MATERI BLOG INI SEBAGIAN DIAMBIL DARI NASKAH UNTUK BUKU YANG AKAN DITERBITKAN. DIKUMPULKAN BERDASARKAN CERITA DARI MULUT KE MULUT. TEAM KAMI AKAN MENAMBAH POSTING, UNTUK MENELUSURI SEMUA SEJARAH NAMA KAMPUNG YANG ADA DI KOTA BELINYU. KOMENTAR YANG DIKIRIM PENGUNJUNG MELALUI CONTENT COMMENT, DILUAR TANGGUNG JAWAB KAMI.
APABILA PENGUNJUNG MEMPUNYAI CERITA, LEGENDA TENTANG KOTA BELINYU, FOTO JADUL, KIRANYA DAPAT DIKIRIM KE REDAKSI ____guraping@yahoo.com____
MALAM LIKUR-LIKUR
Likur-likur” berasal dari kata “selikur” (bhs.Jawa) yang berarti “dua puluh satu”, Malam likur-likur berarti malam puasa yang ke 21 dari 30 hari Puasa Ramadhan. Malam ke 21 adalah malam awal paruh ke-3 Bulan Ramadhan, atau 10 hari terakhir yang merupakan mulainya malam penuh pengampunan. Diyakini juga malam itu adalah malam “laylatulqadr” (Belinyu: lailatukodar) malam yang lebih indah dari seribu bulan, saatnya turun malaekat.
Malam khusus itu di Belinyu dirayakan dengan, arak-arak membawa alat penerangan. Bisa “tenglong” (tanglong) yang berupa lampion kertas berisi lilin, bisa juga kaleng susu yang dipasang tangkai sapu dan dimasukkan lilin merah di dalamnya, menjadi semacam senter. Itulah yang di arak anak-anak kecil sekampung panjang, sambil meneriakkan “likurrrr…likurrrr”.
Entah apa maknanya. Dan entah apa hubungan antara lampu dengan malam puasa ke 21. Mungkinsaja jaman dulu malam itu digunakan untuk iqtikaf di mesjid hingga jauh malam. Dan karena belum ada senter, maka disiapkanlah berbagai alat penerang. Melegendalah hal itu menjadi malam likur-likur.
Budaya ini bukan cuma di Belinyu. Di Kalimatan Selatan, khususnya kota Banjar Baru, budaya likur-likur ini masih tetap ada hingga sekarang, bahkan menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata. Arak-arakannya tidak cumja tanglong, bahkan miniatur mesjid, kaligrafi, festival meriam bambu (dumdum) di tepi S.Kapuas dan kegiatan islami lainnya.
Sayang sekali budaya likur-likur ini redup begitu saja, sehingga sudah bukan menjadi tradisi di Belinyu. Entah siapa yang kita tuntut untuk mempertahankan budaya-budaya yang ada di kota Belinyu. Bila semua orang merasa malu dengan budaya sendiri, dan tidak melestarikannya, maka itu menjadi jalan untuk hilangnya suatu peradaban.
Gambar "Tanglong" atau tenglong yang biasa digunnakan pada malam "likur-likur". Berupa lampu atau lilin yang dibungkus kertas minyak warna warni dengan rangka bambu.
(foto dikutip dari "fotobucket.com/hasbi)
Kalau ingat Bulan Puasa di Belinyu akan membawa sejuta kenangan.Bulan puasa merupakan hari-hari istimewa, lain dari hari biasa, terutama ritme kehidupan dan apalagi kalau bukan masalah kuliner.
Tidak seperti sekarang, di Belinyu, jaman dulu tidak terlalu banyak tersedia bahan makanan istimewa. Untuk berbuka puasa, di pasar cuma tersedia, dawet, beluluk (kolang-kaling) dan cincau hitam, serta bahan-bahan kolak. Itu saja variasi bahan untuk berbuka pembuka puasa.
Untuk sembako, korma dan sirop (limus) sebagian masyarakatnya bekerja di PT. Timah (TTB), mendapat jatah dari perusahaan yang dibagikan menjelang lebaran. Kormanya, korma kiloan, dengan mutu yang cukup baik. Sirop mendapat jatah beberapa botol, yang biasa juga dibagikan ke saudara-saudara (kemanak) yang tidak bekerja di TTB. Juga ada gula, minyak, kacang hijau. Karyawan juga mendapat uang THR (duit ari ayo)
Pagi hari, ibu-ibu sudah belanja ke pasar, selain membeli ikan, sayur mayur, juga membeli bahan minuman seperti “cincau hitam”, “beluluk” atau “dawet”. Kadang juga belanja ini dilakukan sore hari setelah pulang bekerja jam 2 siang, sekalian untuk persiapan lauk makan sahur. Ikan dibungkus “daun simpur” diikat “tali purun”. Sayur cukup diikat begitu saja. Saat itu belum ada tali plastik atau “tas kresek”, jadi harus membawa “sankek rotan” (keranjang rotan).
Jam 6 sore, suling bengkel berbunyi tanda berbuka puasa. Sesudah berbuka dengan “es limus” minum cincau hitam yang di potong halus campur air gula, biasa juga menyantap kue-kue khas Belinyu seperti roti beras, roti ambon, ketan sambel yang dijual dengan cara dijunjung pakai “penampi” (nyiru). Lebih istimewa kalau makan kelesan (empek-empek) atau cacak ikan, dengan saos cuka biasa atau cuko “tauco”.
Kalau tidak ada ikan (musim bulan terang) atau dana tipis? Cukup membuat “kiping gandum” (semacam lempengan gandum, yang digoreng).Atau “jemput-jemput pisang”, ataupun “begodo bawang” (gandum dan bawang merah yang digoreng dan dicocol dengan cuka kelesan).
Setelah berbuka puasa, dilanjutkan shalat Magrib, yang kekenyangan Magribnya ..lewat!. Habis shalat magrib, baru menyantap makanan berat, atau nasi. Lauknya? Macam-macam tergantung situasi dan kondisi. Bisa rajung (kepiting) atau sotong(cumi), “ikan panggang” (ikan bakar) pakai cecel (sambal cocolan) rajangan nanas, atau binjai atau bacang, tergantung musimnya. Bisa juga sambal tomat atau kecap dicampur rajangan cabe, dan perasan jeruk kunci. Kadang juga Ikan dimasak “mangut”, atau “lempah kuning”, “lempah nanas”, “tumis asem”. Kadang juga ada masakan olahan seperti “sate godok”, “begodo udang serum” atau “ikan bilis goreng tepung”.
Jangan lupa sayur, ada bermacam-macam sayur. Ada “lempah darat” timun, kacang panjang , sawi yang dimasak dengan air “belacan” (terasi), Lombok dan garam, yang disebut bumbu tigo (tiga). Bisa juga “keladi” yang dilempah darat, yang disebut lempah keladi. Namun tidak semua jenis keladi yang bisa di jadikan sayur, karena ada keladi yang gatal. Kalau nangka muda, kacang panjang daun belinjo bisa dimasak sayur gemuk atau “lempah nangko” (nangka masak santan).
Yang doyan lalapan, cukup ambil di sekitar pekarangan, di kebun atau minta tetangga, daun ubi, daun pepaya, jantung pisang, nangka muda rebus. Sambalnya, bisa “sambal belacan”, “rusip” atau “caluk”. Mau yang lebih exotic, bisa pakai sambel “pekasem” (fermentasi teritip). Jangan lupa semua pakai perasan jeruk kunci yang kecutnya… ruarrr biasa.
Habis makan kembali menyantap es limus, yang es nya di beli di pabrik Es Bongkisui (dekat bioskop Belia), maklum lah pada saat itu kulkas belum banyak, dan tidak semua orang mampu membelinya. Satu balok ukuran 10x20 dan panjang 50 cm, cukup tukar uang 50 rupiah. Mau ngirit, bisa membeli ½ seharga 25 rupiah. Sebelum berangkat membeli sampaikan dulu tetangga kiri kanan barangkali ada yang nitip untuk dibelikan (biasanya pasti ada yang nitip). Ini perlu, karena suatu saat mungkin kita yang nitip.
Jangan berharap es balok itu dibuat dari air masak. Dari air mentah yang dimasukkan ke kotak kaleng, yang kemudian direndam dalam air es campur garam. Walau es balok ini berbahan air mentah, pembeli tidak protes, yang penting es batu. Penjualpun tidak menutupi-nutupi, dan tidak bermaksud membohongi konsumen, silahkan masuk kedalam lihat. Kalau mau boleh beli kalau tidak juga tidak apa-apa, karena es ini juga bisa dijual kepada tukang ikan untuk mengawetkan ikan dari Pesaren atau Bubus.
Awas jangan membeli es batu terlalu sore, karena bisa kehabisan. Kalau ada es batu tersebut akan diikat dengan tali “purun”, minta dobel, karena bisa longgar atau putus kalau digantung di stang sepeda (motor belum banyak, dan belum ada beli cara kredit). Sampai di rumah es batu di “gepuk” (dipukul) di masukkan sirop, diminum satu keluarga.
Selanjutnya shalatTaraweh. Boleh pilih, mau yang 8 rakaat atau 21 rakaat, semuanya boleh, walau masing-masing faham merasa benar sendiri.Sebelum Teraweh ada shalat Isya. Habis itu ada sedikit ceramah, yang isinya itu-itu saja, yaitu puasa itu sebagai solidaritas sosial, merasakan laparnya orang miskin. Konsep ceramah diambil dari buku-buku ceramah terbitan Yudistira atau Tiga Serangkai Solo.
Awal puasa Mesjid penuh sesak, pertengahan puasa semakin maju, maksudnya shaf semakin maju, alias makmumnya berkurang. Yangmuda mulai menghilang tinggal para “balita” alias bapak-bapak lima puluh tahunan. Mendekati akhir puasa jemaah sedikit bertambah, tetapi tidak sebanyak di awal ramadhan.
Tanggal 17 Ramadhan, Nuzulull Qur’an ada sedikit kegiatan di mesjid-mesjid besar seperti Mesjid kampung tengah atau Al-Inayah, mesjid TTB. Tgl. 21 Ramadhan disebut malam “likur-likur” diambil dari bahasa Jawa “selikur” yang artinya 21.
Anak-anak mulai membuat “tenglong” (lampu di bungkus kertas minyak), atau kaleng susu yang dipasang lilin, dan dipasangi kayu sebagai pegangan seperti senter. Bisa juga membuat obor minyak tanah dari bambu. Pada saat itu minyak tanah tidak sulit dibeli di toko Ajiu, Toko Anam, atau Toko Apung. Untuk bukit ketok, di Toko Akap.
Meriam bambu, atau pipa besi sesekali terdengar, mainan ini disebut “dum-dum”. Pecahan karbit, dicampur air, dimasukkan ke pipa besi seukuran tiang listrik, panjang 1 m. Setelah ditutup kaleng disulut api, meledak mengeluarkan suara yang cukup menggelegar, yang kaget akan misu-misu “celako lah budak nih. Muat wong tekejut bai ikak nih”. Karbit minta di bengkel TTB atau bengkel Alip.
Habis teraweh, masih lapar? Bisa mencari pantiau, lakso, mie kocok, atau model (semacam empek2 berkuah) di sekitar Kampung Tengah atau Sungai Ketok. Habis itu selesai semua, tidak ada acara lain, mall tidak ada, televisi belum banyak, lampu sudah mulai redup. Jam Sembilan sudah banyak yang tidur, malem “sepi suik”. Belinyu-pun lelap.
Pukul 3 dini hari ibu-ibu sudah bangun memanaskan makanan untuk makan saur. Jam setengah empat makan sahur. Shalat Subuh, bagi yang shalat. Bila hari Minggu, habis Subuh, jalan pagi, sebagian naik sepeda. Anehnya semua jalan ke arah Panji, bahkan sampai ke Batu Tunu. Para remaja, dengan riang gembira jalan santai karena bisa sambil “ngepek” (mencari pacar). Yang istimewa, masyarakat non muslimpun ikut jalan. Selesai itu matahari sudah diufuk fajar, matahari mulai mengintip, masing-masing pulang untuk melanjutkan tidur.
Itulah nostalgia bulan puasa di Belinyu, tidak semua kita pernah melakukan nostalgia ini, tetapikondisi dan sedikit kegiatan tersebut mungkin pernah kita lakukan atau kita saksikan kalau kita memang pernah tinggal di Belinyu. Selamat menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih.
(Artikel ini pernah ditulis di web: belinyu.net)
Suasana bulan puasa saat ini di Belinyu. Di depan ex. Bioskop Belia penuh dengan orang berjualan, dari kembang api hingga panganan berbuka puasa. (foto dicopy dari belinyu.net)
Segala lauk pauk rasa Belinyu ada di sini. Yang beli tenang yang jual senang (foto dicopy dari belinyu.net)
Ikan kembung goreng, ayam masak kecap, ikan panggang bumbu, sotong goreng (foto dicopy dari belinyu.net)
Kue donat, putu mayang, dawet, cincau hitam. (foto dicopy dari belinyu.net)
Cilok dalam bahasa Belinyu berarti “kantung”. Mungkin bahasa ini berasal dari Bahasa Cina. Sebelum jaman tas kresek, jual beli dibungkus menggunakan cilok kertas. Ada beberapa kategori cilok. Berdasarkan bentuk dan kapasitas bungkusnya, yaitu: cilok kecil segitiga, cilok sedang dan cilok besar.
Cilok segitiga biasa di gunakan untuk membungkus bumbu seperti Lombok, kadang juga untuk membungkus gula pasir, atau kopi yang dibeli dalam jumlah satuan yang paling kecil. Kita jangan heran pada tahun 70an, di Belinyu, masih ada transaksi pembelian gula atau Rp.50, paling cukup untuk membuat 1-2 gelas kopi hitam. Demikian bersahajanya konsumen di Belinyu.
Cilok kecil dari buku tulis "Letjes" bekas
Kemudian cilok sedang, seukuran 1 s/d 2 kg gula. Cilok ukuran ini di buat dari kertas Koran bekas. Biasa di gunakan untuk mewadahi gula, kacang tanah atau bulgur makan ayam. Diatasnya lagi ada cilok Besar ukuran 5 kg ke atas. Biasa untuk membungkus beras atau jagung untuk ayam.
Cilok sedang, diikat tali plastik
Berdasarkan bahan pembuat, cilok segitiga menggunakan buku tulis bekas. Jaman dulu di Belinyu cuma beredar buku tulis yang dikeluarkan Pabrik kertas PT.Letjes (sekarang Leces), di Probolinggo, Jawa Timur. Bukunya tipis, sekitar 20 lembar kertas tulis bergaris saja.
Sampul buku “Letjes” berlogo angsa ini berwarna biru keunguan. Jangan coba-coba kena hujan atau basah, sampulnya akan luntur mengenai baju seragam. Terutama siswa laki-laki yang sering melipat bukunya dan memasukkan di saku belakang celana. Siswa perempuan yang lebih rajin, kadang menyampul buku dengan kertas “kopi a-on”. Yaitu kertas kuning, yang biasa juga digunakan untuk membungkus “Kopi Cap Sedan”. Limbah buku tulis ini, lebarnya hanya cukup untuk cilok segitiga yang digunakan untuk membungkus 5-10 butir kemiri, bawang atau cabek.
Sedang cilok sedang menggunakan bahan baku kertas Koran bekas. Koran yang ada di Belinyu pada saat itu Koran “Kompas” yang selalu telat 1 hari. Biasa diantar Pak Tai (staff SD Agnes) jam 4-5 sore, menggunakan Tas Kain Drill TTB dan sepeda Simkingnya selama bertahun-tahun. Ada juga Koran gratis yang dibagikan TTB kepada para pejabatnya, seperti Harian “Suara Karya”, korannya Golkar, dimana Pemimpin Redaksi masih dijabat oleh Harmoko. Kemudian koran-koran yang diterbitkan Angkatan Bersenjata seperti “Berita Yudha”, “Angkatan Bersenjata”. Juga beberapa lainnya seperti “Merdeka”, “Sinar Harapan”, semua Koran gratis dari TTB. Inilah yang menjadi bahan baku cilok di pasar Belinyu pada jaman dulu, sebelum muncul dinasti jaman tas kresek atau kantong plastik.
Koran "Suara Karya" yang sampai saat ini masih terbit, dalam format lain. Koran ini dulu dapat dari TTB
Untuk Cilok yang paling besar, diperlukan kertas yang lebih kuat. Bahan baku cilok besar ini adalah kertas bekas Zak Semen. Sumbernya dari Gudang Ajat, jaitu pemasok semen di Belinyu. Zak-zak semen yang sobek lapisan luarnya, memiliki lembaran bagian dalam yang bisa dibikin cilok. Bisa juga bersumber dari zak semen bekas anemer-anemer TTB (Pemborong/rekanan TTB) yang mengerjakan proyek TTB.
Cara membuat cilok ini gampang, dipotong sesuai ukurannnya, kemudian di susun dan di lem pakai sagu Tani yang direbus dengan air panas. Agar Lem kanji lebih awet dan tidak dimakan tikus, ditambahkan cuka makan. Untuk mengoles, bisa digunakan potongan bambu, sumpit (cotet) bekas, bahkan tangkai sikat gigi bekas.
Sambil menunggu pembeli yang agak sepi di siang hari, sekitar jam 2-3, adalah waktu yang baik untuk membuat cilok, bagi Baba si pemilik toko. Bercelana pendek, menggunakan kaos singlet putih, dan rambut tetap tersisir rapi, ditengah–tengah panasnya cuaca Belinyu dan sambil menghilang kantuk, maka lembar demi lembar cilok dibuat, untuk kemasan jualan di kota Belinyu pada jaman baheula.
Terkait posting Pasar Belinyu, kita bernostalgia dengan alat pembungkus di pasar. Seingat penulis, “tas keresek” (kantong plastik) sebagai pembungkus, mulai ada di Belinyu sekitar paruh 80an. Sebelum itu kemasan pembungkus menggunakan kertas koran bekas atau dedaunan.
Adalah Daun Simpur yang biasa digunakan sebagai “cilok” untuk membungkus barang-barang basah di pasar, seperti ikan, sayur dan lain-lain. Cara menggunakan daun ini adalah dengan membuatnya seperti kerucut. Kalau perlu cilok lebih besar, ditambah 2-3 daun sehingga menjadi kerucut ukuran jumbo, untuk membungkus ikan kepetek atau ikan ciu, untuk dibawa pulang dengan “sangkek rotan” (keranjang segiempat dari anyaman rotan).
Tanaman Simpur (sumpun), yang daunnya cukup lebar digunakan untuk membungkus. Perdu ini banyak tumbuh di Pulau Bangka, khususnya di Belinyu. Tidak ada manfaat ekonomi lain dari tanaman ini selain diambil daunnya
Pengikat cilok Daun Simpur ini adalah “Tali Purun”, (tali plastik jaman itu belum banyak), yaitu tali yang terbuat dari tanaman Purun, yang berbentuk batangan berongga sebesar sedotan plastik. Tumbuh di rawa atau tepian kolong. Setelah dicabut, tanaman yang panjangnya kira-kira 1,5 meter ini dipukul-pukul (digepuk) sampai pecah-pecah dan lentur, kemudian dilipat dua dan diikat juga menggunakan tali purun. Ikatan Tali Purun ini digantung di meja pasar, dekat kotak uang, agar mudah ditarik satu tangan sementara tangan yang lain memegang bungkusan Daun Simpur.
Inilah tumbuhan Purun, sejenis rerumputan yang tumbuh di rawa-rawa atau kolong tua. Batangnya digunakan untuk tali pengikat. Bisa juga diannyam menjadi tikar atau tas. Banyak juga terdapat di Kalimantan. (foto ini di upload dari "endro-endro.blogspot.com")
Ikan besar yang tidak bisa lagi dibungkus, seperti tongkol, atau tenggiri, cukup diikat ekornya dengan tali purun untuk “di-cangking” pulang dengan “kereto angin” (sepeda) Dijamin tidak akan putus. Begitulah, pada jaman dulu,pedagang pasar Belinyu membungkus dan mengikat jualannya.
Ditoko-toko juga kadang Daun Simpur digunakan untuk
pembungkus asem, belacan dan kawan-kawannya. Selain itu juga, dipakai untuk cilok jualan buah kemunting, keranji, biasa juga dibuat “pincuk” untuk pembungkus tape ubi. Kalau digunakan untuk pincuk, tulang daun harus dibuang dulu, agar lembaran daun menjadi lentur, sebagai pembungkus tape ubi. Ujun
gnya disematkan biting dari lidi kelapa. Dan Tape Ubi bisa mulai dijual keliling kampung, dengan “penampi” dijunjung di kepala. Tapeeee…Ubiiiiiii.!...Tapee…Ubiiiiiiiii
Tape ubi dibungkus daun simpur (foto Christinetanod.multiply.com)
Menurut yang punya foto, bungkusan daun simpur ini adalah tahu yang dijual. (chritinetanod.multiply.com)
Hingga tahun-tahun 80an, bahkan nasi bungkus dari Pesanggrahan TTB, masih menggunakan Daun Simpur diikat Tali Purun. Nasi yang dibungkus daun simpur terasa lebih harum, ketimbang dibungkus kertas atau kotak karton seperti Nasi Padang. Apalagi dimakan pada saat lapar kerja lembur karyawan TTB.
Pendek kata, jaman itu Daun Simpur merajalela di kota Belinyu. Setiap pagi daun simpur ini dipasok dari Kusam, Gunung Muda, Thaikongpoi, parit-parit. Memang jaman itu, banyak orang yang berprofesi khusus mencari Daun Simpur, sebagai kemasan yang ramah lingkungan ini.
Pohon Simpur bisa juga menjadi pohon peneduh, karena daun-nya lebar dan rapat serta tidak mudah lepas. Pohon Simpur dalam foto ini bibitnya dibawa dari Belinyu dan ditanam di Cisarua Puncak, oleh pemilik Villa yang kebetulan wong Belinyu. Cukup subur juga tumbuhnya. Buah Nanas yang melekat di pohon cuma pajangan. Menurut yang punya, foto ini adalah waktu acara kumpul-kumpul "Blijong Club" di Puncak Bulan Juni 09 kemarin (Foto di copy dari FB. Ibu Elizabeth Wan Lie, dan telah seizin beliau, Sin mung ya Bu!)
Tanaman Simpur, banyak tumbuh liar di lelap (rawa-rawa) atau bekas tambang-tambang di Belinyu. Daunnya lebar mirip daun jati, yang tua agak getas seperti daun mangga. Dibawa ke pasar dalam bentuk gulungan. Satu gulungan berisi 10 lembar. Harganya pada saat itu 50 rupiah saja, kira-kira Rp.500 kurs uang sekarang. Tidak ada kebohongan dengan memasukkan daun yang jelek atau bolong-bolong ke dalam gulungan. Semua daun bagus dan mulus. Tiap tukang sayur atau penjual ikan sudah mempunyai langganan pemasok sendiri, dan sudah saling paham berapa gulung kebutuhan tiap penjual.
Sedang tanaman Purun sebagi tali pengikat, merupakan gulma di rawa-rawa, tepian kolong-kolong tua. Purun ini bisa juga dianyam menjadi tikar, atau “sangkek” (tas). Supaya awet dan lentur, Purun harus direndam dulu di kambang, kemudian dijemur sebelum dianyam. Dulu di Kolong Gunung Muda di ujung kmp.Sincong, di bawah “Len Listrik”banyak sekali terdapat tanaman Purun. Saat ini, walaupun kolong semakin banyak membuat bopeng wilayah Belinu karena TI, Namun tanaman Purun kian langka. Karena Purun baru tumbuh setelah kolong berusia puluhan tahun.
Generasi sekarang sudah jarang melihat Daun Simpur sebagai pembungkus. Buah kemunting sudah tidak dijual lagi. Tape Ubi tidak menggunakan Daun Simpur lagi. Semua sudah menggunakan “tas kresek” hitam, yang dibuat dari sampah plastik daur ulang plastik bekas. Sampah yang kian banyak menyumbat “bandar-bandar” (selokan) di Belinyu, didominasi “tas kresek” ini. Perlu kita tahu, bahwa sampah Tas Kresek ini,baru terdaur ulang oleh tanah dalam jangka 60 tahun. Kini jaman semakin maju, dunia semakin praktis, namun budaya hidup manusia semakin tidak ramah terhadap alam. Sebuah kantong plastik yang kita buang di kota Belinyu, 60 tahun lagi baru hilang. Lamo..yo!
Kepada anda yang menulis comment di Posting "Jl.Depati Amir", kami tidak bertanggung jawab atas konsekuensi hukum yang anda tulis. Karena isi komentar di luar tanggung jawab Admin dan penulis. Blog ini sedianya diperuntukkan sebagai rasa cinta kami kepada kota Belinyu, dan kami persembahkan kepada siapa saja yang pernah tinggal di Belinyu dan kepada pengunjung yang ingin tahu tentang sejarah Kota Belinyu.
Sebetulnya masih banyak hal-hal yang menjadikan kenangan tentang Pasar Belinyu ini, ada penjual aek legen, ada penjual pisang, ada warung makan padang yang mewarnai pasar Belinyu. Semuanya tinggal menjadi kenangan bagi generasi tua dan menjadi cerita bagi generasi muda.
Untuk warga Belinyu dengan kondisi unik, seperti Wak Dedek yang senantiasa beredar di pasar. Ada "Oke Boy" yang dengan setia menarik gerobak (semacam "rigsaw" kalau di Cina). Tentang Okeboy ini, beliau termasuk pekerja yang ulet, di usianya hingga tua (mungkin sekitar 70 tahun), masih menarik gerobak, membawa karung atau barang-barang toko. Baik dari gudang maupun dari oto Gobu, yang baru datang dari Pangkal Pinang. Kemandirian, keuletan selama puluhan tahun yang perlu ditiru generasi sekarang, tanpa membebani orang lain, dia menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri, betul-betul seorang wirausaha anti neolib dan penganut paham "ekonomi kerakyatan" sejati.
Okeboy ini sangat fanatik dengan sepakbola, walau jarang hadir menonton bola (mungkin karena kesibukan panggilan tugas) dia tetap memantau skor pertandingan Bola di Belinyu. Kesebelasan pavoritnya adalah kesebelasan "Mantung", yang memang merupakan kesebelasan yang handal. Jangan coba-coba mengatakan "Mantung kalah..! kepada dia, sebab semua sumpah serapah akan keluar dari mulutnya. Tapi bila kita bilang "Mantung menang..!" dengan gembira dia jawab "oke boy..!" inilah yang membuat dia di panggil si Okeboy. Kalau saat itu dia sudah tahu liga-liga dunia, mungkin dia akan lebih fanatik ke MU atau Inter Milan.
Profil Okeboy ini adalah, laki-laki tua, hidung mancung, bermata sipit, beberapa giginya sudah tidak ada. Panas atau hujan senantiasa bertelanjang dada menarik Gerobak Kayu. Tali gantungan anyaman rotan melingkar dari pegangan sebuah gerobak, yang sama renta dengan dirinya. Baju kaos cap "swan" lebih banyak disampir di bahu ketimbang dipakai. Sesekali baju kaos kumal itu dikipas-kipaskan ke badannya yang selalu basah oleh keringat. Celana pendeknya cuma kain drill biru dijahit sederhana, sering melorot walaupun diikat dengan tali rafia. Bermandikan peluh, dengan terengah-engah mengantar semua barang titipan orang. Pokoknya lebih ulet dari kurir iklan DHL.
Selesai mengantar barang tidak pernah memasang tarif, seiklasnya saja diberikan orang. Tidak pernah barang kliennya hilang dalam perjalanan, semua berazaskan kepercayaan dan kejujuran. Ruarrr...biasa kamu Okeboy. Di rumah makan manapun dia mau makan dan minum orang tidak pernah marah dan tidak banyak menuntut bayaran. Karena pedagang pasar tahu bahwa Mr. Okeboy tidak pernah menyusahkan para pedagang, rasa kasihan bercampur simpati selalu didapat, dan menjadi mata uang di pelosok pasar. Jangan-jangan merk "Rotiboy yang biasa di Bandara, ter-inspirasi dari si Okeboy ini..ha..ha.. (it's a joke!-red)
Pribadi-pribadi seperti Okeboy ini cukup banyak di Belinyu. Mereka inilah merupakan mata rantai penggerak ekonomi di Belinyu. Walaupun peranannya sepele, namun dia telah memanjangkan proses "multiplayer effect" perekonomian di Belinyu, sebagai mata rantai distribusi barang. Serta mensukseskan tatanan ekonomi dan sosial warga Belinyu secara makro.
Mungkin kita bisa ber-hipotesa, bahwa kondisi Belinyu yang aman, damai dan tentram penuh kekeluargaan seperti dulu, bukan lah suatu hal yang dicipta, tetapi karena memang dulu, banyak warganya sadar dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, walau dengan frame sosial yang tradisional. Sejarah membuktikan, bahwa di Belinyu dulu jarang sekali Polisi disibuk kan dengan pasal-pasal KUHP seperti, pencurian, perampokan, penipuan. Paling urusan judi ringan 'kolok-kolok" kalau lebaran.
Kalau para pemimpin, politisi, terutama yang di-Senayan, mau menjadi pribadi yang dicintai rakyatnya, bekerja dengan iklas, tidak materialistis, ulet, mungkin bisa belajar dari semangat orang-orang seperti Okeboy, Wak Honda, Yuk Yani, Aji penjual Jongkong, Penjual Sayur, dan banyak lagi warga Belinyu lainnya yang bekerja dengan iklas selama bertahun-tahun, tanpa mengiklan kan janji-janji kosong. Tidak usah jauh-jauh mengadakan studi banding ke luar negeri, dengan menggunakan uang rakyat, yang ujung-ujungnya juga diagendakan acara belanja dan hura-hura.
Namun kita juga tidak dapat menjamin apakah Okeboy akan tetap seperti Okeboy, apabila ada kesempatan dan peluang. Namun besar kemungkinan pribadi Okeboy tidak berubah, karena memang nafsu tuntutan hidupnya memang selalu redup oleh atmosfir kehidupan Kota Belinyu yang tidak banyak tuntutan materialistis.