibentuk maupun daerah induknya harus mampu menyelenggarakan otonomi
Jl. SINGAYUDHA (KANTOR WILASI BELINYU) :
Kompleks kantor Wilasi Belinyu ini terbentang cukup luas di wilayah kota Belinyu. Mungkin kota Belinyu tidak ada apa-apanya kalau tidak ada Kantor Wilasi dan Perumahan Karyawan. Bahkan sebagian infrastruktur olahraga, disediakan oleh PT.Timah di sekitar Komplek ini, spt Basket, Volley, Bulutangkis dan Tennis Lapangan. Sebagian besar bentuk bangunan yang ada, tidak berubah dari bentuk aslinya sejak didirikan oleh Belanda. Diperkirakan Bangunan-bangunan ini didirikan sekitar tahun 20an bersamaan dengan pengelolaan Timah oleh Belanda di Pulau Bangka. Adalah Perusahaan “V J Voolker” yang membangun seluruh infra struktur BTW (Banka Tin Winning) di Belinyu. Sebagai Rekanan atau Kontraktornya Belanda.
Kantor Wilasi Belinyu, PT.Timah saat ini. Diera tahun 70-80an, di depan kantor ini terdapat kolam yang ada air mancur warna-warni. Setiap tanggal 17 Agustus, di atas atap teras ini dipasang lampu hias, warna warni, kerlap-kerlip, ada juga gambar pahlawan dengan ikat kepala memegang bambu runcing hasil lukisan Bpk.Tukimun (seniman lukisan/patung yang tinggal di Jalan Sudirman. Yang hebat lagi ada bagian tubuh dari lukisan itu yang digerak dengan motor, sehingga dari jauh kelihatan seperti patung hidup yang bergerak-gerak. Dasar-dasar teknologi animasi rupanya sudah ada di Belinyu sejak tahun 70-an. Untuk ukuran kota Belinyu, hal ini sudah menjadi sebuah hiburan gratis bagi masyarakat. Banyak yang duduk-duduk di tembok SD.1 di depannya untuk melihat lampu hias, yang disebut “lampu kelap-kelip” 17 Agustus. Biasanya gambar perjuanagn dan lampu itu akan dilepas setelah satu bulan.
Sebelah kiri adalah Kantor Satpam, yang tengah adalah Bengkel Bubut, sedang sebelah kanan memanjang ke belakang adalah Bengkel teknik. Kedua Bengkel ini di pimpin Kepala Biro Bengkel Teknik. Selain juga Kepala Biro Bengkel Diesel (alat berat) berada di bagian lain dari bangunan ini. Dari bubungan bangunan sebelah kanan itulah suara sirine suling berbunyi. “Suling” atau biasa disebut juga “suing” adalah sirine, yang berupa toror berkisi-kisi, yang digerakkan motor listrik. Hampir seratus tahun suling ini masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Seluruh Belinyu pernah mendengar suling ini sebagai penanda waktu. Jam.6.00 pagi= membangunkan karyawan. Jam.6.45= siap-siap kerja. Jam.7.00=mulai bekerja. Jam.12.00= istirahat makan siang, Suling jam.13.00=masuk kembali. Jam.15.00 untuk aplus. Hari Jum.at berbunyi Jam.11.00. Sedangkan pada saat bulan Puasa saat berbuka, Sahur dan Imsyak. Pendek kata suling ini sudah semacam jam audio bagi masyarakat Belinyu, dan tidak pernah meleset bertahun-tahun. Banyak dari orang tua kita mengingatkan, “Ayo cepat berangkat ke sekolah itu suling kedua sudah berbunyi..!”.
Suling ini pada jaman Jepang juga difungsikan sebagai sirine untuk berlindung. Apabila pengintai laut melihat ada kapal perang, maka di telepon ke bengkel, untuk di bunyikan suling panjang tanda masyarakat Belinyu harus berlindung, di bungker-bungker galian tanah atau hutan. Kemudian berbunyi kembali kalau keadaan sudah aman.
Membunyikan suling ini cukup dilakukan dengan menurunkan handel (on), semacam saklar, untuk memutar motor, setelah itu di menaikkan handel untuk meng “off”.
Ini yang disebut “Garasi”, Biro Angkutan Darat, yang mengurus segala keperluan Angkutan Darat di Wilasi Belinyu. Rumah Dinas Kepala Biro-nya di bukit kantor pos, di bawah SMA YPN. Membawahi Kabag. Bengkel, Kabag.Angkutan, Logistik. Dulu PT. Timah memiliki banyak sekali mobil, baik truck, maupun mobil Penumpang. Di sebelah kanan adalah gudang spare part dan bengkel untuk memperbaiki dan menservis mobil, sedang di sebelah kanan adalah Gudang Oli dan Kantor, di atasnya, lt.2 adalah garasi mobiol penumpang. Sedang di tengah-tengah menghadap kemari adalah tempat cuci mobil.
Ini adalah bekas Kantor Bagian Bangunan. Bagian ini bertugas memperbaiki Infra struktur Wilasi Belinyu. Baik jalan, air bersih, bangunan dan pemeliharaannya. Bertindak juga sebagai Pengawas bagi pemborong-pemborong bangunan di lingkungan Wilasi Belinyu. Di bawahnya Bagian ini, terdapat Urusan Air Bersih, Urusan Perencanaan, Urusan Bangunan, Urusan Pengawasan, Urusan Bengkel Kayu. Kepala Bagiannya menempati Rumah Dinas di Jl. Balar.Di samping bangunan ini terdapat bangunan untuk bermain Bulutangkis, yang di sebut “Gedung” sampai sekarang masih digunakan untuk itu.
Sedang bangunan yang dilukisi gambar "luralo" adlah bekas Bengkel kayu yang kini berfungsi menjadi "kafe" kalau malam
Bengkel Listrik, yang sudah jadi monumen. PLTU Mantung, Cuma menghasilkan listrik saja, untuk transmisi dan pengaturan beban listrik, diatur oleh Biro Listrik yang berlokasi di sini. Kepala Biro Listrik yang rumah dinasnya di Jl. Air Cempedak (Samping Krida), ini bertanggung jawab kepada Kawilasi Langsung. Struktur di bawah Karo Listrik, adalah Ka.Bag 30KV. Ka.bag.220. Di bawahnya lagi beberapa Kepala Urusan (Karus).
Pom Bensin ini ada di depan rumah Bpk.Ajat. Dulu di sini bekas kolam disamping rumah Bpk.Tamsyah. Pom Bensin ini sekarang bersebelahan, dibatasi kali kecil, dengan Gereka Immanuel.
Bengkel listrik dan komplek perkantoran PT.Timah, dilihat dari atas Bukit depan Mesjid Al-Inayah. Sejak dari perempatan rumah Bpk.Ajat kea rah sini, sudah masuk Jl.Jend.Sudirman.
Gereja Protestan ini berama Gereja “Immanuel” (artinya: Tuhan menyertai kita). Disebut juga Gereja Ayam, karena memang diatapnya terdapat patung ayam. Sebagai symbol dalam ajaran Kristiani, ketika Petrus 3x mengingkari Yesus sebelum ayam berkokok, seperti yang dimuat di Lukas.60-61. Gereja ini anggota GPIB, Mupel.XXI (Musyawarah Pelayanan) Babilon. Walau di Jl.Singayudha, namun alamat gereja ini sejak awal menggunakan Jl.Suramenggala. Jemaat gereja ini dulunya mayoritas adalah Warga Belinyu keturunan Tapanuli (Batak) dan Ambon. Mantan Ketua Majelis Jemaat (Penatua/Pnt) di Gereja ini seperti Oom De Lima (tinggal di Wasrij/wasre) kemudian dilanjutkan Oom Panjaitan, hingga Penatua Yance Halbert Pandelaki. Sedangkan pendetanya adalah Pdt. Herlin Lebrina Kunu, STh.
Melihat arsitektur dan permainan batu tempel, Gereja ini juga dibangun oleh Belanda. Tampak depan terasnya bergaya minimalis, seperti rumah jaman sekarang. Sayang lahan yang agak sempit rasanya agak sukar untuk dikembangkan. Di sekeliling halamannya diurug pasir pantai. Ada dua pohon cemara laut yang di tanam di depannya, namun selalu mati. Dibelakang dan samping kiri Gereja ini mengalir sungai kecil, yang bila musim hujan cukup banyak ikan “tana-tana” dan “gabus”(delek) atau “lele” (kelik). Di depan Gereja ini ada Gudang Semen, truck merk Chevrolet (dodge) warna biru atau Hijau Tua, sering bongkar muat semen memenuhi jalan, namun tidak membuat macet karena dulunya, mobil di Belinyu cuma segelintir saja.
KAMPUNG TENGAH:
Mungkin demikian juga dengan Kampung Tengah Belinyu, karena pendatang di sini banyak yang datang dari tanah Melayu, jadi budaya Melayu juga berlaku. Ada Mesjid Besar di kampung ini, ya..sudah namakan saja "Kampung Tengah", walaupun secara geografis tidak berada di tengah-tengah Kota Belinyu.
Ikon yang menonjol di Kampung Tengah ini adalah Mesjid Jami. Mesjid ini merupakan tempat berkumpul komunitas para ulama, dan menjadi barometer Islam di kota Belinyu. Tidak heran kalau para ulama besar dari Sapat (Indragiri), Banjarmasin, Palembang banyak tinggal di sekitar Kampung Tengah. Ulama di kota Belinyu, yang biasanya mengajarkan agama di sebut “Mu’alim”.
Para Mualim, yang tinggal di sekitar kampung Tengah ini, mempunyai kedudukan sosial yang tinggi di mata masyarakat, hal ini disebabkan oleh kelebihan pengetahuan dibidang Agama Islam baik secara syariat, maupun muamallah, serta kemampuan Ekonomi yang lebih, karena para mualim ini juga biasanya merangkap sebagai saudagar. Makanya di Kampung ini banyak terdapat rumah-rumah kuto (rumah besar). Sayangnya sebagian rumah-rumah kayu tua itu mulai hilang tergusur rumah modern dan terlindas oleh rumah burung walet.
Rumah burung walet di ujung jalan. View ini diambil dari depan Mesjid Jami'
Rumah ini penulis foto 5 tahun yang lalu, mungkin saat ini sudah berganti rumah tembok. Arsitektur rumah ini adalah arsitektur rumah Palembang, berbentuk tumah panggung kayu. Mungkin juga di sini dulunya merupakan daerah pasang surut. Sebab jalan sumur laut di bagian belakang rumah ini dulu sebagai pelabuhan pendamping dari pelabuhan utama yang ada di Berok
Rumah tua arsitektur Cina pesisir, berlantai-1, dengan atap genteng kuda-kuda pelana. Teras yang lebar dengan lantai keramik terakota, serta langit-langit yang tinggi membuat rumah ini cukup sejuk. Di depan samping pintu masuk tertulis nama pemilik rumah "Herawanten"
Berhadapan dengan rumah di atas, ada sebuah bangunan yang mirip dengan rumah yang ada di film-film kung-fu Mandarin. Sebuah rumah kayu antik, arsitektur Cina, yang ada di Kampung Tengah kota Belinyu. Teras di lantai dua dengan pagar geometris, membuat bentuk rumah ini sangat oriental sekali.
Lobang angin di atas pintu utama rumah ini, merupakan lobang angin geometris khas arsitektur Cina, berbentuk labirin.
Kelenteng Fuk Tet Che, yang terletak di jalan kelenteng Kampung Tengah, merupakan Kelenteng tua yang telah berusia lebih seratus tahun. Sebagai tempat beribadah warga Tionghoa di Belinyu. Ada 4 meja persembahan (altar) dalam kelenteng ini, masing-masing untuk Dewa Bong Kwet Chung Pak Kung, Dewa Kwan Ti/Guan Gong, Dewi Kwan Im dan Budha Maitreva. Suasana film-film kungfu sangat terasa di Kelenteng ini, ada lonceng, gong dan simbal, yang sering dibunyikan pada saat ada ritual. Bau hio yang dibakar, serta interior yang dinominasi warna emas dan merah, kadang membuat anak-anak tidak berani menoleh atau takut lewat di depan kelenteng ini, saking mistisnya. "Jangan dijingok, kagek ikak te-keno", begitu foklor yang ada di masa kanak-kanak.
Bagaimanapun, Kelenteng Fuk Tet Che ini merupakan asset elemen sejarah kota Belinyu, yang telah ada sebelum kita dilahirkan.
UCAPAN :
PELABUHAN BEROK
Lokasi: Dekat Kampung Gudang, di tepi Pelabuhan Samudra Sungai Pasir.
Konon dulu disekitar Sungai Pasir banyak pohon Bakoo (bakau), dan banyak dihuni oleh kera, kera atau monyek ini disebut juga Beruk (Bahasa Melayu), yang akhirnya menjadi Berok, demikianlah salah satu legenda asal-usul daerah ini di namakan “Berok”.
Kapal-kapal yang masuk ke Berok ini adalah kapal-kapal layar besar (phinisi) dari luar negeri. Sedangkan kapal-kapal phinisi yang agak kecil, masuk lebih dalam kea rah Kampung Tengah, yang sekarang menjadi Jalan Sumur Laut. Dahulu di situ terdapat pelabuhan lebih kecil untuk pelayaran Nusantara. Karena air tawar diambil dari sebuah sumur di situ, makanya daerah disitu dinamakan Sumur Laut.
Kapal Layar Jenis Phinisi, yang dulu banyak masuk di Pelabuhan Berok hingga ke Dermaga di Sumur Laut
Dengan kegiatan yang demikian banyak tentu kesibukan pelabuhan Berok ini cukup ramai. Petugas Beacukai pun yang berkantor dan bertugas di sini cukup banyak. Sebelum akhirnya pada jaman kemerdekaan, pelabuhan dipindahkan ke Tanjung Gudang, bersamaan dipindahnya juga Kantor Bea Cukai ini ke Tanjung Gudang.
Saat ini pelabuhan Berok hanya diperuntukkan untuk Pelabuhan perikanan saja, yang tersisa cuma beberapa tiang kayu Merbau, bekas dermaga lama.
Jalan masuk dari kampung Tengah, menuju Berok saat ini
Menjadi perkampungan yang ramai
Kalau dulu, merupakan rawa-rawa pasang surut, dan hutan nipah, kini di kiri kanan sudah banyak menjadi pemukiman penduduk
Penyakit sosial, buang sampah sembarangan
Hutan nipah yang masih tersisa di kiri-kanan jalan
Jalan masuk, 100 meter sebelum tepi Sungai Pasir
Perahu-perahu yang merapat di Pelabuhan Perikanan Berok saat ini adalah perahu penangkap Ikan milik KUD
Pulang muket di sekitar p.Nanas semalaman
Sungai Pasir saat ini dilihat dari Pelabuhan Berok ke arah hilir (muara)
Sungai Pasir ke arah hulu, dulu perahu2 besar masuk hingga ke Panji Pasir bahkan ke Kusam
Sisa-sisa dermaga lama di Pelabuhan Berok......... yang tinggal kenangan.
.
SUNGAI KELADI:
Di Belinyu, tepatnya sepotong jalan dari Jagal ke Kmp.Gudang, dinamakan Kampung Sungai Keladi. Dinamakan demikian karena dulunya di sisi kanan yang merupakan rawa pasang surut S.Pasir dipenuhi hutan nipah, sedang rawa di sebelah kiri nya sampai ke S.Ketok, merupakan rawa yang banyak ditumbuhi pohon keladi. Bermacam-macam keladi (caladium-latin) yang ada di situ, baik keladi gatal yang besar2 (sente) maupun keladi kecil yang biasa dibikin lempah keladi. Dan disitu ada sebuah anak Sungai Pasir yang disebut "Sungai Keladi".
Sungai kecil ini melintasi jalan kampung, yang merupakan saluran drainasi dari kampung Sungai Ketok. Dulu Sungai Keladi ini masih dipengaruhi oleh pasang naik dan pasang surut air S.Pasir. Bahkan dulu bisa digunakan untuk pangkalan kolek (perahu sampan) nelayan sekitar situ, termasuk nelayan dari Sungai Ketok. Saat ini Sungai Keladi yangdimaksud, sudah mengecil, seukuran got. Tidak lagi terdapat pohon-pohon keladi, yang menampung kristal-kristal embun pagi, yang ada adalah sampah...sampah...sampah dimana-mana.
Rumah-rumah mewah gambar di atas, dulunya adalah hutan nipah seperti ini
Jenis keladi (caladium) ini, jaman dahulu banyak sekali tumbuh di sekitar Kampung Sungai Keladi ini.Sebagai daerah rawa-rawa, air sumur di kampung ini terasa payau dan butek, karena pengaruh bicak
Dulu perahu nelayan (kolek) dapat merapat sampai ke pinggir jalan kalau air sedang "labur" (pasang naik) Kondisi Sungai Keladi saat ini, lebih mirip sepeti got. Sedimentasi yang tinggi serta penuh sampah, airnya berwarna hitam pekat dan bau busuk. Pasti nyamuk akan mendirikan kerajaannya di sini..
Saat ini sungai telah berfungsi menjadi saluran pembuang (drainase) rumah tangga. Cuma sedikit aneh melihat saluran yang cukup lebar, namun gorong-gorong jembatan mengecil (bottle neck).
.
KAMPUNG JAGAL :
Kampung Jagal saat ini, bukan lagi rabeng, tapi sudah menjadi perkampungan. Di tiang listrik yang ujung belok kanan, disitulah yang dulu disebut "Jagal", karena di situ dulunya, terdapat tempat pemotongan (penjagalan hewan) di Kota Belinyu, kemudian menjadi pangkalan perahu nelayan Sungai Ketok, dan sekarang sudah menjadi pemukiman warga.
Kota Belinyu dulu ber-status Keresidenan (semacam Kabupaten), jadi kalau sekarang Belinyu cuma menjadi Kecamatan, adalah suatu kemunduran yang luar biasa. Pada jaman dulu banyak sekali fasilitas infra struktur di Keresidenan Belinyu yang sangat berarti. Ada Pembangkit Listrik PLTU Mantung yang pada waktu itu, terbesar di Asia Tenggara, Pelabuhan Tanjung Gudang, Pelabuhan Eport/Import Berok (kmp.Gudang). Dan salah satu lagi adalah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di dekat S.Keladi.
RPH ini bagi warga Belinyu dulu disebut "Jagal" alias tempat Penjagalan (pemotongan Sapi). Dulu, ternak potong sapi, kerbau yang masuk ke Belinyu, didatangkan dari Jawa, Sulawesi, dan NTB, menggunakan kapal layar (phinisi), berlabuh di yang ada di bagian belakang RPH jagal ini.
Entah karena alasan dekat pelabuhan atau alasan limbah potong hewan, maka di sini dibangun Rumah Pemotongan Hewan, yang akhirnya disebut "Kampung Jagal". Dari RPH inilah daging sapi, kerbau, dan kambing untuk kebutuhan warga Keresidenan Belinyu, (terutama warga Belanda) didistribusikan ke pasar, setelah melalui pengawasan kesehatan, maupun aturan kehewanan yang telah ditentukan oleh dinas yang berwenang. Tentunya skala kesibukan di Jagal ini akan semakin ramai apabila memasuki Lebaran, atau Tahun Baru.
Namun RPH, kini cuma menjadi cerita saja, jangankan hendak melihat bekas bangunan "Jagal", untuk melihat sungai sekitar situ yang pernah dilalui perahu Phinisi atau sampan hingga ke Sungai Ketok saja, sudah tidak berbekas. Hutan nipah, rabeng (lumpur kawasan pasang surut), lokak (cekukan tanah) tempat udang dan "remangok" (kepiting bakau), sudah berubah menjadi pemukiman masyarakat.
RPH jagal ini masa jayanya kira-kira sampai tahun 50, tahun 80 an, masih tersisa puing-puing tembok RPH, namun saat ini sudah lenyap tak berbekas dan berganti menjadi kawasan pemukiman warga. Telah berdiri rumah-rumah beton bergaya spanyol, Kalau dulu warga S.Ketok mau ke Jagal, khawatir dengan banyak "ages", saat ini "ages"nya sudah hilang, takut kepada warga yang semakin banyak tinggal di kawasan ini.

Sapi-sapi Bali yang didatangkan dari Sumbawa/NTB, dari Madura dan dari Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan daging warga Belinyu

Pemotongan daging di RPH
Di tumpukan kayu inilah dulu hingga th 80-an masih tersisa sisa-sisa tembok RPH di Belinyu, sehingga daerah ini disebut "Jagal", Tanah kuning yang ada dulunya berupa sungai akses nelayan ke pangkalan perahu. Disini dulu banyak terdapat pohon-pohon kelapa, pohon api-api, pohon duri tanduk (untuk mengejar layang-layang) dan sedikit hutan bakau serta pohon nyere
Di latar belakang adalah "rabeng", rawa-rawa pasang surut yang masih tersisa, mungkin tidak lama lagi di situ akan ditimbun juga dan akan menjadi lahan pemukiman.
Kawasan asli daerah Jagal dulunya seperti ini, dipengaruhi pasang surut, bahkan banyak pohon kelapa. Kubangan-kubangan kecil (lokak) biasa terdapat udang-udang kecil. Gundukan-gundukan tanah itu tempat Kepiting Taik (kepiting kecil yg tidak bisa di makan), Kepiting Batu (Remangok) membuat lubang. Kalau air laut pasang naik tinggi (aek labur), banyak anak-anak yang mandi di sungai.
Ini adalah udang sungai, dulu banyak terdapat di "lokak-lokak" di sekitar jagal ini
Sungai in dulu besar, berada di "Jagal" bisa dilayari perahu phinisi, atau perahu hingga ke Jeramba Busen
Di masa pembangunan sekarang ini, jangankan tersedia RPH, untuk membeli daging sapi saja, kadang masyarakat Belinyu harus ke Sungailiat atau Pangkalpinang. Inilah jaman yang dinamakan Pembangunan Propinsi Bangka-Belitung khususnya Kabupaten Bangka. Kota-kota lain tambah maju dalam hal fasilitas umum dan infrastruktur, kota Belinyu tambah mundur.
Entah siapa yang menjadikan kota Belinyu malah mundur seperti sekarang, jangan kita saling menyalahkan dan mencari kambing hitam, namun siapapun dia yang merasa telah memberi andil menjadikan Belinyu menjadi tertinggal seperti sekarang ini, hendaklah mencari dinding tembok, dan "mengentuk-ngentuk kepalanya ke tembok" agar lebih bisa berpikir menggunakan nurani dari pada otak yang bebal. Hhikkks.....hiksss....!
.
SUNGAI KETOK :
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1429.H
Lokasi : Kampung Sungai ketok dilingkari oleh, Jl.HOS Cokroaminoto (Kmp.Tengah), Jl.S.Keladi dan Jl.Pahlawan-12

Ini adalah Kmp.Sungai Ketok yang menuju ke arah Jagal (sungai Pasir) atau ke arah Sungai Keladi.

Pada jaman dulu kala, menurut penutur cerita dari Belinyu, ada seorang tetua di kampung itu yang bernama Muhammad Saleh, pemilik galangan kolek atau perau, beliaulah yang sekitar th.1900 an, yang berprofesi sebagai tukang perahu dan tukang servis kapal. Bahkan menurut cerita, beliau ini meninggal pada jaman Jepang, karena infeksi luka di kaki akibat kejatuhan pahat, alat kerjanya.
Tidak jelas apakah sudah ada orang lain yang menekuni profesi itu di Sungai Ketok, atau memang beliau sendiri yang memulai dan mengakhiri tempat tersebut sebagai lokasi galangan perau


Lokasi Galangan Kapal tersebut sekarang dijadikan Lapangan Volley.Lahan d isebelah kanan terdapat banyak kuburan yang sampai sekarang tidak ada masyarakat Belinyu yang mengetahui kuburan siapa-siapa yang ada di situ, karena banyak yang tidak ada ahli warisnya.
Kapal-kapal seperti ini dulu dapat masuk ke Sungai Ketok, bahkan sampai Jeramba Busen.
Kondisi Sungai Ketok Saat ini, masih tetap dipengaruhi oleh pasang naik dan pasang surut air Sungai Pasir.
Masyarakat Sungai Ketok ini, sejak dulu mayoritas nelayan dan pedagang. Sejak akhir abad ke 19 terdapat beberapa saudagar Batik, saudagar permata yang top pada zamannya, yaitu H. Jamaluddin, H. Muhammad Toha, H. Mahmuddin, Batik di beli dari Jawa, khususnya Pekalongan dan dijual di Belinyu. Selain batik, mereka juga ada yang berdagang emas berlian.
Selain saudagar beberapa keluarga warga Sungai Ketok memiliki Pulau yang ada di sekitar Teluk Kelabat, seperti : Keluarga H.Latif pemilik P.Nanas, Keluarga H.Aziz pemilik P. Mengkubung.
Hingga saat ini, sudah jarang yang bermata pencarian sebagai nelayan dan perekonomian Sungai Ketok bergeser, didominasi perdagangan, pembuatan kue dan makanan khas Kota Belinyu, seperti sentra pembuatan Kue Sagu (renta), Dodol, Pantiau, Lakso dan makanan khas Belinyu lainnya. Sebagian lagi berdagang di sektor informal seperti berdagang makanan hingga saat ini. Ada juga yang jadi karyawan Timah setelah kejayaan PT.Timah
Satu hal yang merupakan ciri khas masyarakat Sungai Ketok ini adalah religius. Ke-religiusan masyarakat Sungai ketok ini dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat Sungai Ketok pergi Haji sejak dulu hingga saat ini. Setiap tahun ada saja warga Sungai Ketok yang pergi Haji. Populasi Haji yang paling tinggi di Belinyu, mungkin ada di sini.
Standar-standar dalam pelaksanaan syariat Islam di kota Belinyu cukup kental di masyarakat Sungai Ketok. Termasuk juga beberapa kegiatan keagamaan di Mesjid Nurul Cholid, seperti Sedekah Ruwah, Nisfu Sya'ban, pembacaan Barzanji yang diambil dari Kitab Majmu'atun Mawalid Wa'adiyah (Kumpulan sejarah Nabi dan Doa-doa) . Semoga saja kegiatan2 keagamaan tersebut tetap terpelihara di kampung Sungai Ketok.
Pembacaan al-barzanji, masih rutin dan sering dilakukan di Kampung Sungai Ketok

Salah satu Rumah Tua di Kampung Sungai Ketok yang masih tersisa. Dulunya rumah seperti ini termasuk rumah mewah, yang cuma dimiliki oleh orang-orang kaya atau saudagar
