PASAR BELINYU-3 (DAUN SIMPUR/SUMPUN dan TALI PURUN) :

Terkait posting Pasar Belinyu, kita bernostalgia dengan alat pembungkus di pasar. Seingat penulis, “tas keresek” (kantong plastik) sebagai pembungkus, mulai ada di Belinyu sekitar paruh 80an. Sebelum itu kemasan pembungkus menggunakan kertas koran bekas atau dedaunan.


Adalah Daun Simpur yang biasa digunakan sebagai “cilok” untuk membungkus barang-barang basah di pasar, seperti ikan, sayur dan lain-lain. Cara menggunakan daun ini adalah dengan membuatnya seperti kerucut. Kalau perlu cilok lebih besar, ditambah 2-3 daun sehingga menjadi kerucut ukuran jumbo, untuk membungkus ikan kepetek atau ikan ciu, untuk dibawa pulang dengan “sangkek rotan” (keranjang segiempat dari anyaman rotan).


Tanaman Simpur (sumpun), yang daunnya cukup lebar digunakan untuk membungkus. Perdu ini banyak tumbuh di Pulau Bangka, khususnya di Belinyu. Tidak ada manfaat ekonomi lain dari tanaman ini selain diambil daunnya



Pengikat cilok Daun Simpur ini adalah “Tali Purun”, (tali plastik jaman itu belum banyak), yaitu tali yang terbuat dari tanaman Purun, yang berbentuk batangan berongga sebesar sedotan plastik. Tumbuh di rawa atau tepian kolong. Setelah dicabut, tanaman yang panjangnya kira-kira 1,5 meter ini dipukul-pukul (digepuk) sampai pecah-pecah dan lentur, kemudian dilipat dua dan diikat juga menggunakan tali purun. Ikatan Tali Purun ini digantung di meja pasar, dekat kotak uang, agar mudah ditarik satu tangan sementara tangan yang lain memegang bungkusan Daun Simpur.


Inilah tumbuhan Purun, sejenis rerumputan yang tumbuh di rawa-rawa atau kolong tua. Batangnya digunakan untuk tali pengikat. Bisa juga diannyam menjadi tikar atau tas. Banyak juga terdapat di Kalimantan. (foto ini di upload dari "endro-endro.blogspot.com")



Ikan besar yang tidak bisa lagi dibungkus, seperti tongkol, atau tenggiri, cukup diikat ekornya dengan tali purun untuk “di-cangking” pulang dengan “kereto angin” (sepeda) Dijamin tidak akan putus. Begitulah, pada jaman dulu, pedagang pasar Belinyu membungkus dan mengikat jualannya.

Ditoko-toko juga kadang Daun Simpur digunakan untuk

pembungkus asem, belacan dan kawan-kawannya. Selain itu juga, dipakai untuk cilok jualan buah kemunting, keranji, biasa juga dibuat “pincuk” untuk pembungkus tape ubi. Kalau digunakan untuk pincuk, tulang daun harus dibuang dulu, agar lembaran daun menjadi lentur, sebagai pembungkus tape ubi. Ujun

gnya disematkan biting dari lidi kelapa. Dan Tape Ubi bisa mulai dijual keliling kampung, dengan “penampi” dijunjung di kepala. Tapeeee…Ubiiiiiii.!...Tapee…Ubiiiiiiiii


Tape ubi dibungkus daun simpur (foto Christinetanod.multiply.com)



Menurut yang punya foto, bungkusan daun simpur ini adalah tahu yang dijual. (chritinetanod.multiply.com)



Hingga tahun-tahun 80an, bahkan nasi bungkus dari Pesanggrahan TTB, masih menggunakan Daun Simpur diikat Tali Purun. Nasi yang dibungkus daun simpur terasa lebih harum, ketimbang dibungkus kertas atau kotak karton seperti Nasi Padang. Apalagi dimakan pada saat lapar kerja lembur karyawan TTB.


Pendek kata, jaman itu Daun Simpur merajalela di kota Belinyu. Setiap pagi daun simpur ini dipasok dari Kusam, Gunung Muda, Thaikongpoi, parit-parit. Memang jaman itu, banyak orang yang berprofesi khusus mencari Daun Simpur, sebagai kemasan yang ramah lingkungan ini.



Pohon Simpur bisa juga menjadi pohon peneduh, karena daun-nya lebar dan rapat serta tidak mudah lepas. Pohon Simpur dalam foto ini bibitnya dibawa dari Belinyu dan ditanam di Cisarua Puncak, oleh pemilik Villa yang kebetulan wong Belinyu. Cukup subur juga tumbuhnya. Buah Nanas yang melekat di pohon cuma pajangan. Menurut yang punya, foto ini adalah waktu acara kumpul-kumpul "Blijong Club" di Puncak Bulan Juni 09 kemarin (Foto di copy dari FB. Ibu Elizabeth Wan Lie, dan telah seizin beliau, Sin mung ya Bu!)



Tanaman Simpur, banyak tumbuh liar di lelap (rawa-rawa) atau bekas tambang-tambang di Belinyu. Daunnya lebar mirip daun jati, yang tua agak getas seperti daun mangga. Dibawa ke pasar dalam bentuk gulungan. Satu gulungan berisi 10 lembar. Harganya pada saat itu 50 rupiah saja, kira-kira Rp.500 kurs uang sekarang. Tidak ada kebohongan dengan memasukkan daun yang jelek atau bolong-bolong ke dalam gulungan. Semua daun bagus dan mulus. Tiap tukang sayur atau penjual ikan sudah mempunyai langganan pemasok sendiri, dan sudah saling paham berapa gulung kebutuhan tiap penjual.


Sedang tanaman Purun sebagi tali pengikat, merupakan gulma di rawa-rawa, tepian kolong-kolong tua. Purun ini bisa juga dianyam menjadi tikar, atau “sangkek” (tas). Supaya awet dan lentur, Purun harus direndam dulu di kambang, kemudian dijemur sebelum dianyam. Dulu di Kolong Gunung Muda di ujung kmp.Sincong, di bawah “Len Listrik” banyak sekali terdapat tanaman Purun. Saat ini, walaupun kolong semakin banyak membuat bopeng wilayah Belinu karena TI, Namun tanaman Purun kian langka. Karena Purun baru tumbuh setelah kolong berusia puluhan tahun.


Generasi sekarang sudah jarang melihat Daun Simpur sebagai pembungkus. Buah kemunting sudah tidak dijual lagi. Tape Ubi tidak menggunakan Daun Simpur lagi. Semua sudah menggunakan “tas kresek” hitam, yang dibuat dari sampah plastik daur ulang plastik bekas. Sampah yang kian banyak menyumbat “bandar-bandar” (selokan) di Belinyu, didominasi “tas kresek” ini. Perlu kita tahu, bahwa sampah Tas Kresek ini, baru terdaur ulang oleh tanah dalam jangka 60 tahun. Kini jaman semakin maju, dunia semakin praktis, namun budaya hidup manusia semakin tidak ramah terhadap alam. Sebuah kantong plastik yang kita buang di kota Belinyu, 60 tahun lagi baru hilang. Lamo..yo!


PEMBERITAHUAN :

Kepada anda yang menulis comment di Posting "Jl.Depati Amir", kami tidak bertanggung jawab atas konsekuensi hukum yang anda tulis. Karena isi komentar di luar tanggung jawab Admin dan penulis. Blog ini sedianya diperuntukkan sebagai rasa cinta kami kepada kota Belinyu, dan kami persembahkan kepada siapa saja yang pernah tinggal di Belinyu dan kepada pengunjung yang ingin tahu tentang sejarah Kota Belinyu.

Terimakasih

Team Admin

PASAR BELINYU-2: ( Si Okeboy)

Sebetulnya masih banyak hal-hal yang menjadikan kenangan tentang Pasar Belinyu ini, ada penjual aek legen, ada penjual pisang, ada warung makan padang yang mewarnai pasar Belinyu. Semuanya tinggal menjadi kenangan bagi generasi tua dan menjadi cerita bagi generasi muda.

Untuk warga Belinyu dengan kondisi unik, seperti Wak Dedek yang senantiasa beredar di pasar. Ada "Oke Boy" yang dengan setia menarik gerobak (semacam "rigsaw" kalau di Cina). Tentang Okeboy ini, beliau termasuk pekerja yang ulet, di usianya hingga tua (mungkin sekitar 70 tahun), masih menarik gerobak, membawa karung atau barang-barang toko. Baik dari gudang maupun dari oto Gobu, yang baru datang dari Pangkal Pinang. Kemandirian, keuletan selama puluhan tahun yang perlu ditiru generasi sekarang, tanpa membebani orang lain, dia menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri, betul-betul seorang wirausaha anti neolib dan penganut paham "ekonomi kerakyatan" sejati.

Okeboy ini sangat fanatik dengan sepakbola, walau jarang hadir menonton bola (mungkin karena kesibukan panggilan tugas) dia tetap memantau skor pertandingan Bola di Belinyu. Kesebelasan pavoritnya adalah kesebelasan "Mantung", yang memang merupakan kesebelasan yang handal. Jangan coba-coba mengatakan "Mantung kalah..! kepada dia, sebab semua sumpah serapah akan keluar dari mulutnya. Tapi bila kita bilang "Mantung menang..!" dengan gembira dia jawab "oke boy..!" inilah yang membuat dia di panggil si Okeboy. Kalau saat itu dia sudah tahu liga-liga dunia, mungkin dia akan lebih fanatik ke MU atau Inter Milan.

Profil Okeboy ini adalah, laki-laki tua, hidung mancung, bermata sipit, beberapa giginya sudah tidak ada. Panas atau hujan senantiasa bertelanjang dada menarik Gerobak Kayu. Tali gantungan anyaman rotan melingkar dari pegangan sebuah gerobak, yang sama renta dengan dirinya. Baju kaos cap "swan" lebih banyak disampir di bahu ketimbang dipakai. Sesekali baju kaos kumal itu dikipas-kipaskan ke badannya yang selalu basah oleh keringat. Celana pendeknya cuma kain drill biru dijahit sederhana, sering melorot walaupun diikat dengan tali rafia. Bermandikan peluh, dengan terengah-engah mengantar semua barang titipan orang. Pokoknya lebih ulet dari kurir iklan DHL.

Selesai mengantar barang tidak pernah memasang tarif, seiklasnya saja diberikan orang. Tidak pernah barang kliennya hilang dalam perjalanan, semua berazaskan kepercayaan dan kejujuran. Ruarrr...biasa kamu Okeboy. Di rumah makan manapun dia mau makan dan minum orang tidak pernah marah dan tidak banyak menuntut bayaran. Karena pedagang pasar tahu bahwa Mr. Okeboy tidak pernah menyusahkan para pedagang, rasa kasihan bercampur simpati selalu didapat, dan menjadi mata uang di pelosok pasar. Jangan-jangan merk "Rotiboy yang biasa di Bandara, ter-inspirasi dari si Okeboy ini..ha..ha.. (it's a joke!-red)

Pribadi-pribadi seperti Okeboy ini cukup banyak di Belinyu. Mereka inilah merupakan mata rantai penggerak ekonomi di Belinyu. Walaupun peranannya sepele, namun dia telah memanjangkan proses "multiplayer effect" perekonomian di Belinyu, sebagai mata rantai distribusi barang. Serta mensukseskan tatanan ekonomi dan sosial warga Belinyu secara makro.

Mungkin kita bisa ber-hipotesa, bahwa kondisi Belinyu yang aman, damai dan tentram penuh kekeluargaan seperti dulu, bukan lah suatu hal yang dicipta, tetapi karena memang dulu, banyak warganya sadar dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, walau dengan frame sosial yang tradisional. Sejarah membuktikan, bahwa di Belinyu dulu jarang sekali Polisi disibuk kan dengan pasal-pasal KUHP seperti, pencurian, perampokan, penipuan. Paling urusan judi ringan 'kolok-kolok" kalau lebaran.

Kalau para pemimpin, politisi, terutama yang di-Senayan, mau menjadi pribadi yang dicintai rakyatnya, bekerja dengan iklas, tidak materialistis, ulet, mungkin bisa belajar dari semangat orang-orang seperti Okeboy, Wak Honda, Yuk Yani, Aji penjual Jongkong, Penjual Sayur, dan banyak lagi warga Belinyu lainnya yang bekerja dengan iklas selama bertahun-tahun, tanpa mengiklan kan janji-janji kosong. Tidak usah jauh-jauh mengadakan studi banding ke luar negeri, dengan menggunakan uang rakyat, yang ujung-ujungnya juga diagendakan acara belanja dan hura-hura.

Namun kita juga tidak dapat menjamin apakah Okeboy akan tetap seperti Okeboy, apabila ada kesempatan dan peluang. Namun besar kemungkinan pribadi Okeboy tidak berubah, karena memang nafsu tuntutan hidupnya memang selalu redup oleh atmosfir kehidupan Kota Belinyu yang tidak banyak tuntutan materialistis.



PASAR IKAN BELINYU :

Inilah bekas pasar Belinyu yang pertama. Entah sejak kapan didirikan yang jelas puluhan tahun lalu disini pernah berdiri pasar tradisional becek, yang jelas sekitar tahun 75an setelah mengalami kebakaran, pasar tersebut dipindahkan 1000m ke arah Aek Cepedak.
Disini dulu pasarnya berbentuk lost-lost terbuka dengan meja-meja beton, yang kotor kecoklatan untuk berjualan ikan di sebelah kanan. Lost bagian tengah untuk sayur, sedang di bagian kiri adalah lost menjual 9 bahan pokok, termasuk belacan asem garem.
Untuk lost tertutup terbuat dari papan. (jaman dulu belum ada Rollingdoor,) jadi pintunya berupa kepingan papan yang disusun vertikal. Selalu ada angka disetiap papan, mencegah salah susun, yang apabila salah urutan susunannya akan menyebabkan macet.

Sebagaimana pasar yang lain, kegiatan ekonomi penunjang pasar "supporting are", seperti penjual buah-buahan (buah lokal, tidak ada buah apel, anggur import) terdapat juga disamping. Ada tukang cukur, Hoklo Sepeda (Toko Sepeda) ada di depan pasar. Disampingnya ada toko sepatu. Diantaranya ada penjual Mie. Ada toko "Lie Kon Nen", yang cukup lengkap barangnya, juga ada toko "Jong Muk", sedikit ke sana ada Toko "Anen", ada juga Warung Kopi Akiong (yang sampai sekarang masih ada). Demikianlah warga Belinyu menyebut toko-toko itu, saking akrab dan lamanya berinteraksi antara pedagang dan pembeli sesama warga Belinyu.

Relawan penjaga pasar Belinyu adalah seorang yang dipanggil "Derasak"., konon, katanya berasal dari Kampung Kacung , Bangka Tengah. Senantiasa pakai celana pendek dekil, baju yang kotor, kadang telanjang dada, rambut uban gondrong acak-acakan, kumis putih yang panjang, pandangannyanya nanar dengan mata selalu merah akibat mabuk. Derasak si "Drunken Master" ini sebatang kara, tidak punyak sanak kadang, profesi awalnya adalah "tukang panjat kelapa", tinggal di salah satu pojokan pasar. Dari para penjual Derasak mendapatkan uang tip, untuk kehidupannya. Karena tinggal di pasar. otomatis urusan perut bukan problem. bagi dia. Setiap sore dengan tekun dia menyapu semua areal pasar dengan sapu lidi. Setelah bersih dan menjelang malam, dia melaksanakan hobbynya berupa : "minum arak" hingga teler. Siang biasa masih tidur menikmati mabuk arak nya. Sore bangun kembali, membersihkan pasar dan kembali teler. Demikian irama hidupnya selama puluhan tahun.

Walau ilmu kesehatan mengatakan alkohol tidak baik untuk kesehatan, yang mengherankan si Derasak ini usianya cukup panjang. Ketika meninggal sekitar tahun 75 an, mungkin usianya juga diperkirakan sudah manula. sekali , yang jelas ketika kita sudah dewasa melihat Derasak ini, sama seperti dulu waktu kita kecil melihatnya, seakan-akan tidak berbeda dalam kurun puluhan tahun. Saking melegendanya Derasak ini di Belinyu, bila ada orang yang rambutnya acak-acakan, atau pakai baju awut-awutan, orang Belinyu mengatakan "seperti Derasak". Namun bagaimanapun, Derasak ini telah berjasa kepada Warga Belinyu dengan profesi sebagai pembersih pasar selama puluhan tahun, tanpa mengharapkan diangkat jadi Pegawai Negeri.

Saat ini, bekas lokasi pasar pertama di Belinyu telah menjadi pusat pertokoaan dan terminal. Terminal ini memang sudah di sini sejak jaman dulu. Sejak mulai ada oplet ke mantung, yang menggunakan tenda terpal, dengan duduk saling berhadapan hingga jaman model mobil angkot sekarang ini.



Dibelakang Tugu pertigaan jalan ini, dulunya terdapat Pasar Belinyu yang ke-2 setelah pasar Derasak terbakar. Lokasi pasar ini mulanya cukup representatif, karena banyak ruko-ruko tembok di sekitarnya. Ruko ini di bangun setelah ruko kayu di Belinyu terbakar tahun 1978, yang melalap habis pertokoan pasar, mulai dari Simpang Aek Cepedak" sampai depan pasar. Ludes habis.

Tahun 2005, pasar ini sudah terasa sempit, dan dipindahkan ke daerah "Aek TTB" dekat Perumnas, oleh seorang investor, hingga keberadaannya sampai saat ini. Bekas pasar lama ini telah dirobohkan, dibuat jalan masuk ke arah Aek TTB membelah bukit kecil di belakang pasar. Jaraknya kurang lebih 800m. Cukup representatif namun lumayan jauh, bagi warga Belinyu kebanyakan yang ke pasar menempuh jalan kaki. Tugu ini berada di pertigaan jalan baru menuju Pasar baru.


Pertokoan yang dilihat dari pertigaan atau Simpang Aek Cepedak ke arah pasar. Di kiri adalah Jl.Aek Cepedak, Kanan Jl. Sumur Laut dan belakang adalah dari arah terminal. Di pertigaan ini terdapat Bengkel sepeda, toko kelontong, dan penjual Baju di seberang. Di perempatan (ke arah Aek Cepedak) ini kalau pagi ada penjual "Holopan" terang bulan yang enak.
Warga Kampung jawa, Aek Kacip, melewati Jl. Aek Cepedak kalau ke Pasar. Didekat sini juga menjadi pos bagi warga Aek Kacip, Aek Cepedak, Aek Asem untuk bersama-sama pulang dari pasar. Juga menjadi tempat mangkal warga Pesaren, bubus yang akan pulang. Sebuah oto tambang warna Hijau ke Pesaren atau Bubus biasa parkir di Aek Cepedak ini.



Jalan dari sampaing pasar lama menuju Pasar Ikan yang baru saat ini, dulu daerah ini merupakan bukit kecil, kebun karet. Tower berada pas di seberang Pasar ikan yang baru.



Pasar ikan Belinyu, saat ini. Dibangun atas upaya seorang investor warga Belinyu, yang perduli dengan Pembangunan di Belinyu. Prosesnya BOT, atau tukar guling (overslaag), kami kurang jelas. Yang pasti Pasar ini lebih baik dan lebih luas dari Pasar yang lama.



Kesibukan di Pasar Ikan yang Baru, yang berlokasi di Depan Air TTB, Jl. Perumnas ke arah Jl.Pekuburan. Lahan parkir yang di dominasi oleh Sepeda Motor. Sepeda atau "kereto angin" sudah sangat jarang kelihatan di pasar ini.


Lost pasar ikan, yang dimana-mana selalu kotor dan bau amis. Seorang penjual daging ayam potong sempat terekam kamera. Dulu sekitar 70an di pasar Belinyu, ayam biasa dijual berupa ayam kampung hidup. Itupun agak susah di dapat kecuali lebaran atau Hari Raya. Ayam Broiler, belum ada pada saat itu. Sekarang daging ayam potong sudah banyak dijual di pasar, apalagi harganya kadang lebih murah dari harga ikan yang didatangkan dari Laut Sungailiat. Laut Belinyu...? Semua habis oleh kapal keruk dan TI apung.......


Jembatan ini yang disebut Aek TTB. Berada pas di depan pasar ikan Belinyu sekarang. Jalan ini menuju arah ke Pekuburan, sedang di belakang adalah Perumnas Lapangan Bola. Samping kanan Pasar.


Kampung Wasre :

Wasre, berasal dari bahasa Belanda “wasrijn” yaitu: was=cuci, rijn=masak. Jadi “wasrijn” artinya “mencuci/memasak”. Lidah Belanda mengucapnya “wasrei(j)”, wong Belinyu menyebutnya “wasre”.

Di Wasre inilah tempat mencuci dan menggoreng pasir timah dari seluruh Parit/TK di Wilasi Belinyu, Timah yang sudah dilimbang di “sakan/sakew”, dimasukkan ke dalam drum besi, lantas dibawa ke wasre pakai truck Chevrolet biru dengan pengawalan PKPT (Satpamnya TTB) sambil menenteng senapan LE, mirip senapan koboi mengawal kereta kuda membawa emas di film-film western.

Tiba di wasre, dilakukan pencatatan dan penyerahan “surat muat timah”. Drum timah diturunkan mobil derek (mobil pancing) beroda tiga dengan kemudi di roda belakang. Mobil pancing ini merk “Eister”, berwarna kuning ini biasa juga disebut “wong Belinyu” mobil “Eister”. Dalam tugasnya Eister ini dibantu juga sebuah Forklift yang disebut mobil garpu.

Dengan mengait kabel baja “slink” pada kuping, drum ditimbang dan dibawa ke bak-bak besar untuk dicuci dengan cara disemprot air bertekanan tinggi yang berasal dari Kolong Wasre. Setelah itu pasir timah dicuci menggunakan “zeef” (ayak/saringan), yang disebut orang Belinyu sebagai “jek”. Proses pengayakan ini juga menggunakan batu kerikil hitam yang disebut “batu jek”. Sangat bagus untuk umpan betet. Air limbah bekas mencuci dibuang ke belakang Wasre, ke “Kambang Kimpuk” terus melintas Jl.Balar, samping Gereja Ayam, hingga ke Jeramba Busen sana.

Pasir timah yang sudah bersih kemudian dimasak, atau lebih tepatnya digoreng. Kemudian dimasukkan ke dalam “Kampil Timah”, dijahit, dan dikirimkan ke Peltim, untuk dilebur menjadi Balok Timah.

Adapun Kampil Timah berupa karung kecil dengan tulisan “Bangka Tin”, terbuat dari terpal putih yang sangat kuat mutunya. Sering juga digunakan untuk kampil tempat parang ke kebun. Kadang juga digunakan untuk tas anak sekolah, setelah di buat rumbai-rumbai pada tepinya. Bahkan ada yang menggunakannya sebagai bahan “sepan panjang” alias celana panjang.

Saat ini bangunan Wasre sudah hilang tak berbekas, sepotong besipun tiada sisa. Sedangkan Komplek Wasre tetap menyisakan beberapa rumah yang masih asli. Sebagian juga sudah di “dum” kepada karyawan dan difermak menjadi rumah gaya masa kini.

Jalan menuju Wasre adalah lewat Bukit Ketok, namun bisa juga dari jalan bawah, lewat Kambang Kimpuk atau kebun Tuk Yasin yang tembus ke rumah Ce Juki dan Jalan Balar. Ada juga jalan tikus yang tembus ke Rumah Sakit TTB. Dari ke tiga akses inilah karyawan Wasre menempuh tempat Kerja, dengan 3 “aplus” (shift Kerja) . Kepala Wasre sendiri, tinggal di atas Bukit Wasre dekat Kamar Mati.

Berhubung komplek wasre ini cuma kira-kira 10 unit rumah, dan yang tingal di situ cukup lama, maka tidak banyak warga yang pernah tinggal disini. Ditambah tempatnya yang tersembunyi, wasre akan “sepi suik” di malam hari, yang tersisa cuma suara pianggung di hutan Tuk Yasin, dan kodok di sawah Tuk Agus di sisi yang lain. Inilah sekelumit tentang Kampung Wasre yang ada di kota Belinyu.


________


Senapan jenis LE adalah senjata organik PKPT alias Satpam Timah, yang dibawa petantang-petenteng mengawal biji Timah dari Parit/TK ke Wasre. Senapan ini memakai magazin 5 peluru. Setiap kali hendak menembak, gerendel kokang di bagian atas harus ditarik lebih dulu. Foto ini dijepret di Museum Kapasus-Cijantung.


Jalan menurun Bukit Wasre dari persimpangan Kamar Mati (Kamar Mayat Rumah Sakit TTB), menuju langsung ke Wasre sebagai tempat Pencucian biji Timah. Bangunan Wasre yang berada di sini dulu, sudah lenyap sama sekali, sepotong besi pun tak disisakan para pengumpul besi tua.



Inilah kondisi Kolong Wasre sekarang. Dulu kolong ini berbentuk danau, dari sini sumber air untuk mencuci pasir timah. Airnya bersih dari Pasir Mera/ Gunung Pelawan. Banyak ikan gabus, tanah-tanah dan ikan sepat. Mennurut cerita bahkan dulu ada buayanya. Sekarang kolong wasre sudah hilang seiring dengan zaman. Tidak cukup buat alam untuk menunjukkan existensinya bagi generasi sekarang. Akibat ulah manusia sendiri.



Dari Bukit Wasre belok kanan terdapat 4 rumah dinas, kearah kelekak Tuk Yasin



Rumah tua, tempat penulis dilahirkan th.66 dan dibesarkan hingga thh.71. Seluruh lingkungan Wasre adalah bagian dari kenangan. Rumah ini terletak paling ujung, dekat kelekak Tuk Yasin, menghadap ke bawah.



Sebagian Rumah Dinas di Wasre telah dibeli karyawan Timah. Rumah pemilikan pribadi tersebut sudah direnovasi, menjadi rumah model masa kini, dengan ukuran kapling yang cukup luas.


Rumah tua yang membelakangi kolong Wasre ini, dulu terdapat Lapangan Bulu Tangkis di samping, juga dua pohon Nangka Bubur besar.



Kalau kita belok kanan turun dari Bukit Wasre kita akan tiba di sini. Kearah bawah terdapat lembah dan dulu ada sawah dengan tanaman padi. Dari dulu aspal di sini mengelupas seperti itu.



Rumah ini bersebelahan dengan Kantor Wasre . Dulu terdapat Pohon Mangga besar. Rumah ini cukup lama didiami keluarga Oom De Lima.


Sebuah rumah di Komplek Wasre.



Rumah yang berada di ujung Wasre arah ke Sawah Wak Agus, menghadap rumah Bik Yang, sayang pohon kedondong dan jambu bol disamping sudah tidak ada lagi. Inilah generik rumah dinas TTB di Wasre, yang sudah berusia sekitar 70 tahun lebih.



Bik Yang dan Oom Bang Cit, adalah satu-satunya pasangan tertua yang masih setia tinggal di Wasre. Penulis sempat mengunjungi beliau tahun.2008 kemarin. Hampir seluruh masyarakat Wasre, pasti mengenal beliau dengan akrab. Di rumah atau dipekarangannya anak-anak Wasre sering bermain, memanjat jambu air, rambutan atau salak. Kita doakan semoga beliau berdua senantiasa diberikan kesehatan.

Jl. Depati Amir :

Lokasi: Dari depan Rumah Sakit TTB, sampai Simpang Tiga Tangsi.


Nama jalan ini diambil dari nama seorang Patih, bergelar Depati, dari Kesultanan Palembang.

Kawasan ini merupakan kawasan yang paling elit ldi komplek TTB di Kota Belinyu sejak dulu, termasuk juga Jl.Curam, Jl. Balar, disebut warga Tionghoa “Holland Kai” (Kampung Belanda), warga Belinyu lain menyebut warga yang tinggal di sini “wong pucuk” (orang atas). Berpredikat “pucuk’ juga, karena memang secara geografis dari bawah, harus menempu bukit Kantor pos.


Perumahan di sini, dulunya dihuni sekelas Kawilasi, dan para Kepala Biro serta pejabat-pejabat TTB. Namun sekarang sudah tidak berlaku lagi, karena strata organisasi TTB, sudah tidak seperti dulu. Jalannya paling lebar, paling mulus dan tidak pernah berlobang.

Jaman jaya-jayanya PT.Timah, th.70-an, perumahan disini terawat rapi, dengan ukuran lebar kapling 50 m dan panjang ke belakang 100 m, kawasan ini kelihatan seperti “hasienda”. Apalagi kalau malam hari, dominasi cat warna putih dengan bilah-bilah lampu TL neon yang terang benderang, pantaslah kawasan ini menjadi yang paling elit di Belinyu. Namun sekarang, rumah-rumah tersebut kelihatan kusam, tak terurus, yang mencerminkan kondisi Bellinyu saat ini.


Jl. Depati Amir di lihat dari depan Rumah Sakit. Perumahan disini sudah kehilangan roh sebagai Komplek Perumahan, yang tinggal cuma sisa-sisa rumah tua.


Rumah ini pas di "segok" (sudut) depanh ruma sakit. Beberapakali didiami pejabat dengan jabatan Kepala Biro Permesinan. Yang agak lama menempati rumah ini, Bpk. Philips E Kapoh, Bpk. Siahaan.


Warga Belinyu menyebut gedung ini dengan nama "Up-Grading" (Peningkatan), karena sejak jaman Belanda, memang di sini dulu tempat pelatihan serta peningkatan kemampuan bagi Karyawan Timah, yang dipromosikan kenaikan pangkat. Selain sebagai tempat menambah pemahaman tentang tugas pekerjaan.

Masa perang Dunia, Gedung ini menjadi markas Belanda, selain Gedung Pesanggrahan. Jaman kedudukan Jepang, dijadikan markas tentara Jepang. Setelah itu giliran Indonesia, menggunakan Gedung ini sebagai markas "Sukwan" (Suka Relawan), yaitu Pasukan Cadangan yang terdiri dari Karyawan TTB yang dipersenjatakan dan dilatih ilmu militer di pantai Sampur Pangkalpinang. Kegiatan ini dalam rangka Konfrontasi dengan Malaysia. Saat itu Bung Karno menyerukan "Ganyang Malaysia", sehingga setiap karyawan Timah dikenakan Wajib Militer. Di pintu masuk Up-Grading ini terdapat pos jaga (orang Belinyu menyebutnya Rumah Monyet), dengan seorang "sukwan" berpakaian tentara berjaga-jaga di dalam rumah monyet itu.

Era tahun 70-an gedung bagian belakang tetap digunakan untuk pelatihan. Dibagian depan digunakan Taman Kanak-Kanak (TK.Panti Rini) sekelas TK.A, sebelum masuk ke TK.B di SD.St.Agnes. Penyelenggaranya adalah TTB. Gurunya cuma dua saja, Ibu Umi dan ibu Ratna. Cukup lengkap mainan dan peraga di dalam kelas. Di halaman terdapat dua ayunan dengan tali berupa rantai besi yang digantung pada pipa besi bekas dari tambang timah. Ayunan ini selalu di gembok, karena takut digunakan anak-anak yang bukan siswa TK. Panti Rini. Bisa sih mau menggunakan namun harus minta izin dibukakan oleh "Wak" penjaganya. Di halaman TK ini, yang bersebelahan dengan rumah Menteri Suroto, terdapat pohon "seri" dan sebatang pohon pepaya di sebelah rumah Dokter.

Tahun 75-an sebelum Mesjid Al-Inayah dibangun, di sinilah tempat Karyawan TTB jaman Kawilasi Pak Harsono, melakukan shalat Taraweh, di ruangan tengah. Cukup banyak nostalgia gedung ini.



Dokter yang bertugas di RS.Timah Belinyu selalu tinggal di rumah dinas ini. Seingat kita dr. Amiruddin, dr.Zul, dr.Aswin, dr.Muchtar, terakhir dr.Andi, pernah tinggal di sini. Dokter Rumah sakit, atasan langsungnya adalah Kepala Dinas Kesehatan di Pangkalpinang, namun koordinasi di bawah Kawilasi. Dulu halaman depannya cukup asri, teduh dilindungi pohon flamboyan, serta nanasan yang daunnya keras dengan ujung berduri. Pagar besi di depan, ditumbuhi perdu beluntas yang selalu dipangkas serta terawat rapi. Beberapa pohon kamboja dan halaman rumput hijau. Batu-batu kerikil juga dihampar di sekeliling. Di belakang banyak pohon kelapa yang masih ada hingga kini, serta satu dua pohon mangga, dekat lapangan bulu tangkis.


Rumah di atas, posisi tusuk sate dengan Jl.Curam, adalah Rumah Dinas untuk Jabatan Kasatsi (Kepala Satuan Produksi), kalau tidak salah rumah ini untuk Jabatan Kasatsi Utara. Pernah ditempati Pak.Tobing, Pak.Mustafa, Pak Hebat, dan seterusnya.
Di depan dekat pintu masuk dulu terdapat pohon jambu air yang cukup tua. Buahnya manisss ...dan celing, walaupun pohonnya banyak "kerengge". Pohon ubi karet di sepanjang tembok. Sedang di sebelah kanan terdapat pohon palem pakis yang besar. Ada juga sumur tua di depan.


Dibelakang banyak pohon kelapa, ada taman rumput dan "green" untuk Pak Tobing latihan "putting". Dapurnya dan teras belakang cukup tinggi, sehingga perlu melewati beberapa undak tangga.



Foto ini adalah bekas Rumah Dinas untuk Pejabat Apoteker Rumah Sakit, sedang di latar belakang (yang ada pohon kelapa), adalah Rumah Kepala Biro Explorasi dan Pemetaan. Di depannya terdapat pohon belimbing wuluh yang masem dan pohon kelapa. Disamping, dekat sumur tua, bebrapa pohon "katu" (cangkok manis" dan sebatang pohon turi serta pohon pepaya.


Ini Rumah Dinas Kasatsi Selatan. Rumah ini lama ditempati Bpk. Panjaitan, selanjutnya ditempati Bpk.Soeratmo. Dulu ada bunga Bougenvile dan beberapa tanaman Anggrek Macan.
Di seberang depan rumah ini terdapat Jalan yang tembus ke Gudang Beras., disamping lembah rumpun bambu Rumah ini bersebelahan dengan lorong yang tembus ke Kampung Jawa. Didepan adalah Mess Timah.II dan disamping kanan adalah Mess Timah-I, sebelum Pasanggrahan.


Bangunan ini dulunya adalah Mess Timah-I. terletak di samping Pasanggrahan. Dulu disamping kiri, dekat teras, ada 3 pohon Pinus (Pohon Ru, karena kalau ada angin kencang berbunyi: ruuuu.....).


Warga Belinyu mana yang tidak ingat dengan Pasanggrahan, terletak di tengah pertigaan Jl. Depati Amir di depan Krida. Dulu temboknya tidak dipagar besi, tetapi berupa tembok rendah dengan permukaan berbatu hitam halus. Di sinilah tempat duduk-duduk anak-anak Belinyu, di bawah Lampu Kuning di pertigaan. Walau yang duduk-duduk di sini kebanyakan dari Kampung Jawa, namun banyak juga warga lainnya yang sekedar duduk santai atau, menunggu teman sehabis nonton "pelem pre" untuk pulang ke bukit Ketok atau Saber.


Pasanggrahan atau Pesanggrahan, berasal dari kata "persinggah graha" yang artinya rumah singgah, berhenti sesaat atau istirahat. Pasanggrahan milik PT.Timah di Belinyu ini sejak jaman Belanda, memang untuk persinggahan atau penginapan bagi karyawan TTB yang di detasering, atau mengikuti kursus, atau tugas di Wilasi belinyu. Biasanya akan penuh sesak kalau ada pemindahan Kapal Keruk ke Belinyu. Bisa juga untuk penginapan sementara bagi karyawan yang dimutasi. Untuk yang pejabat di Mess Timah-II atau Mess Timah-II.

Pada jaman Kemerdekaan th.45-an, Gedung ini sempat dijadikan markas TKR Belinyu, sebelum mennyerbu ke Petaling, rembukan di sini dulu. Sebagai markas TKR, penjagaan dilakukan di pintu masuk, berdirilah pemuda Belinyu dengan tegap sambil membawa senjata, yaitu....bambu runcing, atau tombak besi.


Ini adalah Rumah Dinas Kawilasi Belinyu. Kawilasi adalah "Kepala Wilayah Produksi". Orang Timah nomor.1 di Belinyu. Rumah ini pas terletak di depan Lapangan Tennis. Awalnya bangunan di sini adalah Bangunan yang mirip di depan rumah Dokter, yaitu sebagai Mess untuk pelatihan karyawan. Tahun 60-an di roboh, dijadikan rumah Kawilasi. Rumah ini cukup besar dan halaman luas. Ada dua tower antena Yagi 3 elemen, serta pengarah komunikasi radio di sampingnya. dilengkapi lapangan bulu tangkis segala. Dulu rumah inilah yang paling besar, dan paling megah di Belinyu. Namun ....sekaranggg....hiks...hiks...kemegahan kota Belinyu tinggal kenangan dan cerita saja untuk generasi sekarang. Jl Depati Amir yang dulunya mulus, megah dan terang benderang, sekarang menjadi gelap gulita, kumuh tanpa menyisakan sedikitpun kemegahan.