JALAN MELATI :

JALAN MELATI :

Lokasi: Dari Simpang Toko Anam/Toko Apung sampai ke Simpang Ajat


Sejak dari dulu Jalan melati adalah kawasan pecinan alias tempat mukim warga Tionghoa dan terdapat Tao Pek Kong. Jalan melati ini dulu melintangi jalan trem. Belakangan di sisi jalan trem didirikan gedung SMP Negeri, dan dibangun Lapangan Stadion (lebih tepatnya lapangan bola kelas kampung) bersamaan dengan dibangunnya Mesjid Al-Inayah, tahun 70an.

Di lapangan Stadion ini pula, tahun 70-an pernah kedatangan rombongan ‘Oriental Sirkus” atas kerjasama dengan TTB pada. Cukup heboh juga tentunya pada saat itu, pertama kali bagi warga Belinyu kedatangan Gajah, Singa dan Macan Loreng. Beberapa Minggu seluruh warga Belinyu berbondong-bondong melihat pertunjukan sirkus itu. Apalagi atraksi manusia bergelantungan dan meniti kawat baja. Itulah satu kali seumur hidup rombongan sirkus datang ke Belinyu.


Jalan Melati ini, dulunya biasa disebut “Hoi Nam Kai”, atau “Kampung Hoinam”, karena banyak bermukim warga Tionghoa yang berasal dari Hoinam, Tiongkok. Hoi Nam ini bukan berada di daratan Cina, namun berada di Propinsi Hainan yang ada P.Hainan (selatan Cina Daratan). Namun sejauh yang kita tahu imigran yang didatangkan Belanda ke tanah Melayu, biasanya dari Daratan Cina pesisir, seperti Hakka, Kowlon, Kanton, Swatow. Mungkin karena mereka ini bukan dari Cina daratan, maka mereka mengumpul sendiri di Jalan Melati ini, sehingga pada saat itu disebut “Hoi nam Kai”. Saat ini, mungkin generasi muda tidak banyak yang tahu tentang nama ini, yang terkenal ya Jl.Melati atau juga kadang dipelesetkan menjadi “Kaimui”.



Trade mark Jl. Melati, adalah di simpang empat Toko Ajiu. Ke kiri Pahlawan-12, terus Jl.Trem, ke kanan Jl.Melati yang ke SMP Negeri.




Tao Pek Kong di Jl.Melati, depan Toko Ajiu yang legendaris. Dulu disampingnya ada toko kelontong, tutup sekitar th.70-an



Nama jalan menggunakan bunga, memang sangat tidak umum di Belinyu. Namun kita tahu memang banyak rumah-rumah di Jl.Melati yang menanam bunga di pekarangannya, namun kebanyakan mawar, bukan melati. Lagi-lagi aneh ya.


Masyarakat di Jl.Melati ini, bermata pencarian terutama berdagang, secara turun temurun. Yang namanya Toko Anam, Toko Apung, Toko Ajiu, semua melegenda di Jl.Melati. Juga sebagian membuat kempelang, atau jualan keliling. Mereka sangat setia dan tekun sekali dengan profesi masing-masing, inilah salah satu budaya orang Belinyu, yang patut dipertahankan, yaitu tekun dan tabah.


Salah satu sentra lain lokasi Jl.Melati. Sebelah kanan, yang ada motor parkir adalah Toko Apung berhadapan dengan Toko Anam (th.30. Toko Anam ini adalah sebuah Hotel). Toko yang sudah dijalankan tiga generasi.hingga kini . Dulunya Pak Apung ini selain membuka toko, juga sebagai Tukang Gunting. Konsumen kedua toko ini dari sekitar hingga Kmp.tengah, Sungai Ketok, Kmp.Gudang.Walaupun berhadapan, kedua toko ini tetap bersaing secara sehat dan tidak saling menjatuhkan, contoh hidup yang pantas ditiru. Rezeki memang misteri di tangan Tuhan.



Satu lagi yang menjadi nostalgia di Jl.Melati ini, yaitu banyak terdapat anjing peliharaan. Jadi kalau malam naik sepeda, apalagi di malam hari, lampu jalan banyak yang mati, siap-siaplah untuk angkat kaki kalau tidak mau digigit Scoobydoo. Minimal dikejar dan digonggong sekelompok anjing pun sudah membuat kita panik. Apalagi dulu perkerasan aspalnya tidak semulus sekarang, Cuma berupa batu kacang yang dilaburi aspal, itu pun sudah terlepas di sana sini.


Th.30 an di Jl.Melati ini terdapat beberapa hotel besar, salah satu lokasinya yang sekarang di tempati Toko Anam. Satu lagi bernama Hotel “Tungtek”, (th.80an dirobohkan), yang berada pas di tanjakan dekat Jembatan. Pokoknya pada saat itu, sebagai kota Keresidenan (semacam Kabupaten), Belinyu tentu banyak dikunjungi pendatang dengan berbagai kepentingan. Sehingga banyak terdapat beberapa Hotel besar. Selain itu, di Belinyu masih banyak terdapat “Parit”, (Tambang Timah). Pekerjaan di Parit ini semuanya serba manual, jadi banyak sekali tenaga kerja-nya, terutama pekerja-pekerja Kontrak dari Cina sejak abad 18an. Dan Kota Belinyu merupakan kota transit mereka dari parit-parit yang ada di Utara seperti Bubus, Pesaren, Simpang Tigo, dan lain-lain. Kondisi inilahyang membuat Kota Belinyu dulunya ramai, dan salah satu kawasan itu di Jl.Melati ini.



Bangunan tinggi (warna Cream) di sebelah kiri, yang berlokasi di tanjakan, Jl. Melati dulunya bekas Hotel Tungtek, di depannya terdapat sebuah lapangan Basket, milik "Klub Bola Basket Bayangan"(th.70an). Jalan Melati khususnya bagian atas, dulu cukup ramai, terdapat beberapa hotel, karena merupakan bagian dari "Simpang Limo" yaitu kawasan bisnis Depan Bioskop Belia dan sekitarnya.



Kini Jl. Melati sudah beraspal mulus, tidak banyak Anjing lagi, rumah-rumah Kayu kuno, berarsitektur Cina sudah banyak yang dirobohkan, berganti rumah modern. Bahkan Kelenteng di dekat Toko Ajiu-pun sudah kelihatan lebih keren. Sebagian warga Jl.Melati ini banyak yang merantau, pada saat Kongian dan Cengbeng, mulai terlihat ramai kembali, setengat satu dua minggu, untuk selanjutnya sepi kembali, seperti sepinya setiap sudut Kota Belinyu di jaman otonomi daerah ini.

RENUNGAN DARI PONDOK DUREN :

Banyak warga Belinyu yang menulis di Content Pondok Duren tentang hal-hal yang positif untuk Belinyu dan Bangka, terutama masalah pemberdayaan ekonomi. Ada yang mengangkat topik pertambangan, pertanian dan lain sebagainya. Semua itu yang didiskusikan itu benar adanya dan kita sangat senang bahwa masih ada warga Belinyu dirantauan yang memikirkan kemajuan Belinyu.

Sebetulnya apapun usaha yang kita lakukan akan berhasil, kalau hal itu diiringi oleh sifat KETEKUNAN, KESABARAN dan ULET. Tidak usah terlalu jauh belajar dengan pakar motivasi sekelas Mario Teguh, yang mengemas idenya secara modern. Warga Belinyupun banyak yang telah mengajarkan kita tentang bagaimana berusaha menjadi seorang wirausaha sejati. Tinggal kita menggali saja dari sejarah.

Sebagai contoh, seperti "wak Honda" mungkin kita masih ingat ada seorang tukang gunting rambut keliling yang senantiasa "WTB, work to bike" dengan sepeda. Di perancah “kereto angin” yang sudah lebih tua dari usia beliau, selain ada kotak alat2 gunting, disediakan tempat duduk (dampar), untuk anak kecil. Pompa tangan, hingga jas hujan plastik tersedia di sepedanya. Semua yang ada adalah fungsional untuk profesi sebagai tukar cukur keliling.


Kalau tidak salah beliau ini tinggal di Padang nalang, namun sering kita temui di Air Asem, Batutunu, bayangkan jauhnya etape "tour de gunting" yang ditempuh . Dengan topi yang selebar “penampi”, sebagai ciri khasnya, beliau sangat tekun dan iklas menjalani profesinya. Walau dengan raut muka yang dingin, pelit bicara, namun semangat dan ketekunan tidak pernah luntur oleh panas dan hujan.


Dengan alat-alat seperti ini ditambah sebuah sepeda, anda berani mencari uang untuk menafkahi keluarga? Kalau anda pesimis, seorang warga Belinyu telah membuktikannya pada era 80-an. Dan itu digeluti selama puluhan tahun.



Bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun, profesi dijalankan dengan tekun, tanpa korupsi dan tanpa merugika orang lain. Pribadi demikian ini tentu tidak membebani APBD, tidak memusingkan perbank kan dengan kredit macet. Inilah semangat yang dibutuhkan warga Belinyu saat ini, walau mungkin dengan skala bisnis yang lebih besar dan lebih modern, serta macam yang lain.


Wak Honda ini, demikian beliau diidentifikasikan, di Belinyu ini tidak sendirian, ada juga penjual kue, penjual kempelang, tukang jahit sepatu, penjual daging, bahkan tukang pel rumah. Mereka dengan semangat, tekun, professional di bidangnya serta iklas menekuni profesi mereka sampai akhir hayat. Semangat-semangat seperti inilah yang merupakan sebagian kekuatan ekonomi Belinyu pada jaman dahulu.


Berjualan kue dengan cara "sales door to door" seperti ini, digeluti Yuk Yani selama puluhan tahun, dengan ketekunan dan ketabahan, Semua ilmu dan teori marketing menjadi kerdil dibandingkan dengan semangat beliau menggeluti profesinya.



Ketekunan dan kedisiplinan Karyawan Mantung jualah yang dulu membuat Mantung mampu mengaliri listrik. Etos kerja semacam ini pula, salah satunya yang membuat dulu PT.Timah lebih jaya dari sekarang. Bahkan orangtua kita sendiri mungkin bisa menjadi suri tauladan dalam hal kerja keras dan semangat dan kejujuran serta kepatuhan dalam bekerja serta menghidupi kita semua. Cukup dengan suara “suling bengkel” jarang kita lihat orang tua kita terlambat bekerja atau sengaja bolos bekerja. Padahal gaji tidak seberapa pada saat itu. Tinggal kita sebagai generasi penerus, maukah meneruskan sifat positif seperti itu? Sifat-sifat yang mempunyai korelasi dengan kemajuan Bangka dan Belinyu pada khususnya. Cerita ini masih panjang untuk didiskusikan, namun cukup untuk menjadi bahan renungan di Pondok sambil menunggu Duren jatuh di semak-semak. Namun ide-ide bernas dan berilian serta kereatif tetap kita perlukan untuk melengkapi "semangat wak Honda" di jaman sekarang ini.


Menurut saya lebih baik kita menjadi sepotong ‘belacan” yang baik dari pada menjadi sepotong daging yang busuk dan tidak bisa dimakan.

KAMPUNG SINCHONG ; (revisi-1)

KAMPUNG SINCHONG/KARANG LINTANG :
Lokasi : Setelah Jembatan Bandung hingga ke Kmp.Gunung Muda

Karena kita membahas Jeramba Bandung, maka kita bernostalgia ke Kmp.Sinchong. Seperti yang di sampaikan di posting Jeramba Bandung bahwa jaman purba dulu (jaman akek antak) trase jalan itu dari Sinchong lurus ke Kuto Panji (Bong Kap) terus ke Pha Kak Liang, hingga ke belakang Kantor Camat, terus ke Panji, Jl.Gajahmada, dan sampai di depan Bioskop Belia. Itupun masih lurus lagi berdampingan dengan Jalan Trem hingga ke Bukit Jukung.

Karena pada saat itu ada sebuah jalan baru yang panjang dan lurus, maka kampung disitu disebut "Sin Chong" (dalam bahasa Cina Jie Kia/Kek "Sin=Baru" "Chong=Panjang", maksudnya "jalan baru yang panjang"). Jalan ini tentunya dibuat Belanda dalam rangka memudahkan Meneer-Meneernya melaksanakan explorasi dan expolitasi atau penambangan Timah di wilayah Belinyu serta menghubungkan dengan kota-kota lain.

Karena di situ adalah dataran rendah, rawa-rawa aliran sungai, yang biasanya banyak deposit mineral timah, maka dibuatlah tambang dengan nomenklatur "Tambang-25", yang dalam bahasa Cina disebut "Liongsip Eng Ho" (Lingsip eng=25, Ho=Tambang). Jadi jaman dulu Sinchong ini dikenal juga dengan nama 'Liongsip eng ho".

Untuk memenuhi sumber daya listrik, dialirkan daya transmisi 30 KVa dari PLTU Mantung. Pada saat itu PLTU Mantung almarhum, merupakan Pembangkit Listrik terbesar di Asia Tenggara, melayani sebagian besar Pulau Bangka. Sebelum daya listrik dari Mantung ini diturunkan 10 KVa untuk menggerakkan motor Pompa Tambang, dan 220 Volt untuk penerangan, maka harus melewati trafo stop-down yang ada di Stasiun. Maka TTB membangun Stasiun-4 yang ada di Sinchong. Dan Sinchong juga selain disebut "Liongsip Eng Ho" juga biasa disebut "Stasiun-4".

Entah bagaimana ceritanya, ataukah supaya lebih "keren", belakangan kamp.Sinchong ini dinamakan kampung 'Karang Lintang" yang (mungkin) berasal dari kata "kerang lintang" (lintang=bintang dlm bhs.Sansekerta) mungkin saja disekitar sungai tersebut banyak terdapat sejenis "kerang bintang". Dan biar sesuai dengan Pak Harto, di jaman orde lama yang senang menggunakan kata sansekerta, maka "kerang bintang" di-sansekerta-kan menjadi "karang lintang".

Ada lagi asal muasal lain yang agak masuk akal, "karang lintang" berarti "kampung yang melintang". (bhs Sunda; "karang=lahan/pekarangan), karena memang kampung Sinchong lama itu adalah jalan yang melintang di depan Stasiun-4 itu, bukan jalan yang sekarang.

Seorang pembaca Blog ini punya cerita yang lebih exotic lagi, bahwa ada cerita sebuah candi, yang terbuat dari bata, yang kadang muncul dan hanya kelihatan di saat hujan panas (gerimis). Artinya Sinchong semacam sentral atau batas area "ghaib" kota Belinyu , yang cuma bisa dipahami Ki Joko Bodho CS. Namun apapun legenda yang ada tetap kita hargai dan kumpulkan sebagai kekayaan budaya lisan Kota Belinyu.

Sebuah lagi hipotesa yang mengatakan disitu banyak terdapat binatang "bintang laut" yang kalau kering akan mengeras seperti karang, sehingga disebut "karang lintang". Cuma pertanyaannya karang dari mana? khan lautnya nun jauh disana. Tapi biarlah, yang penting kalau nulis alamat di KTP atau Kartu nama khan keren, Karang Lintang, mirip nama real estate.

Kampung Sinchong, ini mayoritas dihuni warga Belinyu dari etnis Thionghoa, lengkap dengan "Tao Pek Kong" dan tempat main "biang", karena memang ini bekas Parit-25. Dan di daerah Parit, biasanya ada Kepala Parit yang menjadi Jendral para kuli kontrak. Karena sudah bermukim di Sinchong, dan beranak-pinak. Maka setelah Parit-25 ditutup mereka enggan mengotong-gotong barang pindah, jadi banyak warga Tionghoa yang tetap bermukim di Sinchong.

Karena daerah disitu bekas tambang, tentu tanahnya tidak subur. Maka pertanian tidak maju, paling cuma bisa menanam pisang dan jeruk kunci di pekarangan. Makanya masyarakat Tionghoa disini banyak berdagang dan buka toko di pasar Belinyu. Kareana jadi pedagang, punya uang, maka anaknya tidak boleh jadi petani, atau kerja di toko, harus sekolah di Belinyu. Terserah mau naik sepeda, atau menumpang "oto sekolah" dari Tirus, Gunung Muda.

Warga Sincong termasuk concern di bidang pendidikan. Setelah SMA sekolah ke Jakarta. Walaupunh akhirnya berdagang juga di Jakarta sana. Namun banyak warga Sincong yang merantau. Kungkung, Apho-apho serta Taiji yang tidak suka suasana Jakarte, tetap tinggal di kampung halaman, duduk di depan rumah besar dengan halaman luas dan lampu yang terang benderang. Memakai Kaos Oblong putih Cap Lombok, berkipas duduk-duduk melihat Oto Gobu Belinyu-Sungailiat-Pangkalpinang. Kalau Oto Amin sudah lewat, berarti sudah jam 4 sore, sudah waktunya mandi, makan dan tidur. Itulah rutinitas, sambil menghitung hari, menunggu "Khongian' atau "Sembahyang Kubur", dimana anak-anak beserta menantu dan cucu dengan logat Jakarta akan pulang menjengguk orang tua di kampung halaman.

JEMBATAN BANDUNG (revisi-1) :

JEMBATAN BANDUNG : Lokasi di Kmp.Sincong (Karang Lintang).

Kota Bandung pada jaman tahun-60-70an sangat populer di Belinyu. Jakarta memang ibukota, tetapi bagi karyawan Timah, kota Bandung pada saat itu lebih terkenal. Penyebab pertama, jaman itu TTB sedang jaya-jayanya. Setiap karyawan mendapat jatah cuti 2x satu tahun dan 1x satu tahun untuk pejabat. Fasilitas cuti selama 2 minggu itu, bisa menginap di Jakarta, di Mess Rawasari dan bisa di Mess Timah di Dago. Karena Bandung saat itu suasananya masih nyaman, dingin dan belum disesaki angkot “Dago-dago…kalapa!”, jadi banyak yang cuti langsung ke Bandung. Dan ada kantor perwakilan TTB di Bandung, yang mengurus karyawan cuti dan tugas belajar di ITB.


Dari Pangkalpinang naik “kapal terbang” biasa “seulawah” turun di Bandara Kemayoran, setelah lapor di counter TTB, bisa memilih nginap di Jakarta, di Mess Rawasari atau mau ke Bandung. Jakarta-Bandung, yang saat itu, dikuasai mobil jenis superband “48484”. Jadi Jakarta Cuma buat transit saja.

Kedua, Pejabat PT.Timah kebanyakan lulusan Tambang dari ITB di Bandung, jadi masyarakat Belinyu tahunya Bandung juga. Bahkan pada saat itu, kalau orang Belinyu pergi ke Jawa tetap di sebut ke Bandung. “Mau ke Bandung..” bisa bermakna ke Jakarta atau ke Yogya. Pokoknya kota besar itu tahunya kota Bandung. Apalagi Perguruan Tinggi yang meluluskan Insinyur pejabat Timah itu adalah Bandung. Dan memang pada saat itu banyak orang Bangka yang menyekolahkan anaknya ke Bandung. Sehingga ISBA (Ikatan Siswa Bangka) Bandung termasuk yang tertua selain ISBA Yogya.


Saking terkenalnya kota Bandung di Belinyu, sampai-sampai ada sebuah Toko Foto di Jalan Gajahmada yang bernama Toko” BANDUNG”, (tutup sekitar th.80-an). Toko ini cukup besar untuk ukuran jaman itu di kota Belinyu. Selain sebagai studio foto kelas kampung, di dalamnya terdapat lukisan, taman, serta pagar untuk latar belakang foto. Alat fotonya besar, kaki empat, dan yang moto harus diselimuti kain. Selain itu juga menjual alat2 fotografi, kamera “jepret-jepret”, bingkai foto plastic, alat tulis, serta mainan anak-anak. Pokoknya kalau mau foto kenang-kenangan atau pas foto masyarakat Belinyu pasti ke Toko Bandung ini. Pada jaman itu, foto berwarna termasuk barang mewah, merk film yang terkenal ada dua, yaitu: Fuji Color (hijau) dan Sakura Color dengan dominasi warna Oranye.Untuk pas foto tetap harus hitam putih, yang tepinya digunting bergerigi.


Di Belinyu juga ada sebuah Jembatan beton di bangun di dekat Sincong. Karena saat itu jembatan tersebut udah paling top dan pada saat itu cuma terdapat di kota-kota besar maka jembatan inipun dinamakan masyarakat Belinyu sebagai JEMBATAN BANDUNG. Demikianlah terkenalnya Bandung di mata masyarakat Belinyu.


Jembatan Bandung saat ini, dilihat dari arah Belinyu. Diseberang sebelah kiri ke arah Sincong sana, sekarang terdapat Pomp. Bensin. Juga terdapat Gerbang kota Belinyu.



Gerbang Kota Belinyu, dari Sincong ke arah Belinyu. BELINYU BERSATU, Bersatu tidak berlistrik.



Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa batas Kota Belinyu sebagai Ring-I adalah Ujung Panji, sedang Ring-2-nya adalah Jembatan Bandung. Jadi sudah termasuk sedikit di luar kota. Jembatan ini lebih terkenal sekitar tahun 80-an, pada saat sepeda motor mulai masuk Belinyu. Karena jarak tempuh ke jembatan Bandung tidak jauh lagi. Bahkan kalau malam Minggu, banyak remaja-remaja bermotor dan pacaran di sekitar Jembatan tersebut. Padahal kalau malam, tentu gelap gulita dan tidak ada yg bisa melihat aliran sungai yang senatiasa berwarna “kopi susu” serta pemandangan yang lumayan lapang dan bagus.


Adapun air sungai tersebut berasal dari Gunung Pelawan, Tampo Ijek (dalam bahasa Mapur berarti "Gunung Hijau" terus ke Kusam dan bermuara di Sungai Pasir terus ke Teluk Kelabat. Daerah di sekitar Sungai ini adalah rawa-rawa, jadi jangan heran kalau musim hujan sejak dari Sincong hingga depan rumah Taijan akan terendam Banjir, dan terputuslah transportasi ke Belinyu. Terpaksa siswa-siswa SMP dan SMA dari Sincong, Lumut libur sekolah.


Sejatinya trase jalan dari Jembatan Bandung ini lurus melewati Benteng Kuto Panji, dan tembus di Belakang Kantor Camat Ujung Panji. Jadi dari Bioskop Belia hingga ke Sincong adalah sebuah jalan yang luruuusss..russ.rus. Cuma karena lokasi disitu rawa-rawa, dari jaman purba selalu banjir, akhirnya dari jembatan Bandung itu dibelokkan ke kampung Batutunu, yang memang tanahnya lebih tinggi. Dan lagi benteng Kuto Panji juga sudah tinggal puing, buat apa lewat disitu.


Faktor lain pengalihan jalan ini, karena disekitar hamparan sungai itu adalah daerah cadangan Timah yang kaya, yang apabila jalan dibiarkan, terus banyak bermukim penduduk, suatu saat kalau mau ditambang atau di tempatkan Kapal Darat, tentu akan menimbulkan biaya besar bagi TTB. Makanya hingga kini jalan dari jembatan Bandung itu lewat Kmp.Batu Tunu.Tahun 40-an berakhirlah pengelolaan timah yang dilakukan (Bangka Tin Winning=BTW), TTB jaman Belanda di sekitar situ (dataran hilir jembatan). Karena Cadangan timah sudah tidak effisien di kelola BTW sendiri, sekitar th 50-an dialihkan ke pihak ke-3, yaitu "NV Volkers" (cemacam Kobatin-nya BTW pada saat itu).


Membaca buku "TIMAH INDONESIA" (Sutejo Sujitno) penulis menyimpulkan, boleh jadi Kapal Darat yang pernah beroperasi di Lembah Panji ini, adalah KK Surabaya (ukuran Mangkuk 9 cuft), pada th.1926 itu baru datang dari Galangan Kapal J.K Smith (Inggris), yang kemudian kapal ini di tarik ke Mengkunung daratan.



MENGKUBUNG dan P.MENGKUBUNG (revisi-1):

PULAU MENGKUBUNG: Sebuah Pulau terletak di Teluk Kelabat
KAMPUNG MENGKUBUNG : Bekas Bedeng TTB, tempat perumahan Karyawan Kapal Keruk Mengkubung, terletak di belakang Sincong, di bibir pantai Teluk Kelabat.

Peta Teluk Kelabat

Mengkubung dalam bahasa Belinyu kuno (sekarang sudah jarang terdengar) bermakna "timbun". Mengkubung artinya "tanah yang berbentuk gundukan". Sebuah Pulau di Teluk Kelabat, bernama P.Mengkubung, karena memang pulau itu kelihatan seperti tanah gundukan (kubung) , berbeda dengan P.Nanas yang relatif datar.

Sampai saat ini Pulau ini tidak berpenghuni, walau banyak pohon-pohon buah-buahan dan kelapa. Sesekali hanya disinggahi para nelayan untuk berlindung dari badai yang menyapu teluk kelabat. Apalagi jaman dulu nelayan masih menggunakan dayung dan layar, tentu sulit untuk menghindar badai., kecuali berlindung di pulau terdekat. Beberapa nelayan mengatakan bahwa pulau ini "angker" (sering ada penampakan). makanya nelayan lebih senang berlindung di P.Nanas ketimbang di P.Mengkubung ini, kecuali kepepet.

Kajut, Kmp.Mengkubung, P.Mengkubung, P.Nanas serta Kmp.Pusuk, dilihat dari dermaga Batu Dinding

Selain P.Mengkubung, ada juga suatu daerah yang bernama Mengkubung, yaitu sebuah kampung dibibir pantai Teluk Kelabat. Tepatnya, kalau kita keluar dari S.pasir, di sebelah kanan adalah Bukit Jukung, Pulau Pune , Batu Dinding terus ke Mantung. Sedang di sebelah kiri muara S.Pasir adalah Kajut, (dekat Sungai kajut,) kemudian disampingnya adalah Mengkubung, setelah itu baru muara S.Perimping. Jadi berbeda sekali antara Pulau Mengkubung dan Desa Mengkubung. Desa Mengkubung ini bisa di tempuh melaui jalan darat, masuk dari Kampung Sincong (Karang Lintang) sebelah kanan kalau dari Belinyu.

Di Mengkubung ini, sekitar tahun 40-an adalah tempat operasi Kapal Darat , yang penulis perkirakan adalah KK.Surabaya. Perumahan atau mess karyawan yang terletak di atas bukit, cuma sekitar 20 an saja banyaknya, yang sekarang mungkin sudah tak berbekas lagi. Sejak Kapal Keruk ditarik dari Mengkubung ini, praktis daerah itu menjadi tempat "jin membuang anak". Dan banyak dari warga Belinyu-pun, yang tidak tahu bahwa ada Kampung yang namanya Kampung Mengkubung. Termasuk Gub.Bangka-Belitung, yang mengatakan bahwa di Pulau Mengkubung terdapat perumahan. Padahal mungkin yang dimaksud adalah Kampung Mengkubung.